• Home
  • 05 Agustus 1978
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Agustus 1978

    Makan dari rezeki harimau

    PARA pejabat, yang gemar mengurus batu di samping mengurus jabatan, biasanya memilih batu tapak jalak. Tapak jalak hitam, orang kata mempunyai terapi psikologis membuat pemiliknya memiliki sikap tegas, begitu. Batu ini ditandai oleh dua garis yang saling melintang membelah muka batu jadi 4 bagian. Warna garis kadangkala putih, merah, atau kuning. Tukang-tukang batu di Jalan Hiligoo, Padang, memiliki banyak cerita tentang batu jalak yang menunjukkan bahwa batu akan memiliki potensi yang tak terduga. Batu yang lain bernama cimpago. Khasiatnya pemiliknya bisa jadi genit. Adapun kalau seseorang inin kesehatannya dingin, dia harus menyimpan sebuah batu lumut kehijau-hijauan. Arkian, para pedagang batu itu tiba-tiba menjadi teoritikus yang menyimpulkan bahwa seorang pejabat sebaiknya memiliki sikap tegas, genit dan berkesehatan dingin. Artinya mereka harus membeli tapak jalak, cimpago dan sebuah batu lumut. Dikalahkan Tikus Setiap siang, pagi dan sore, banyak orang berkerumun di Hiligoo. Tidak semuanya pejabat. Mereka bertemu di sepanjang kaki lima menghidupkan 'pasar batu' yang harganya tak bisa dikendalikan oleh KADIN. Ongga, seorang pengasah batu yang menunggu kaki lima itu selama 3 tahun, mengatakan bahwa harga dikendalikan oleh perasaan. Suka atau tidak suka. Sebuah tapak jalak yang sama, pada masing-masing pembeli memiliki arti dan harga sendiri-sendiri. Satu orang hanya berani menghargainya Rp 30 ribu yang lain bisa Rp 100 ribu. "Bukan tidak mungkin pula setengah juta," kata Ongga kepada Muchlis Sulin dari TEMPO. Angka-angka sederhana yang tiba-tiba bisa meloniak dengan fantastis ini, memang merupakan akrobat yang merubah hidup beberapa orang untuk menjadi tukang asah batu. Ongga sendiri (40 tahun), asal Pariaman, pada awalnya seorang petani biasa. 3 tahun yang lalu daerah Sungai Limau, tempat Ongga mencangkul, diserbu tikus. Ongga kalah. Lalu lari ke Padang mencari sumber baru. Tapi karena basis pendidikannya hanya sekolah rakyat, pintu untuk menjadi pegawai negeri sama sekali mustahil. Ongga herhenti sebentar di Jalan Hiligoo untuk mengambil nafas. Ia mematikan mimpinya jadi pegawai -- lalu bersiap menjual tenaga. Ia mulai sebagai buruh. Kadangkala bekerja untuk bangunan, kadangkala angkat barang-harang di dekat Terminal Lintas Andalas. Penghasilannya jauh dari cukup. Ia sangat iri melihat transaksi batu di Hiligoo. Lalu dipelajarinya seluk-beluk kerja seorang tukang asah, sambil sedikit-sedikit menabung untuk menyiapkan peralatan. Pada suatu kali, uang Ongga cukup untuk membeli sebuah roda sepeda, sebuah gerinda, dan seperangkat alat-alat kecil. Sejak itu, setiap pagi ia berjuang memasuki kesibukan bisnis batu. Kini, setelah tiga tahun, Ongga sudah bisa memakai kaca mata riben. Bukan lagi seorang petani yang kalah melawan tikus. Melainkan seorang pengasah batu dengan 5 orang anak, tampan, dan menguasai bidangnya. Ia tahu semua jenis batu yang komersiil. Segala macam khasiat dan untuk siapa batu-batu itu tepat menurut "ilmu batu". Dengan sangat sadar diakuinya bahwa kini ia tidak bergantung lagi pada alam dan tenaga kasar. Kini ia memanfaatkan kegemaran orang untuk bisa membiayai hidup keluarganya. Ia cukup bahagia. Padahal Ongga tetap mengatakan, hidup tukang asah batu dengan 1 set peralatan yang berharga Rp 40 ribu, tidak bisa dijamin stabil. "Seperti rezeki harimau saja. Kadangkala banyak, waktu yang lain sama sekali tidak ada," ujarnya. Selama masa kosong, satu sampai dua hari ia harus sabar nongkrong. Anehnya pada saat itu, justru penjual batu yang lain lagi panen. Untung kalau masih ada orang lewat untuk mengasah. "Rata-rata upah asah atau gosok Rp 800 per batu," kata Ongga. Tarif ini dikenakan untuk batu yang "sudah punya nama". Akik biasa, ongkosnya hanya Rp 400. Kalau nasib lagi bagus, Ongga bisa mengumpulkan sampai Rp 4 ribu sehari dari hasil menggosok. Ini juh lebih baik daripada menukar keringat mengangkut barang di terminal. Tak heran semua anak-anaknya belajar tenang di SD. Temannya yang bernama Bukhari (45 tahun), yang mangkal 2 meter di samping kiri, membenarkan apa yang dikatakan Ongga. Ternyata memanfaatkan kegemaran orang jauh lebih ringan, tetapi juga jauh lebih menguntungkan. Bukhari juga masih petani, 4 tahun yang silam. Ia juga lari ke Padang untuk mencari padang yang lebih banyak rumput. Sama seperti Ongga, ia juga sempat mencoba menjual tenaga jadi buruh kasar. Melihat kemakmuran tukang asah batu, ia juga cemburu -- dan akhirnya jadi tukang batu. Namanya memang tidak keren. Tetapi nafkah yang terselip di dalamnya bukan main. Tak lebih dari 4 tahun, Bukhari menjulang di antara para pengasah yang lain. Duit mengalir masuk, dan Bukhari mengaturnya sedemikian rupa sehingga uang itu produktif, tidak mati sebagai kekayaan tok. "Saya punya huler dengan mesin Kubota seharga Rp 1.800.000 dari hasil sini," ujarnya dengan bangga. Maka, sementara kapitalis kecil ini memutar roda sepedanya mengasah batu di Hiligoo, di Padusunan berputar juga roda mesin gilingnya yang dijaga sanak familinya. Huler itu berdiri di atas tanah kapling seluas 21 x 9 m -- membuat Bukhari memiliki dua wajah yang berbeda. Ia seorang tukang batu yang berhasil. Barangkali karena ia memang benar-benar berbakat. Sejak usia belasan tahun ia telah mempersiapkan diri jadi tukang batu, tanpa ia sadari. Waktu itu batu-batu masih berarti sebagai kegemaran biasa -- karena orangtuanya sendiri penggemar batu. Di samping ditopang bakat, dan kemurahan Tuhan tentu, sukses Bukhari adalah hasil yang wajar dari kerajinan dan kehematannya. Ia selalu membuka kerja di kaki lima Hiligoo lebih awal dari pengasah yang lain. Menjelang tengah hari salah satu dari anak-anaknya -- ada 9 orang, semua sudah diangkut ke Padang --datang membawa nasi rantangan. Tidak seperti orang lain yang suka jajan di warung, Bukhari amat tergantung pada dapur keluarganya. "Harga sepiring nasi dan lauk-pauk yang kita beli, bisa menutupi keperluan makan tiga anak jika kita masak sendiri," ujarnya memberi alasan. Dan benar. Orang lain mungkin menganggap ini tanda kekikiran, tapi Bukhari lebih suka menamakannya penghematan. Bukhari juga seorang realistis. Anak-anaknya yang ingin pintar dia kirim ke sekolah. Tapi anak-anaknya yang lebih suka "bodoh" tidak ia paksa pintar, tapi ia bikin jadi produktif. Buyung, salah seorang yang berusia 15 tahun, tidak dikirimnya ke sekolah. Buyung mendampingi Bukhari sebagai pengasah batu remaja. Anak itu diberi modal 1 set alat asah made in Padang, dan dipersilakan berjuang. Hanya saja pegang uang, Buyung belum berhak. Semua hasilnya disimpan Bukhari. "Toh kelak untuk dia juga," kata bekas petani yang sukses ini. Yang aneh adalah, mengasah batu bagi orang semacam Bukhari akhirnya bukan hanya berarti memperalat kegemaran orang lain. Dia sendiri makin lama makin merasuk ke dalam batu. Bukan hanya pembeli yang tergila-gila -- ia sendiri ikut mabuk. Barangkali inilah yang menyebabkannya unggul dari pengasah dan penjual batu yang lain. Ia merebut uang dari pembeli dengan rasa cinta pada batu. Kecubung, badar ruyung, bunga setangkai, si junjung, unjung panjang, sering dibelinya dalam bentuk kasar, lalu diasah sendiri dengan keterampilan dan ketekunan. Barangkali kalau dulu ia bertani dengan intensitas semacam itu, mungkin juga ia akan jadi petani yang berhasil. Rupanya semua orang dijuruskan menurut kecenderungannya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Perpecahan Pemimpin PKI

Ilustrasi

Bisnis sambilan kyai ashari

Seni Rupa

60 Duplikat Amri Yahya

Pas-Pasan, Mas

Tari

Yang terbaik dari australia

Suka Duka

Makan dari rezeki harimau

Buku

Terjemah qur'an, dengan bisikan

Perbandingan dua terjemah

TEMPO|interaktif

Olahraga

Sriwijaya FC Tekuk Persiwa 3-2  

Olahraga

Rahasia Sukses Cech Hadang Penalti Muenchen

Teknologi

IM2 Tawarkan Pemasangan Gratis UKM Broadband

Sakit, Penahanan John Kei Dibantarkan

12 Tahun Menanti Subak Jadi Warisan Budaya

Seni & Hiburan

Sikap Menteri Gamawan Melunak Soal Lady Gaga  

Nasional

Dua Bekas Pejabat PT KAI Jalani Sidang Pertama

Bisnis

Produksi Gas Pertamina Hulu Ditarget Naik 13 Persen

Seni & Hiburan

Polri Jamin Keamanan Konser Lady Gaga  

Opick: Musikalisasi Lady Gaga Asik  

Bisnis

Pemerintah Cari Utang Luar Negeri US$ 5 Miliar

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif