• Home
  • 05 Agustus 1978
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Agustus 1978

    Bisnis sambilan kyai ashari

    ASHARI bin Sueb berusia 36 tahun. Laki-laki asal Bumiayu ini tidak betah tinggal di kampungnya. Keluarganya bahkan menggolongkan dia sebagai kambing hitam dari keluarga karena mempunyai kegemaran yang tidak jamak untuk daerahnya: merantau. Tahun 1967, Ashari sampai di Kupang. Tahun itu juga keluarganya pernah memintanya pulang, karena dia akan diangkat jadi kiyai atau ulama. Tapi Ashari menolak tawaran ini dan tetap saja menetap di Kupang dan menjelajahi hampir seluruh Nusa Tenggara Timur. Usahanya merantau ini toh tidak sia-sia sama sekali. Karena ia juga jadi kiayi di rantau. Ashari, mencoba dengan caranya sendiri untuk menyebarkan agama Islam. Dari hasil perantauan ini, ia mencari usaha sambilan. Yaitu mencari ular yang bisa diperjual-belikan. Dia beli pada si penangkap ular dan kemudian dijualnya kepada si pemesan. Sekitar 20 macam jenis ular selalu dicari orang, antara lain kobra, phyton, ular hijau (trimeresurus albolabis) dari bermacam-macam jenis, misalnya ular hijau yang mempunyai kepala segitiga dan berbibir putih, atau bibirnya tidak putih. Lobang, Aman Menurut Ashari, ular phyton timorensis adalah ular yang cukup mahal harganya. Ular jenis ini tidak panjang, cuma sekitar satu meter, tapi adanya cuma di Timor. Cara mencarinya, boleh dibilang tidak susah. Biasanya diburu pada malam hari di bawah rumpun-rumpun bambu. Begitu ada cahaya mendekat, ular-ular yang sedang bergelantungan di batang bambu kontan meluncur turun ke bawah dan ini mudah dilihat karena kulitnya mengkilat indah. Biasanya mereka main tangkap saja, tanpa ragu-ragu. "Ular selalu takut pada manusia," ujar Ashari, "dan kalau kita takut, bahkan dibelit dan digigit." Phyton timorensis tidak berbisa. King Cobra adalah raja ular yang menakutkan. Ular yang satu ini dicarinya siang hari. Tentu, bukan dia sendiri yang menangkap. Ashari cukup duduk tenang-tenang di rumah dan mereka yang membawa King Cobra ke hadapannya akan mendapat imbalan Rp 1.000. Bagi mereka yang melihat dan cuma memberi tahu di mana di suatu tempat ada si raja kobra, Ashari memberinya Rp 500 kalau sang ular telah tertangkap. Memburu ular, susah-susah gampang. Orang Timor biasanya memburunya sampai si ular masuk ke sebuah lobang. Begitu dia masuk lobang, berarti penangkapan lebih aman dan gampang. Lobang kemudian digali sedikit demi sedikit. Begitu tampak ekornya mencuat, dibetotlah kuat-kuat. Tangan yang satu langsung mencekal kepala ular. Langsung masukkan kantong terigu dan aman. Uang ribuan pasti di tangan. Ashari biasanya menangkap ular yang panjangnya tidak lebih dari dua meter. Lebih panjang dari itu, dianggap tidak ekonomis. Artinya, sulit untuk menaruhnya. Tapi kalau saja ada yang berhasil menangkap ular yang panjangnya 5 meter, dengan senang hati akan diterima Ashari dan dibuatlah tempat khusus. Pernah, Ashari mendapat 2 ekor phyton panjang lebih dari 5 meter. Seekor dibiarkan hidup dan dibuatkannya kandang dan seekor lagi terpaksa dibunuh untuk diambil kulitnya. Satu tahun ular yang dalam kandang itu dibiarkannya, eh, malah bertelur. Dari telur-telur itu, menetas 8 ekor ular kecil dan karena takut dia tidak sanggup merawatnya, bayi-bayi ular itu dilegonya ke Jakarta. Untuk penduduk Timor, ular -- terutama jenis phyton -- sama jahatnya seperti wereng di Jawa. Yaitu musuh para petani, karena sang phyton selalu melilit batang-batang padi yang untuk kawasan Timor bagaikan tanaman emas, karena sulit ditanam. Buaya, Kalajengking Dari urusan ular, Ashari pindah ke bisnis buaya. Di rawa-rawa di bulan-bulan Mei, Juni dan Juli, adalah saat yang baik untuk menangkap anak buaya yang baru saja menetas. Mereka menangkap buaya kecil yang panjangnya tidak lebih dari 25 cm. Kalau di Jakarta, Ashari berhasil menjual bayi buaya ini seharga Rp 7.500 seekornya. "Tapi bisnis buaya ini hanya sambilan," kata Ashari, "tak bisa diharapkan sekali." Sebab tidak bisa sembarang waktu mengharapkan telur-telur buaya menetas. Keluarga buaya yang secara teratur ber-KB ini yang membuat sedikit sulit untuk lebih menggalakkan bisnis buaya. Biasanya, mereka mencari sasaran buaya gede. "Cari saja bangkai anjing atau anjing hidup," kata Ashari. Anjing itu diikat dengan tali dan ujung tali diberi kaleng dan kaleng diletakkan di pinggir rawa. Tandanya kalau buaya telah makan anjing atau bangkai anjing ialah kaleng itu sudah tersembul di permukaan rawa. Secara beramai-ramai, buaya itu diburu. Begitu tertangkap dikulitilah dia. Ashari rupanya memegang peribahasa tak ada rotan, akarpun jadi. Kalau sulit mencari ular atau buaya, Ashari tak habis akal. Segala jangkrik, laba-laba atau kalajengking, dikumpulkannya. Jenis binatang yang terakhir inipun laku di Jakarta. Sesekali, burung kakatua juga dicarinya. "Burung kakatua di sana juga jadi hama," kata Ashari. Karena mereka mematuki jagung yang manis-manis pulen itu dan yang menjadi makanan pokok penduduk Timor. Belakangan, burung kakaktua jadi burung lingdungan. Demikian pula burung bayan, sehingga hanya sesekali saja Ashari bisa membeli dan menjual kembali jenis-jenis burung larangan. Sementara binatang yang namanya komodo dan kuskus, sejak dahulu sudah diketahuinya sebagai binatang lindungan yang tak boleh dijamah. Biarpun kadang-kadang bisa juga diselundupkan keluar kalau kebetulan ada kapal yang datang dari Hongkong memuat sapi yang akan diekspor. Gombal Mahal Tahun 1976, usaha Ashari tentang berbagai binatang dirasakan mundur. Dia juga tidak pernah lagi menceritakan bagaimana misinya sebagai kiayi. Dia kemudian bertemu dengan seorang Venezuela yang lama menetap di Italia. Karena Ashari hafal betul pelosok NTT, orang tersebut minta Ashari untuk mengantarnya ke pedalaman. Dia jadi penunjuk jalan dan orang asing itu ternyata mencari kain-kain kuno dari daerah setempat. Yang dicarinya ialah kain pintalan asli dan yang diberi zat pewarna asli pula. Kain-kain bekas dari Sabu, Sumba, Flores dan dari mana saja, dibelinya. Semakin tua gombal itu, semakin mahal harganya. Karena orang sana belum tahu maksud si orang asing membeli gombal, harga seribu dua pun dilepaslah. Ashari menjadi pengantar dua minggu lamanya. Dan barulah tahu Ashari bahwa kain yang dikumpulkannya dari pelosok kampung itu, bisa dijual paling tidak dengan harga Rp 60.000. Inilah yang membuat Ashari terkesimak! Apalagi Ashari biasanya hanya mendapat upah Rp 7.500 kalau berhasil mengumpulkan 20 lembar kain NTT bekas. Sepeninggal si orang asing, Ashari bergerak sendiri. Bahkan gerakannya ini cukup cepat, yaitu kalau dia melihat orang di jalan mengenakan sarung asli, kontan ditanya apa sarung yang dipakai itu mau ditukar dengan beberapa lembar ribuan. Biasanya Ashari menyediakan pula baju baru untuk mereka yang mau mencopot sarung yang sedang dipakainya itu. Jamaknya pula, karena terpukau oleh barang baru dan lebih cemerlang warnanya, si pemakai kain sarung tua (tapi tenun asli sana) lantas kepengin akan baju baru yang disodorkan Ashari. Uang lembaran ribuan tiga biji dan sehelai baju baru, jadilah. Dan Ashari memperkirakan mendapat untung Rp 10.000 untuk selembar transaksi ini. Urusan gombal-gombal ini ternyata lestari sampai sekarang jadi periuk nasinya. Ashari menjualnya mulai dari harga Rp 10.000 ke atas, tanpa batas. "Bahkan ada sebuah gombal yang ditawar Rp 500.000 selembarnya, pemiliknya tak mau melepaskan," cerita Ashari -- kalau saja ini benar. Patokan kain dengan harga keras ialah hasil tenunan lama makin tua makin mahal, biasanya warnapun sudah lusuh. Tambah Ashari lagi: "Biasanya, kain yang beginian ini, baunya bukan main. Maklum tak pernah dicuci sejak dulu."

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Perpecahan Pemimpin PKI

Ilustrasi

Bisnis sambilan kyai ashari

Seni Rupa

60 Duplikat Amri Yahya

Pas-Pasan, Mas

Tari

Yang terbaik dari australia

Suka Duka

Makan dari rezeki harimau

Buku

Terjemah qur'an, dengan bisikan

Perbandingan dua terjemah

TEMPO|interaktif

Olahraga

Sriwijaya FC Tekuk Persiwa 3-2  

Olahraga

Rahasia Sukses Cech Hadang Penalti Muenchen

Teknologi

IM2 Tawarkan Pemasangan Gratis UKM Broadband

Sakit, Penahanan John Kei Dibantarkan

12 Tahun Menanti Subak Jadi Warisan Budaya

Seni & Hiburan

Sikap Menteri Gamawan Melunak Soal Lady Gaga  

Nasional

Dua Bekas Pejabat PT KAI Jalani Sidang Pertama

Bisnis

Produksi Gas Pertamina Hulu Ditarget Naik 13 Persen

Seni & Hiburan

Polri Jamin Keamanan Konser Lady Gaga  

Opick: Musikalisasi Lady Gaga Asik  

Bisnis

Pemerintah Cari Utang Luar Negeri US$ 5 Miliar

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif