• Home
  • 29 Oktober 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 29 Oktober 1977

    Bagaimana Doniho

    SAMBIL mengutip kata-kata Brancusi: "Hari-hari saya pendek, kerja saya panjang, dan bakat saya tidak selamanya bertahan," muncullah Doniho. 88 buah karya cat airnya berjajar di Ruang Pameran TIM--18 s/d 22 Oktober 1977. Untuk ini ia juga punya komentar: "Ini bukan bagaimana cat air dikerjakan, tetapi ini adalah bagaimana saya mengerjakan cat air." Pameran ini dibuka oleh Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Tetapi karena rupanya sang penyair tidak ingin sama dengan Ajip Rosidi, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, yang biasa berpidato untuk membuka pintu pameran, terjadilah sesuatu yang tidak umum. Waktu pun dia berikan kepada beberapa orang seniman untuk mengeluarkan pendapat mereka -- yang tentu saja kemudian tidak ada hubungannya dengan isi pameran. Daun-Daun Hitam Ada yang mengatakan lukisan Doniho (alumni ITB lulus tahun 1973) tidak bemilai, karena ketidakterlibatannya dengan kondisi sosial masyarakat. Tetapi ada juga yang merasa beberapa lukisan bisa dihargai. Terutama usaha Doniho yang bekerja dengan gaya kwas Cina. Di samping itu garis-garisnya berani dan kuat. Mari kita lihat. Bagaimana Doniho telah mencoba menampilkan wajah-wajah manusia, burung, dengan sapuan-sapuan spontan dan cantik. Tetapi pada beberapa kesempatan ia terdorong menjadi terlalu romantis, sehingga enteng. Ia dengan lihai menjemput sosok obyeknya, menempatkannya dalam komposisi ruang yang cerdik sehingga kelihatan dramatik. Dalam lukisan Daun-daun Hitam dan Sekuntum Bunga Kamboja, agak mengherankan, muncul penahanan diri. Sehingga yang dikejar bukan hanya keindahan. Ini yang menyebabkan dua lukisan yang mencoba memakai teknik sapuan kwas Cina tersebut, berbeda. Bukan semata-mata pameran bagaimana tehnik Cina bisa dipelajari -- tetapi sudah merupakan kesatuan yang tidak memancing-mancing kita untuk memisahkan isi dan teknik. Perpisahan itulah yang terlihat pada lukisan-lukisan Doniho yang lain, terutama untuk obyek-obyek yang diketemukannya di Bali. Kita sudah disuguhi bentuk. Tapi hanya semacam ketrampilan mempergunakan material, ketrampilan mendramatisir sudut pandangan. Tak ada suara yang lain. Doniho juga melukis perahu seperti Zaini dan Srihadi Perahu-perahu dan Perahu vennilion). Beberapa lukisan wajah (Wajah Laki-laki Bali, Wah Penari Kebyar) mengingatkan pula pada lukisan Blanco yang sangat khas dalam memberikan tekanan dengan sapuan putih. Doniho mengaku bahwa wajah amat digemarinya, karena lewat itu ia bisa melihat masa kini, masa lalu dan masa depan orang. Tetapi motifnya tersebut tidak melahirkan apa-apa - kecuali usaha menangkap bentuk dengan ahli. Malahan pada 3 buah lukisan yang diletakkan di belakang meja tamu, ia kelihatan ngepop, sehingga lukisan lebih merupakan Ilustrasl - penggenap darl sesuatu yang justru seharusnya ditampilkan. Darl segi inilah, begitu banyak komentar yang sudah dipasang pelukis ini untuk menambah suara dalam lukisannya, tetap hanya sekitar komentar yang justru seharusnya dimasukkan ke dalam karya pada saat karya dikerjakan. Bukan pada saat dipamerkan. Putu Wijaya

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Pamrih tetap pamrih

Ilustrasi

Inas dan si melati dari pasar jati

Seni Rupa

Perpisahan emilio greco

Bagaimana Doniho

Agama

Sebuah "stabilitas" baru

TEMPO|interaktif

Nasional

Tertutup Terhadap Jurnalis, Kapolres Situbondo Diprotes  

Teknologi

Dash'n Knights, Terinspirasi Permainan Gundu  

Olahraga

Beri Selamat ke Chelsea, Duo Spurs Dikritik Fans

Bisnis

Empat Pemerintah Provinsi Kalimantan Mengadu ke DPR

Metro

Ayah Korban Geng Motor Pernah Diperiksa Polisi Militer  

Resep Welbeck Agar Sukses di Piala Eropa  

Olahraga

Chelsea Raup Rp 350,6 Miliar dari Liga Champions

Nasional

Sopir Sumber Kencono Tak Mendapat Bantuan Hukum

Metro

Ada Fakta Baru Kasus Pelecehan Terkait Habib H  

Keluarga Bisa Lihat Jenazah Korban Sukhoi Tapi Dibatasi  

Teknologi

Perjalanan Gerhana Matahari dari Asia Menuju Amerika  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif