• Home
  • 29 Oktober 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 29 Oktober 1977

    Inas dan si melati dari pasar jati

    AKHIRNYA, penduduklah yang jadi hakim. Di Kecamatan Astambul dekat Martapura, tinggal seorang pemuda bernama Inas. Ketika berusia 13 tahun, Inas lepas sekolah dasar. Dia kemudian melanjutkan ke Madrasah Darussalam di Martapura. Belum tamat ia belajar, pada suatu hari berkatalah sang ayah: "Tampulu abah masih hidup, segeralah kawin." Artinya, mumpung sang ayah masih hidup ia ingin melihat Inas berumahtangga. Memang Inas anak yang manis dan penurut. Diapun setuju saja dinikahkan dengan saudara sepupunya. Tapi naas bagi Inas, beberapa hari sebelum hari pernikahannya tiba, sang ayah telah melepas nyawanya. Meninggal. Kematian ayahnya bukan merupakan pukulan bagi Inas. Mungkin karena kemudian dia beristeri dan beranak pula. Tapi tahun 1905. lunturlah harapannya. Bukan karena peristiwa G-30-S, tapi isteri Inas meninggal. Nah, sejak itulah jiwanya terganggu. Matilah Dia Keadaan Inas semakin parah. Ketika hari demi hari bertambah juga, gejala penyakit jiwa Inas semakin tampak. Sehingga tibalah suatu hari yang paling naas baginya. Yaitu ketika Harman adik iparnya lewat di depannya. Bersama Harumah ada anak Inas dalam gendongan. Inas bermaksud akan mengambil anaknya dari gendongan si ipar. Haruman berfikir akan menyelamatkan keponakannya dari sang ayah, yang sering ngamuk itu. Inas kemudian mengejar Harumah. Disambarnya sepotong balok ulin dan diadunya ke kepala Haliman. Tersungkur dan matilah dia. Masih untung, anak Inas bisa diselamatkan oleh penduduk yang cuma bisa menonton kejadian itu. Inas sempat mendekam di kamar tahanan selama dua bulan. Dengan dalih sakit ingatan, pengadilan Martapura akhirnya tidak bisa menghukumnya. Inas dipulangkan ke kampungnya. Dan masyarakat memonis lain: Inas harus dirantai agar penduduk tidak terganggu. Agar tidak ada lagi pembunuhan dan agar kampung aman dan damai. Kini sudah 10 tahun lebih Inas dirantai. Pergelangan kaki kanannya seakan sudah menyatu dengan rantai besi yang mulai karatan. Tubuhnya nyaris telanjang dan cuma selembar kain tanpa rupa menutup auratnya. Di emper rumah panggung itulah Inas menanti datang siang dan malam. Selembar tikar, bantal lapuk dan kain jadi kelambu dan selimut baginya. Barang yang terakhir ini mungkin baru saja dipasang, setelah Inas diributkan orang. Inas sendiri, tetap tidak peduli akan keadaan keliling. Kedua tangannya menopang kepalanya. Seakan takut melihat kehidupan, matanya selalu dikatupkan rapat-rapat. Tubuhnya selalu menggigil tanpa sebab. Umurnya kini 35 tahun. Ayah dari tiga orang anak ini semasa mudanya hafal mengaji Qur'an. Tapi penduduk berpendapat bahwa ada "ilmu" lain yang dikajinya, sementara raga dan sukmanya tidak bisa menerima "ilmu" baru tersebut. "Anakku sudah 10 tanhun lebih dirantai," kata Haji Aminah. ibunya. Saudara-saudara Inas sudah berumantangga dan cuma ibu yang setengah pikun dan berusia 70 tahun yang mengurus Inas, bagaikan bayi kembali. Rumah Haji Aminah sendiri berjauhan dengan rumah lainnya. Ibu dan anak ini bagaikan terpisah dan hidup di pulau terpencil. Cuma cinta seorang ibu itu sajalah yang memenuhi rumah panggung yang telah rapuk pula. Baru bulan kemarin, kasus Inas ini diketahui oleh seorang dokter Inpres bernama Yusuf Alirida yang ditempatkan di Kecamatan Astambul. Hal ini dilaporkan pula ke dr. Pandu Setiawan, Kepala RS Jiwa Banjarmasin. Inas sekarang berada di rumah sakit tersebut. Tidak jelas apakah ibunya turut serta tapi soal pasung ini kian sering terdengar. Setelah peristiwa Gustamar di akhir tahun lalu tersingkap di Sumatera Barat telah ditemukan 122 orang yang dipasung puluhan tahun. Dari 122 orang, baru 34 orang yang ditangani dokter dan kemudian dirawat di rumah sakit. Kalau jumlahnya kian bertambah, sulit juga cara menanggulanginya. Biaya pengobatan mtuk kasus pasung ini, tidak termasuk anggaran rumah sakit. Kepada siapa beban ini dipikul? Di Kalimantan, dari 6 kasus yang ditangani rumah sakit Banjannasin, seorang dikabarkan telah sembuh. Hampir bersamaan dengan Inas, telah ditemukan pula seorang wanita yang dipasung. Kedua pergelangan kakinya telah dipasang balok dan di situlah Jahura, perempuan berumur sekitar 50an, tergeletak 15 tahun lamanya. Badannya kurus, mata cakung, tidak pernah bertemu dengan matahari dan di situlah selama ini dia tidur makan dan buang air. "Dia gila," kata Anang Djam, kakak kandung Jahura. Sebetulnya, Jahura tidak pernah mengganggu orang lain seperti halnya Inas. Cuma membikin risau keluarga. "Dia suka lari ke hutan atau ke sungai," tambah Anang Djam lagi. Dulu, kalau sudah berada di sungai, Jahura tahan berendam diri berhari-hari lamanya. Dari pada mati di air atau hilang di hutan, "kami balok dia dan kami bisa tenteram bekerja," kata Anang. Dari rambutnya yang sedikit berombak tapi telah putih semua ini, di raut muka Jahura masih terlihat sisa-sisa kecantikannya. Tidak ada secarik kain pun yang membungkus tubuhnya. Rumah keluarga Jahura yang tidak besar ini dibuatkan sekatan dari kain kembang untuk membedakan dunia Jahura dan dunia yang lebih luas untuk keluarga Jahura. Mahalnya Cinta Melati dari desa Pasar Jati, Kecamatan Astambul ini dulu memang terkenal karena kecantikannya. Banyak yang berkata bahwa Jahura bukan saja melati dari Pasar Jati, bahkan dia bisa memenangkan puteri kecantikan seandainya di kabupatennya, Banjar (Kalimantan Selatan) diadakan perlombaan kecantikan. Gadis tersebut kemudian bermain cinta dengan seorang pemuda dari Barabai yang bernama Sukeri. Manisnya cinta biar pun ditambah dengan pahitnya perang (pendudukan Jepang waktu itu) menikahlah keduanya dengan doa restu dari kedua orangtua. Pernikahan berlangsung setahun sebelum republik ini diproklamirkan. Dua tahun setelah mereka menikah, Sukeri berniat untuk merantau. Dengan alasan barangkali akan mendapat nasib yang lebih baik untuk rumahtangga mereka. Dilepaslah Sukeri tanpa syarat dan Sukeri tidak menyebutkan ke mana dia pergi. Jahura menunggu dan menunggu dengan setianya, sampai tibalah jadwal waktu yang menelan dua tahun. Saat itulah, Pasar Jati muncul dengan berbagai desas-desus. Bahwa Sukeri telah melupakan Jahura, Sukeri kawin lagi di perantauan, Sukeri dibunuh Jepang dan banyak macam isyu lagi. Jahura tahu dan maklum akan desas-desus itu, tapi dia tetap tabah dan tidak menanggapi. Yang ribut justeru keluarganya. Tidak enak menghadapi orang kampung dan tidak senang melihat Jahura ditelantarkan, pihak keluarga Jahura kemudian memanggil naif (penghulu). Kiblat hukum Islam pun diterapkan untuk soal talaq dan cerai. Jatuhlah sudah keputusan naif dan jadi jandalah Jahura tanpa kemauannya. Sejak itulah dia harus membayar mahal cintanya. Jahura lebih suka termenung dan tak jarang mulai menangis dan ketawa seorang diri. Dia dianggap gila. Sejak itu pula, akan memasuki tahun 1950, sudah berbagai dokter, dukun atau kiayi diusahakan untuk mengobati Jahura. Tidak berhasil. "Tak terhitung sudah berapa banyak uang kami habis," kata Anang, "untuk mengobati dia." Lalu bagaimana dengan Sukeri? Ternyata dia tidak mati, tidak kawin lagi dan dia kembali. Tapi apa lacur, naif sudah memutuskan lain dan Jahura miliknya bukan lagi Jahura si kembang melati dari Pasar Jati yang duIu. Isterinya telah dicerai talaq tiga dan sudah gila pula. Sebentar dia mencoba mengobati bekas isterinya ini tapi harapannya sia-sia. Anang kemudian berkata bahwa Jahura bukan saja dibalok sejak 15 tahun yang lalu, tapi sejak sekitar 1950. Saat itu, sesekali dilepas. Tapi begitu balok dibuka, Jahura bagai kuda lepas dari kandang. Dia terus berlari tanpa arah. Mungkin gembira akan kemerdekaan yang didapatnya, tapi keluarganya terlalu kokoh untuk"mengurus"nya. "Dia kami balok," kata Anang sekali lagi, "agar kami bisa tenteram bekerja." Jahura kini ada di rumah sakit Banjarmasin dan akan nasib Sukeri, tidak ada seorang pun yang tahu. Dia pergi dan tidak pernah kembali lagi ke kampungnya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Pamrih tetap pamrih

Ilustrasi

Inas dan si melati dari pasar jati

Seni Rupa

Perpisahan emilio greco

Bagaimana Doniho

Agama

Sebuah "stabilitas" baru

TEMPO|interaktif

Nasional

Tertutup Terhadap Jurnalis, Kapolres Situbondo Diprotes  

Teknologi

Dash'n Knights, Terinspirasi Permainan Gundu  

Olahraga

Beri Selamat ke Chelsea, Duo Spurs Dikritik Fans

Bisnis

Empat Pemerintah Provinsi Kalimantan Mengadu ke DPR

Metro

Ayah Korban Geng Motor Pernah Diperiksa Polisi Militer  

Resep Welbeck Agar Sukses di Piala Eropa  

Olahraga

Chelsea Raup Rp 350,6 Miliar dari Liga Champions

Nasional

Sopir Sumber Kencono Tak Mendapat Bantuan Hukum  

Metro

Ada Fakta Baru Kasus Pelecehan Terkait Habib H  

Keluarga Bisa Lihat Jenazah Korban Sukhoi Tapi Dibatasi  

Teknologi

Perjalanan Gerhana Matahari dari Asia Menuju Amerika  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif