• Home
  • 29 April 1978
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 29 April 1978

    Kemana Setelah 3 Bulan ?

    BERITA mengenai kelaparan di beberapa desa di Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Flores, masih terdengar terus. (TEMPO 1 April 1978). Baik sebelum maupun sesudah kunjungan Menteri Sosial Sapardjo pertengahan bulan ini, bantuan mulai mengalir untuk mereka yang malang itu. Di Jakarta sendiri, dengan pimpinan drs. Frans Seda, bekas Menteri Perhubungan dan kini anggota DPA serta kelahiran Maumere, Flores, cepat mengumpulkan dana. Dia membentuk Aksi Daflo (Dana Flores) yang berkantor di Universitas Atmajaya. Sejak aksinya itu Aksi Daflo telah mengirim berbagai bentuk sumbangan makanan, pakaian maupun obat-obatan. Sementara itu Perhimpunan Mahasiswa Untuk Studi Kependudukan & Kegiatan Keluarga Berencana Di Indonesia yang berpusat di Bandung menganjurkan semua kalangan agar melakukan aksi puasa merokok dan puasa memakai alat-alat kosmetik. Taman Gizi yang didirikan akhir Pebruari di Wolofeo (di Desa Renggarasi) hingga akhir Maret telah menampung hampir 150 orang anak--berikut orang-orang tua mereka yang menunggui. Di sini dirawat anak-anak yang berada dalam keadaan gizi paling buruk. Di antaranya 3 orang anak telah meninggal karena keadaannya sudah terlampau parah. Menurut rencana anak-anak di Taman Gizi ini akan dirawat selama waktu 3 bulan, selanjutnya dikembalikan kepada orang tua atau keluarga mereka masing masing jika kesehatannya sudah pulih. Hal ini karena Taman Gizi sendiri tampaknya tak cukup biaya, apalagi fasilitas untuk merawat anak-anak itu lebih lama. Sehingga kemudian timbul pertanyaan, bagaimana orang tua atau keluarga anak-anak itu akan mengasuh mereka, jika keadaan seluruh keluarga sendiri sedang sama-sama ditimpa lapar? Barangkali karena ini pula ada sejumlah keluarga di Maumere yang telah menyatakan kesediaan mereka untuk memelihara anak-anak itu kelak untuk jangka waktu setahun atau lebih sampai orang tua si anak mampu menerima anaknya kembali. Janda Bela d.i.i Leo Kleden, Pembantu TEMPO di Maumere yang belum lama ini mengunjungi beberapa desa yang sedang ditimpa kelaparan itu menuliskan beberapa petikan wawancaranya dengan beberapa wanita yang sedang menunggui anak-anak mereka yang dirawat di Taman Gizi Renggarasi. Bela, seorang janda dengan 2 orang anak (Sia dan Mbele masing-masing 5 dan 2 tahun), sudah hampir putus harapan untuk hidup terus sebelum dibawa ke Taman Gizi. Kedua anaknya kurus-kurus, tulang rusuk menonjol keluar dan dengan rambut hampir gundul karena rontok. Rumah janda Bela di Kampung Wololeba, Desa Bu Utara, berikut ladang jagungnya telah hancur diamuk badai selama 12 hari di bulan Januari lalu. Dua bulan lamanya sejak itu mereka hanya memamah daun-daunan yang mereka kumpulkan dari hutan. Mereka dirawat di Taman Gizi sejak pertengahan Maret lalu. Pemba, ibu dari seorang anak yang paling kurus dan lemah penghuni Taman gizi. Tungkai kaki si anak tinggal sebesar empu jari orang dewasa. Suami Pemba sekarang berada di Maumere untuk mencari pekerjaan sebagai buruh kasar. Ketika rumah dan kebun mereka binasa sang ibu merasa kiamat seolah-olah telah datang. Untung kemudian ada tetangga yang mau menampung keluarga itu untuk sekedar berteduh. Untuk makan harus mencari umbi-umbian atau daun-daunan di hutan. Pemba sempat menuturkan nasib seorang ibu dengan 3 orang anak, juga di Kampung Waloleba. Yang sulung bernama Ruri, 9 tahun. Ketika makanan di rumah mereka sudah habis, si ibu harus pergi ke Watuneso, kampung lain yang berjarak 30 km. Sebelum berangkat si ibu berpesan kepada Ruri untuk menjaga kedua adiknya. Si ibu meninggalkan sedikit pucuk labu sebagai bekal untuk makan anak-anaknya. Satu setengah hari kemudian si ibu pulang membawa beras. Yang didapatinya memang Ruri yang setia menjaga adik-adiknya. Sebab ternyata anak itu telah meninggal dunia beberapa jam yang lalu dan sedang diratapi kedua adiknya. Nusa, seorang anak berusia 15 tahun, meskipun tampangnya seakan masih berusia 9 tahun. Ia anak yatim piatu di Desa Watuneso. Kedua orang tuanya meninggal sewaktu ia masih kecil, sehingga ia dipelihara kakak wanitanya yang sudah berkeluarga. "Kakak sangat kcjam terhadap saya" tuturnya "tiap saya pulang sekolah saya tidak diberi makan. Karena itu suatu kali saya mencuri jagung di kebun orang. Ketahuan dan saya dipukul setengah mati." Sejak itu Nusa numpang hidup di rumah seorang perempuan tua di' Desa Watuleke. Tapi karena yang ditumpanginya juga susah makan, akibatnya pertengahan Maret lalu Nusa harus dirawat di Taman Gizi. Tampangnya semula pucat pasi, mengidap penyakit malaria, cacing, bisul dan tentu saja lapar. Untung setelah beberapa hari dirawat di Taman Gizi, tubuh Nusa mulai tampak "hidup" lagi.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Sosok sebuah pribadi

Agama

Kurikulum Itu-Sambil Menunggu

Suka Duka

Umar Menangis Di Pematang

Ilustrasi

Berselimut kulit kayu, hangat !

Seni Rupa

Hilang Dalam Gerak

Hilang dalam gerak

TEMPO|interaktif

Nasional

Tertutup Terhadap Jurnalis, Kapolres Situbondo Diprotes  

Teknologi

Dash'n Knights, Terinspirasi Permainan Gundu  

Olahraga

Beri Selamat ke Chelsea, Duo Spurs Dikritik Fans

Bisnis

Empat Pemerintah Provinsi Kalimantan Mengadu ke DPR

Metro

Ayah Korban Geng Motor Pernah Diperiksa Polisi Militer  

Resep Welbeck Agar Sukses di Piala Eropa  

Olahraga

Chelsea Raup Rp 350,6 Miliar dari Liga Champions

Nasional

Sopir Sumber Kencono Tak Mendapat Bantuan Hukum

Metro

Ada Fakta Baru Kasus Pelecehan Terkait Habib H  

Keluarga Bisa Lihat Jenazah Korban Sukhoi Tapi Dibatasi  

Teknologi

Perjalanan Gerhana Matahari dari Asia Menuju Amerika  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif