• Home
  • 29 Oktober 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 29 Oktober 1977

    Mengejar Harimau Di Laut Dan Darat

    HINGGA 19 Oktober baru lalu kota Cilacap masih seperti dalam keadaan perang. Suasana tegang di seantero kota mencekam tiap penduduknya. Anggota-anggota pasukan pengendali huru-hara dari Yonif 405 dan Sabhara dari Komres 912 berjagajaga selama 24 jam di sudut-sudut kota. Kesiagaan ini makin memuncak semenjak disebutkan ada rencana beberapa orang untuk membakar gudang bahan bakar (untuk mesin-mesin pukat harimau) yang berdekatan dengan depot minyak Pertamina. Rupanya peristiwa seperti di Muncar dan Bagan Siapi-api terulang lagi di perairan pelabuhan Cilacap, yaitu pertentangan antara nelayan tradisionil dengan nelayan-nelayan pukat harimau. Kejadian ini bermula 14 Agustus lampau ketika jaring dari sebuah perahu nelayan (tradisionil) terseret oleh sebuah pukat harimau (awl). yang dikabarkan belakangan ini banyak berpindah ke perairan Jawa Tengah dari perairan Riau. Akibatnya 3 orang nelayan tradisionil terseret dan dua orang dari mereka (Su'ud dan Saimin) sampai sekarang belum ditemukan. Sang pukat harimau kabur. Lagi pula karena malam, tak diketahui tanda-tanda dan siapa pemiliknya. Tapi ketiga nelayan tadi pasti bahwa kejadian itu berlangsung di perairan kurang dari 3 mil dari pantai, batas yang terlarang untuk pukat harimau. Sayang, bahwa pihak berwajib tak berhasil menangkap maupun mengusut si pukat harimau, walaupun pihak nelayan tradisionil bersikeras mengajukan tuntutan. Merasa kejadian itu diabaikan begitu saja, 6 Oktober malam sebanyak 5 buah perahu bermotor tempel dengan penumpang sekitar 50 orang turun ke laut di sekitar Cilacap itu. Maksud mereka akan menjaring pukat-pukat harimau yang beroperasi di luar ketentuan. Benar saja, malam itu juga mereka memergoki 2 buah trawl dan langsung digiring ke pantai. Setelah terjadi insiden yang menyebabkan Ciu Ciang, Sie Sie Sia dan So Cui Sen dari kedua trawl tadi luka-luka, pukat-pukat harimau tadi dirusak oleh nelayan-nelayan tadi. Beberapa orang dari pihak nelayan tradisionil ditahan. Maka ketegangan suasana mulai terasa di sekitar sana, terutama di dalam kota Cilacap sendiri. Tapi sejauh itu pihak berwajib belum bertindak. Baru ketika 15 (!ktober beberapa orang nelayan tradisionil hendak merusak beberapa trawl di pantai, pihak kepolisian turun tangan. Tapi besoknya sekitar 500 orang nelayan tradisionil ramai-ran1ai mendatangi kantor polisi setempat menuntut agar kawan-kawan mereka yang ditahan dibebaskan dan agar batas tangkap di luar 3 mil dari pantai bagi pukat harimau benar-benar dipertegas. Ketegangan belum terhenti. Tanggal 18 Oktober sore sebuah trawl dikejar nelayan, tapi keburu minta perlindungan pihak polisi Airud di pelabuhan Cilacap. Tapi di daratan, puluhan nelayan mengeroyok Siau Wing alias Kambing di jalan raya. Pemilik trawl ini luka-luka dan dirawat di rumah sakit. Dan hari itu Herman seorang nelayan tradisionil bersama kawan-kawannya berhasil menangkap 2 buah pukat harimau. Perkelahian terjadi di tengah laut. Herman ditahan. Namun besoknya dari arah pantai berbondongbondong sekitar 500 orang nelayan ke kantor bupati dan Komres 912. Mereka menuntut Herman dibebaskan. Tapi tak berhasil, lebih-lebih setelah pihak kepolisian meminta bantuna Yonif 405. Dan ketegangan tetap menghantui penduduk kota Cilacap, terutama kalangan nelayan dan pemilik serta awak-awak pukat harimau. Ketakserasian antara nelayan tradisionil dan nelayan pukat harimau agaknya bukan hal baru di kawasan Cilacap. Seperti diakul sendiri oleh Bupati Cilacap, R. Yunus Kuslan Moekmin (49), sebab "ada 2 jenis nelayan yang mempunya keyentingan sama." Untuk mencegah kejadian serupa itu, memang sudah ada langkah-langkah dari pihak Pemda Cilacap dalam bentuk kredit-kredit tanpa syarat untuk membeli perahu-perahu bermotor bagi nelayan tradisionil. "Terakhir saya memberikan kredit 10 buah motor tempel," ucap Kuslan. Tawaran Pemda Cilacap untuk mendapatkan kredit pembeli trawl tak mendapat tanggapan dari pihak nelayan. Mungkin karenaharga Rp 16 juta untuk sebuah pukat harimau dirasa mereka masih terlalu mahal. Pukat harimau yang beroperasi di perairan Cilacap berjumlah tak kurang dari 170 buah, termasuk pindahan dari perairan Riau. Melalui tempat pelelangan, Pemda Kabupaten Cilacap setiap bulan dapat mengumpulkan retribusi Rp 10 hingga Rp 20 juta.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Pamrih tetap pamrih

Ilustrasi

Inas dan si melati dari pasar jati

Seni Rupa

Perpisahan emilio greco

Bagaimana Doniho

Agama

Sebuah "stabilitas" baru

TEMPO|interaktif

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif