• Home
  • 29 Oktober 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 29 Oktober 1977

    Kini Muncul Apollo

    SESUDAH pukat harimau, para nelayan di kabupaten Asahan (Sumatera Utara) mengenal pula pukat Apollo. Keduanya sama dipakai untuk menangkap udang dan ikan. Tapi adalah jenis Apollo rupanya dikenal paling hebat menguras hasil lautan hingga dikuatirkan Asahan pun menyusul nasib Bagan Siapi-api (Riau). Dulu sebagai penghasil ikan utama, Bagan Siapi-api kini kurang menarik bagi tauke-tauke pukat yang mulai beralih ke Asahan. Mereka telah memasang pukat sampai dekat ke pantai - tak perduli larangan pemerintah -dan menjerat induk udang. "Pembiakan udang akan terganggu kalau pukat itu masih terus beroperasi ke pantai," kata ir. Martin W. Batubara Kepala Bagian Perencanaan Dinas Perikanan Sumatera Utara. Tapi tak pula mudah untuk mencegah mereka, mengingat mereka tak segan menyogok pejabat. Adakalanya mereka dibekali izin juga. Kapal pukat semestinya dilarang beroperasi dalam batas 6 mil dari pantai. Karena induk udang sudah demikian banyak terjerat, ada kemungkinan Sumatera Utara akan mengekspor udang yang berukuran tambah kecil. Sekarang pun sudah mulai kelihatan begitu. Asahan tahun ini ditaksir bisa menghasilkan udang sekitar 6000 ton saja, atau separoh dari jumlah yang dicapai tahun 1975. Perikanan Sumatera Utara menghasilkan $ 31 juta (di antaranya $ 29 juta dari udang) dalam ekspor 1976. Apakah keduanya pukat harimau dan Apollo itu perlu dikenakan Opstib supaya nilai ekspor tidak merosot? "Kita damai-damai jajaIah,'' tauke-tauke pukat biasanya berkata.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Pamrih tetap pamrih

Ilustrasi

Inas dan si melati dari pasar jati

Seni Rupa

Perpisahan emilio greco

Bagaimana Doniho

Agama

Sebuah "stabilitas" baru

TEMPO|interaktif

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif