• Home
  • 28 Januari 1978
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 28 Januari 1978

    Seni Rupa Dan Protes Sosial

    SECARA selintas saja, kalau orang mengingat-ingat pameran seni rupa anak-anak muda dua tahun terakhir ini kayaknya ada satu hal yang mendapat tekanan lebin keras: hadirnya protes sosial dalam karya-karya seni rupa. Itu sangat dirnungkinkan dengan diterobosnya batasan seni rupa yang membagi-bagi antara seni lukis. seni patung seni foto, seni grafis, seni ukir. Kebebasan menggunakan media membuat protes bisa hadir secara luwes. Seni rupa itu bisa apa saja--demikian mungkin kata mereka, meskipun kenyataannya masih juga terbatas pada penyuguhan bentuk bagi mata. Perkembangan itu belum sepenuhnya "lari" dari itu, misalnya saja belum ada yang menyuguhkan melulu ide murni, tanpa penampilan perwujudannya. Yang sering menjadikan orang menentang protes dalam karya seni rupa bukanlah karyanya itu sendiri, tapi pernyataan senimannya - yang memang seringkali berlebihan. Misalnya dalam Pameran Presentasi Januari 78 di Balai Budaya, 17 sampai dengan 21 Januari ini. Dalam katalogus stensilan pameran tersebut, tertulis demikian: "prinsip saya tentang seni adalah, bersumber pada pemikiran bahwa seni seharusnya mengangkat pemasalahan sosial," itu menurut Hardi, pelukis jebolan STSRI "Asri" Yogya. Taruhlah kata "seharusnya" di situ diganti dengan kata "boleh saja", maka kemungkinan ada perdebatan mengenai sesuatu yang tak perlu itu bisa dicegah. Panggilan Kopkamtib Dan pameran itu sendiri hanyalah memamerkan foto-foto, kebanyakan foto aksi mahasiswa tahun 1966. Ada juga foto Robby Cahyadi -- itu pedagang mobil yang diadili, ada juga foto-foto penertiban trotoar oleh Team Penertiban DKI-Jaya, ada juga beberapa lembar foto kopi harian Pelopor Yogya, tanggal 25 Januari 1974, yang memuat "Lelayu" atas dibredelnya beberapa mass media ibu kota, antara lain harian Indonesia Raya, Pedoman. Tidak hanya begitu, sebab beberapa lembar foto kopi yang ditempel berjajar itu di bagian agak tengah-tengahnya ditempel poret Adam Malik, Ketua MPR sekarang, dan di bagian hawah ada dua lembar surat panggilan Kopkamtib yang nama terpanggil diblok denan tinta hitam. Pameran fotokah itu? Nanti dulu. Foto-foto di situ tidak hanya ditempel saja, tapi dibubuhi coretan-coretan: ada yang dilingkari pinggirnya, ada yang diarsir gambarnya, ada yang diwarna wajah-wajah dalam foto yang ditempel. Dengan demikian, cara menyusun fotofoto itu dan coret-coret pada foto-foto itu kiranya lebih penting daripada fotonya sendiri. Tapi tentu boleh saja jika yang memamerkan foto-foto itu bermaksud memberikan komentar lewat pameran ini, misalnya saja: betapa perjuangan tahun 66 telah dikhianati oleh beberapa eksponennya kini, betapa siasianya korban dulu itu dan sebagainya. Kalau kita membaca nama-nama yang aktif dalam pameran ini, ternyata tidak semuanya senimn--paling tidak bukan orang seni rupa. Ini hanya membuktikan bahwa protes sosial dalam seni rupa bukanlah sesuatu yang istimewa. Sesudah puisi, agaknya seni rupa ikut menjadi alat bagi siapa saja untuk protes. Kiranya itu hanyalah merupakan ekses, yang diakibatkan oleh musim protes-protesan yang lagi mode. Yang perlu dicatat dari karya-karya seni rupa protes (karya yang serius, yang ditampilkan dalam acara kesenian dan bukannya acara di luar kesenian) selama ini adalah penyuguhan bentuknya. Agaknya gairah untuk protes lebih besar daripada dorongan untuk melahirkan karya yang baik -- tidak semua, tentu. Karya Gendut Riyanto dalam Pameran Pelukis Muda Desember yang lalu misalnya, baru bisa ditebak apa maksudnya kalau kita baca tulisan pada karya itu, yang berbunyi kurang lebih demikian: tuhan mengapa tidak kau tolong dia. Tanpa tulisan itu, satu karya yang berujud kotak kuning tegak dan ada alat transfusi darah terpancang di atasnya, susah sekali diperkirakan mengapa benda semacarn itu disebut karya seni rupa. Dan karyanya itu sendiri, sebagai bentuk ia hanya memberikan semacam simbol, sementara secara organis karya itu sama sekali tak menimbulkan imaji apa-apa: barang yang dionggokkan, begitu sajalah. Terlalu Bersih Juga karya Priyanto yang begitu rapi jali, menyuguhan peta Indonesia yang dijungkir balik, yang maksudnya menilai siapa-siapa yang menguasai Indonesia kini: kita atau perusahaan-perusahaan multi nasional. Bagi saya, Priyanto lebih bisa berhasil dengan karya-karyanya yang mengandung humor. Karyanya yang protes itu terlalu bersih, kering tanpa imajinasi. Hanya memb uktikan bahwa kehendak protesnya lebih kuat daripaaa menyuguhkan karya. Mustinya protes atau ide apa pun dalam karya seni bukanlah sesuatu yang eksplisit jelas dan sepenuhnya menjadi nafas karya itu. Mustinya protes itu implisit di dalam karya. "Pabrik"nya Munni Ardhi dalam Pameran Seni Rupa Indonesia Baru 1977 yang lalu adalah sebuah contoh. Tanpa menyatakan secara jelas maunya, sebuah karya yang berujud kaleng minyak tanah yang dibuka sedikit bagian atasnya dan terlihat di situ boneka-boneka yang tumpang tindih, justru lebih bisa mengetuk batin kita. Sebab karya seni adalah karya seni. Hanya dengan mempertimbangkan fungsi sosialnya saja tidaklah berarti memecahkan masalah nilainya. Agaknya para seni rupawan yang suka protes itu melupakan satu hal: bahwa manusia mempunyai kemampuan membedakan yang baik dari yang buruk--manusia mempunyai perasaan estetis. Dengan menekankan pada protesnya dan melupakan keseniannya, yang ada hanyalah semacam berita dalam koran atau poster yang diacung-aoungkan oleh demonstran - dan koran dan demonstran jelas lebih efektif protesnya dari pada karya seni di Indonesia kini. Bambang Bujono

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Ikhtiar demokrasi

Buku

Perjalanan dalam penjara

Reportase mochtar

Seni Rupa

Seni Rupa Dan Protes Sosial

Ilustrasi

Untuk memaki atau cari duit

Untuk memaki atau cari duit

Kanker gurun di pinggang afrika

Agama

Ratu adil model irian

TEMPO|interaktif

Nasional

Tertutup Terhadap Jurnalis, Kapolres Situbondo Diprotes  

Teknologi

Dash'n Knights, Terinspirasi Permainan Gundu  

Olahraga

Beri Selamat ke Chelsea, Duo Spurs Dikritik Fans

Bisnis

Empat Pemerintah Provinsi Kalimantan Mengadu ke DPR

Metro

Ayah Korban Geng Motor Pernah Diperiksa Polisi Militer  

Resep Welbeck Agar Sukses di Piala Eropa  

Olahraga

Chelsea Raup Rp 350,6 Miliar dari Liga Champions

Nasional

Sopir Sumber Kencono Tak Mendapat Bantuan Hukum

Metro

Ada Fakta Baru Kasus Pelecehan Terkait Habib H  

Keluarga Bisa Lihat Jenazah Korban Sukhoi Tapi Dibatasi  

Teknologi

Perjalanan Gerhana Matahari dari Asia Menuju Amerika  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif