• Home
  • 05 November 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 November 1977

    Pengecam PBB

    ORANG pertama - dan terkhir - yang menggedur mimbar PBB dengan sepatu pastilah Nikita Khruschov. Seperti berteriak di lumbung gandum saja layaknya, asal petani Ukraina ini menghantam habis perbuatan negeri-negeri Barat. Yang memanipulir PBB terhitung sejak perang Korea. Khusus kesekjenan. Sekjen jangan cuma seorang Dag Ha marskjo ong. Mesti tiga sekjen: dari barat, dari negeri sosialis, dari Asia atau Afrika. Baru enak jalannya, seperti kereta salju "troika" yang ditarik oleh tiga ekor anjing. Itu belum seberapa. Walau tanpa buka sepatu dan menggedor mimbar Bung Karno lebih sadis lagi di depan Sidang Umum ke-15 tanggal September 10 itu. Markas besar PBB musti pindah dari East. River di New York. Boleh pilih, Asia atau Afrika paling sedikit Jenewa. Piagam mesti dirombak sudah kelewat kuno. Ambil saja Pancasila. ini pasti lebih baik. Komposisi Dewah Keamanan brengsek, mesti diritul, tidak mencerminkan kekuatan kekuatan baru yang sedang tumbuh. Dan ujung-ujungnya, akibat kehilafan PBB yang diakui sendiri oleh sekjen U Thant dalam hubungan lahirnya Malaysia. Indnesia keluar dari PBB dnn berniat membikin tandingan Conefo di Senayam Mendengar sikap Indonesia ini. Chu En Lai memuja keberanian itu lewat ungkapan tui Tiongkok "bagaikan menepuk pinggul macan" Adalah tahayul dunia bahwa PBB itu Iebat, bahwa PBB itu seperti kumpulan tuan-tuan besar, yang mesti disembah. Buktinya Indonesia keluar. Tak Malu-Malu Ternyata orang Amerika ada juga yang tidak senang kepada: badan dunia itu. Dia senator Barry Goldwater dari Arizona lawan bebuyutan mendiang Presiden Kennedy Mengaku terang-terang sebagai orang konserpatip, tanpa malu-malu dia usul supaya Vietnam Utara dibom atom saja biar kapok. Dan tanpa malu-malu dia ingin supaya Irian Jaya dan kembali ke pangkuan republik. Mengenai PBB, dia bilang mendingan bubar saja daripada hidup terus tidak menentu. Coba saja pikir, AS iurannya paling, besar, tapi suaranya sama dengan Danomei, apa masuk akal. Di matanya, makin lama makin dijejali "orang kampung" yang kerja nya cuma merongrong negeri kaya lewat bendera PBB. Suaranya besar tapi kantongnya kosong. Dan Adam Matik. Entah terpengaruh Bung Karno atau tidak begitu terpilih jadi ketua Majelis Umum begitu meng usulkn perombakan struktur PBB, Khusus Dewan Keamanan dan perihal hak veto. Dunia sudah bukan tahun 1945 lagi. Tidak bisa masalah besar hanya tergantung dari AS atau Inggeris atau Perancis atau Rusia atau Tiongkok yang punya hak veto di Dewan Keamanan itu. PBB bukanlah milik nenek moyangnya. Apa sebab usulnya itu tidak ada kabar beritanya, ini soal lain lagi. Sekarang, pengecam-pengecarn sudah kurangan. Biarpun resolusi-resolusinya banyak yang macet dan tidik digubris negara anggotanya serdiri, badan dunia itu masih tetap jadi tumpuan harapan Orang. Tetap tanpa saingan, apalagi gagasan Canefo tidak kesampaian', dan gedungnya sudah jadi tempat DPR/MPR, dan apalagi yang bikin pening kepata seperti RRT sudah masuk jadi anggota. Kalau dipikir-pikir, sebetulnya gagasan mula kali mendirikan badan dunia ini berasal dari pemimpin-pemimpin negeri yang lagi kebingungan, terlunta-lunta, dan bokek. Mereka itu adalah pemukapemuka Belgia, Ceko, Perancis, Yunani, Luksemburg, Belanda, Norwegia, Polandia, Yugoslaviai dan Inggeris. Karena berhamburan dihalau Nazi Jerman dari daratan Eropa, pedih dan compang-camping, mereka-duduk bersama di London. Alangkah enaknya terbebas dari asa sumpek. Darni serta am seperti ikan dalam akuarium, cukup makan serta cah:lya. Biarpun di antara. hadinn itu terdapat paling sedikit 4 negara kolonial kelas satu yan kerjanya juga tukang tindas, karena sedang ketimpa prihatin, diumumkanlah Inter Allied Declaration, bibit pertama lahirnya PBB. Ini tanggal 12 Juni 1941. Baru dua bulan kemudian Roosevelt dan Churchill bikin Atlantic Charter. Dan baru tahun 1944 ada konperensi Dumbarton Oaks. Dan baru rahun 1945 ada konperensi San Fransisco: Dan baru tanggal 24 Oktober 1945, sesudah lewat ribut-ribut perihal hak veto, 50 negara menandatangani lahirnya PBB, kecuali Polandia yang tak sempat hadir, tapi rnenyusul bubuhi tandatangannya. Dan kalau dipikir-pikir, sebetulnya melarat juga awal mula riwayat organisasi dunia ini. Sebab. sidang Majelis Umum pertana yang berlangsung diondon awal 1946 bukanlaln membahas perihal kemelut dunia atau yang semacam itu, tapi semata-mata soal gedung tempat berteduh. Bukankah tanpa geduung, hatta organisasi dunia sekalipun, tak ubanya seperti kumpulan kakilima? Baru kalau ada gedung, segala pikiran atau pendapat bisa diutarakan sebagaimana mestinya. Untung ada cukong, John D. Rockefeller Jr yang menyelipkan cek $ 8« juta kepada pimpinan Majelis Umum, buat beli tanah seluas 18 acre di pinggir sungai New York. Buat bangun gedung dan tetekbengeknya, pemerintah AS beri pinjaman tanpa bunga S 65 juta. selesai musim rontok 1952. Sedikitnya 5000 pegawai sekretariat kerja di sana. Wisatawan yang mau lihat gedung juga boleh, tapi bayar karcis. Organisasi dunia ini bulan Oktober umurnya 32 tahun. Selamat!

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Ciri angkatan muda

Suka Duka

Di sini menerima kepala orang

Ilustrasi

Katanya meraka ingin mengerti kita katanya mereka ingin mengerti kita

Yang dimakan dan menggigit

Seni Rupa

Vasarely, seni optik zaman bintang

TEMPO|interaktif

Nasional

Tertutup Terhadap Jurnalis, Kapolres Situbondo Diprotes  

Teknologi

Dash'n Knights, Terinspirasi Permainan Gundu  

Olahraga

Beri Selamat ke Chelsea, Duo Spurs Dikritik Fans

Bisnis

Empat Pemerintah Provinsi Kalimantan Mengadu ke DPR

Metro

Ayah Korban Geng Motor Pernah Diperiksa Polisi Militer  

Resep Welbeck Agar Sukses di Piala Eropa  

Olahraga

Chelsea Raup Rp 350,6 Miliar dari Liga Champions

Nasional

Sopir Sumber Kencono Tak Mendapat Bantuan Hukum

Metro

Ada Fakta Baru Kasus Pelecehan Terkait Habib H  

Keluarga Bisa Lihat Jenazah Korban Sukhoi Tapi Dibatasi  

Teknologi

Perjalanan Gerhana Matahari dari Asia Menuju Amerika  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif