• Home
  • 10 Desember 1977
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 10 Desember 1977

    Serangan Di Bengkel

    DALAM suasana kehidupan yang agak berat pada bulan-bulan terakhir ini, orang-orang tua di Lombok dirundung kemelut yang lain pula. Anak-anak mereka yadg berumur antara 1 sampai 6 tahun jadi bulan-bulanan serangan penyakit campak atau morilli menurut istilah kedokteran. Bagi penduduk setempat penyakit itu dikenal dengan nama Edeh. Penyakit yang disebabkan irus ini telah menelan korban 52 bocah dari desa Bengkel pada bulan Agustus yang lalu. Mulai menyerang sejak Juni yang lalu, sampai sekarang masih memburu korbannya dengan angka kematian yang syukurlah semakin menurun. Campak sendiri sebenarnya tidaklah sampai membunuh. Dia mengakibatkan demam tiga atau empat lari. Tapi dengan begitu daya tahan tubuh melemah, pintu pun terbuka untuk, serangan penyakit yang lebih luas. Timbul radang paru-paru atau saluran pernafasan. Terkadang juga radang pada selaput otak. "Komplikasi inilah yang menyebabkan kematian," kata dr Burhanuddin Tayibnapis, Kepala Kantor Wilayah Depkes Nusatenggara Barat kepada pembantu TEMPO di sana. Menurut dr Burhan, sama seperti apa yang dikatakan para dokter umumnya, penyakit campak bukannya tak bisa disembuhkan. Malahan komplikasi yang membunuh itu pun bisa dicegah. Tapi soalnya, menurut pejabat tersebut masyarakat di sana masih tebal kepercayaannya pada pengobatan yang berbau mistik, yang lebih sering tidak menolong. Dan korban pun berjatuhan tak sempat tertolong. "Kami terpaksa menahan para kiyai di kuburan, sebab sudah datang pula korban lain untuk dikubur," cerita Zohdi, kepala kampung Bengkel Utara. Begitulah gambaran cepatnya serangan campak tersebut di desanya. Dia sebutkan pula tentang para penderita di kampungnya itu yang lebih senang berangkat ke dukun daripada ke balai pengobatan. Agaknya bukan hanya kepercayaan yang tebal pada dukun saja yang mengakibatkan korban yang banyak itu, tetapi juga faktor ongkos berobat di balai pengobatan yang dirasakan masyarakat terlalu mahal. Dan harus dibayar dengan uang kontan. Namun begitu, dr Prayoga, pejabat yang mengurusi masalah kesebatan di sana, menganggap pengobatan modern di balai pengobatan cukup murah. "Jauh sebelum wabah itu mengganas kami sudah anjurkan kepada penduduk tak mampu untuk meminta surat keterangan tak mampu kepada pejabat daerah setempat," katanya pula. Menurut ceritanya tarif di balai pengobatan di desa Bengkel sudah diturunkan jadi Rp 100. Dengan harapan mengundang penderita. Tapi ternyata gagal. Prayoga masih menolong terus dengan keluh-kesahnya dalam menjalankan tugas. Katanya untuk melaksanakan suntikan massal dan cuma-cuma bagi mereka yang terserang campak-di desa Bengkel terdapat 256 penderita - mereka masih juga enggan. Kecuali kepala kampung setempat turun tangan. Buat Prayoga untuk waktu mendatang ada baiknya bekerja sama seeratnya dengan kepala kampung dalamprogram penerangan dalam rangka pencegahan penyakit. Sebab kepala kampung itu 'kan lebih tahu jalan pikiran rakyatnya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Pengakuan dan pelanggaran hak asasi

Suka Duka

Sudah saya terima hidup ini

Ilustrasi

Tempat asuhan di siang hari

TEMPO|interaktif

Nasional

Tertutup Terhadap Jurnalis, Kapolres Situbondo Diprotes  

Teknologi

Dash'n Knights, Terinspirasi Permainan Gundu  

Olahraga

Beri Selamat ke Chelsea, Duo Spurs Dikritik Fans

Bisnis

Empat Pemerintah Provinsi Kalimantan Mengadu ke DPR

Metro

Ayah Korban Geng Motor Pernah Diperiksa Polisi Militer  

Resep Welbeck Agar Sukses di Piala Eropa  

Olahraga

Chelsea Raup Rp 350,6 Miliar dari Liga Champions

Nasional

Sopir Sumber Kencono Tak Mendapat Bantuan Hukum

Metro

Ada Fakta Baru Kasus Pelecehan Terkait Habib H  

Keluarga Bisa Lihat Jenazah Korban Sukhoi Tapi Dibatasi  

Teknologi

Perjalanan Gerhana Matahari dari Asia Menuju Amerika  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif