• Home
  • 28 Januari 1978
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 28 Januari 1978

    Ikhtiar demokrasi

    DI SETIAP masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara,tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidak-acuhan. Semuanya teka-teki. Toh setidaknya kita masih membutuhkan pembicaraan dengan diri sendiri. Kita tidak hanya bertindak. Setiap tindakan memerlukan penghalalan. Pada saat kita minta orang lain untuk diam sekalipun, sebenarnya jauh di dalam hati kita ingin agar orang lain itu kemudian membenarkan tindakan kita. Kapasitas kita untuk mengalahkan ingin kita sertai dengan kapasitas kita untuk meyakinkan. Memang, itu tak selamanya bisa terjadi. Tapi adalah wajar bila kita, dengan tindakan kita, ingin dinilai "berhasil" dan serentak itu kita ingin dinilai sebagai "orang baik." Pendeknya, orang lain di luar kita adalah sesuatu yang tak terelakkan, juga sesuatu yang kita butuhkan. Mungkin itulah sebabnya, ada semacam hukum dalam setiap kekuasaan: betapapun hebatnya kekuasaan itu, ia masih tetap membutuhkan orang lain yang bebas. Sang raja yang sendirian di planit kecil dalam cerita Le Petit Prince karya Antoine de St. Exupery yang termashur itu akhirnya toh meminta seorang manusia lain untuk hadir, sebagai rakyatnya. Ia memang tak bisa bertahta hanya bagi langit yang bungkam. Ketika Republik ini didirikan, ia pun tidak dimaksudkan untuk hanya berupa hutan, laut dan pulau-pulau tropis yang membisu. Tertib, tenteram, aman dan makmur memang suatu cita-cita. Tapi sebuah negeri harus selalu siap dengan kenyataan-kenyataan. Bahkan kenyataan-kenyataan yang terkadang nampak semrawut itu barangkali mengandung hikmah. 1 Juni 1945, ketika pidato pertama tentang Pancasila diucapkan, Bung Karno berkata tentang hikmah itu: "Tidak ada satu negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjoangan di dalamnya. Jangan dikira di Turki tidak ada perjoangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah subhanahuwata'ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan kita seharihari, kita selalu bergosok, supaya keluar dari padanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya." Lalu Bung Karno pun menawarkan "prinsip ke-3" dalam Pancasila, yakni musyawa rah. Memang tidak mudah menafsirkan "musyawarah" itu dalam praktek. Dalam mengelola konflik dan perbedaan, kita sering berada dalam dilema. Selalu ada risiko yang tidak terbayangkan sebelumnya. Seluruh sejarah kita sejak 1945 barangkali menggambarkan ikhtiar untuk mencari cara yang terbaik untuk itu--dan kita tak jarang terbentur pada kepahitan. Partai Komunis Indonesia misalnya menawarkan "kediktaturan proletariat." Kartosuwirjo menggerakkan orang untuk suatu "Negara Islam" Sampai sejauh ini ada sesuatu dalam tubuh Indonesia yang berhasil menolak kedua-duanya. Orang boleh memperdebatkan, apa sebenarnya sumber daya tolak "sesuatu" itu. Yang jelas: ia bukan semata-mata senjata. Barangkali ia adalah suatu kenyataan yang sederhana saja. Kenyataan itu, yang tumbuh dari keaneka-ragaman Indonesia yang menyebabkan Pancasila lahir, menuding: tidak ada suatu kekuatan pun bisa memonopoli Indonesia. Inti dari ikhtiar demokrasi adalah itu. Tentu saja ikhtiar itu sewaktu-waktu bisa seperti kandas. Namun ia tak bisa kandas tanpa jejak. Dalam Padang yang becek oleh salju, ketika Jerman memusnahkan musuh-musuhnya, orang pun masih bisa tegak, dan menulis: "if or lot is complete annih ilation, let us not behave in sucha way that it seems justice."

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Ikhtiar demokrasi

Buku

Perjalanan dalam penjara

Reportase mochtar

Seni Rupa

Seni Rupa Dan Protes Sosial

Ilustrasi

Untuk memaki atau cari duit

Untuk memaki atau cari duit

Kanker gurun di pinggang afrika

Agama

Ratu adil model irian

TEMPO|interaktif

Nasional

Tertutup Terhadap Jurnalis, Kapolres Situbondo Diprotes  

Teknologi

Dash'n Knights, Terinspirasi Permainan Gundu  

Olahraga

Beri Selamat ke Chelsea, Duo Spurs Dikritik Fans

Bisnis

Empat Pemerintah Provinsi Kalimantan Mengadu ke DPR

Metro

Ayah Korban Geng Motor Pernah Diperiksa Polisi Militer  

Resep Welbeck Agar Sukses di Piala Eropa  

Olahraga

Chelsea Raup Rp 350,6 Miliar dari Liga Champions

Nasional

Sopir Sumber Kencono Tak Mendapat Bantuan Hukum

Metro

Ada Fakta Baru Kasus Pelecehan Terkait Habib H  

Keluarga Bisa Lihat Jenazah Korban Sukhoi Tapi Dibatasi  

Teknologi

Perjalanan Gerhana Matahari dari Asia Menuju Amerika  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif