• Home
  • 29 Oktober 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 29 Oktober 1977

    Pamrih tetap pamrih

    SEBUAH kisah Zen lama bercerita begini: Ada seorang penziarah yang menaiki kudanya dan menempuh pegunungan yang garang, menyeberangi sungai yang deras dan mencahari seorang roshi yang termashur. Ia ingin tahu bagaimana mendapatkan penjelasan yang sejati. Berbulan-bulan lamanya ia mencari, akhirnya ia tahu bahwa sang guru berada di sebuah gua. Ia ke sana. Roshi itu pun mendengarkan pertanyaannya, tapi tidak berbicara apapun. Sang penziarah menunggu, tapi roshi itu tetap tak mengeluarkan kata sepatah pun. Akhirnya, setelah berjam-jam membisu, roshi itu memandang ke arah kuda yang dinaiki sang penziarah. Ia bertanya mengapa sang penziarah tidak lebih baik mencari seekor kuda dan bukannya mencari pencerahan yang sejati. Sang penziarah menjawab bahwa dia sudah mempunyai seekor kuda. Sang roshi tersenyum, lalu masuk ke dalam gua, tak keluar lagi. SEBUAH cerita Leo Tolstoi berkisah kurang-lebih begini: Ada seorang pangeran muda yang gagah di Rusia, seorang siswa terkemuka dalam akademi militer, seorang yang jadi buah bibir orang banyak. Hasratnya untuk bersetia kepada Tsar dibuktikannya dengan menjadi salah seorang ajudannya, dan bersedia mengawini seorang gadis bangsawan cantik yang dipilihkan Tsar baginya. Tapi urung. Ternyata gadis itu bekas gundik Tsar sendiri. Maka pangeran itu pun memutuskan pertunangannya dan menjadi rahib. Di kalangan rohaniawan ini ia pun menonjol karena kekerasan hatinya buat menyempurnakan diri. Tapi tak lama kemudian ia juga terpaksa harus pergi: ia menyesal ia telah mencoba membantah kepala biara karena suatu hal yang mendorongnya untuk membuktikan bahwa ia lebih salih. Ia pun menyendiri dalam hutan, menyucikan diri. Tapi ia tetap jadi buah bibir, terutama di antara para wanita bangsawan. Mereka tertarik akan sosok dan parasnya, meskipun kini ia telah berpakaian rahib. Pada suatu hari di musim salju seorang wanita cantik mencoba menggoda. Ia masuk ke dalam pondok Bapa Sergius. Mata mereka bertatapan dan perempuan itu menangkap api nafsu sedetik di sana. Tapi Bapa Sergius, dengan tangan gementar, mengusirnya. Untuk melawan godaan ia mengambil kampak. Rahib itu memotong jarinya sendiri. Lalu dengan suara serak diusirnya perempuan itu, yang lari terkejut melihat jari yang berdarah. Wanita itu kemudian bertaubat, dan jadi biarawati. Maka termashurlah Bapa Sergius. Ia mulai dikenal sebagai orang suci. Berbondong-bondong para petani datang kepadanya buat mendapatkan penyembuhan atau berkah, dan ia menerima mereka dengan senang. Ia mulai mengganti rotinya yang coklat dengan roti putih yang empuk. Pada suatu hari datanglah seorang ayah membawa anak gadisnya yang sakit aneh. Ayah itu minta penyembuhan. Ketika Bapa Sergius dan gadis itu sendirian tahulah orang alim termashur itu bahwa gadis itu sakit memimpikannya. Ia tak bisa menahan godaan. Yang tak boleh terjadi pun terjadi. Gadis itu kemudian tertidur. Bapa Sergius pun tahu bahwa ia telah melakukan dosa dan ia pun menanggalkan baju pendetanya, menghilang ke arah hutan. Di bawah sebuah pohon ia tertidur dan ia bermimpi. Ia harus datang ke tempat adiknya perempuan tinggal. Mimpi itu juga memberi pesan kepadanya agar ia belajar dari wanita itu. Wanita itu seorang janda biasa yang tak nampak bisa jadi pengajar kerohanian. Ia bekerja saja dengan keras dan rajin buat anak dan menantunya. Tiba-tiba Sergius sadar bahwa begitulah ajaran yang perlu baginya. Ia pun pergi. Pada suatu hari dua orang bangsawan melihat segerombolan fakir menuju ke suatu tempat ziarah. Salah seorang, dari mereka nampak menonjol. Sosoknya tinggi dan paras tuanya tampan. "Siapakah kau?", laki-laki tua itu ditanya. "Hamba Tuhan," jawabnya. Pamrih atas nama batin atau atas nama rohani adalah tetap pamrih. Seringkali kita tidak tahu.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Pamrih tetap pamrih

Ilustrasi

Inas dan si melati dari pasar jati

Seni Rupa

Perpisahan emilio greco

Bagaimana Doniho

Agama

Sebuah "stabilitas" baru

TEMPO|interaktif

Nasional

Tertutup Terhadap Jurnalis, Kapolres Situbondo Diprotes  

Teknologi

Dash'n Knights, Terinspirasi Permainan Gundu  

Olahraga

Beri Selamat ke Chelsea, Duo Spurs Dikritik Fans

Bisnis

Empat Pemerintah Provinsi Kalimantan Mengadu ke DPR

Metro

Ayah Korban Geng Motor Pernah Diperiksa Polisi Militer  

Resep Welbeck Agar Sukses di Piala Eropa  

Olahraga

Chelsea Raup Rp 350,6 Miliar dari Liga Champions

Nasional

Sopir Sumber Kencono Tak Mendapat Bantuan Hukum  

Metro

Ada Fakta Baru Kasus Pelecehan Terkait Habib H  

Keluarga Bisa Lihat Jenazah Korban Sukhoi Tapi Dibatasi  

Teknologi

Perjalanan Gerhana Matahari dari Asia Menuju Amerika  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif