• Home
  • 05 Agustus 1978
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Agustus 1978

    Pas-Pasan, Mas

    DI sudut Ruang Pameran Purna Budaya, Bulaksumur Yogyakarta, 24 s/d 30 Juli ada seperangkat meja dan kursi yang rapi. Di sana-sini ada ukiran manis meski sama sekali tidak memiliki keistimewaan. Inilah hasil karya seorang sarjana muda lulusan STSRI Yogya. "Maaf mas, apakah beda hasil karya seorang tukang kayu dengan seorang yang sudah bergelar sarjana muda?", tanya seorang pengunjung. Jawab: "Bedanya, tukang kayu membuat karya berdasar kepandaian bertukang saja, sedang kami memikirkan juga ilmiahnya." Tentang apa yang dimaksudkan "ilmiahnya, dijelaskan: Tukang "Kami sarjana muda lebih punya tanggung jawab terhadap karya daripada seorang tukang kayu. Kami juga memperhitungkan segi kekuatan bahan konstruksi -- hingga enak buat duduk dan terutama keindahannya. Dalam pameran ini memang lebih ditekankan kesarjanamudaannya daripada kesenimanannya." Yah, seolah tukang kayu (juga yang lihai) tidak punya tanggung jawab atau perhitungan keindahan. Pameran yang dibuka Ketua STSRI Abdul Kadir -- itu didukung oleh sejumlah sarjana muda Jurusan-Jurusan Seni Lukis, Seni Kriya, Seni Reklame, Seni Dekorasi dan Seni Ilustrasi/Grafik. Total jenderal tidak kurang dari 30 orang. Mereka lulus dari ujian semester ganjil tahun ajaran 1978. Harapan mereka cukup muluk, seperti terdengar dari ucapan Adi Baskoro, ketua pameran, yakni: "Terciptanya hubungan yang lebih baik dengan masyarakat." Sudah jelas yang dimaksud pameran itu adalah kontak langsung dari kampus pada rakyat. Sarjana-sarjana itu diharapkan akan dipakai orang banyak. Ini perlu sebab ada persyaratan dari perguruan: bagi sarjana muda yang tidak lulus cum laude, tidak bisa mengikuti tingkat doktoral sebelum memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun. "Kami sebagai pendidik akan sangat senang bisa tahu bagaimana tanggapan masyarakat terhadap lulusan kami," kata Abdul Kadir. "Ini merupakan input yang kami harapkan dalam setiap pameran yang diadakan sekolah, demi perkembangan yang positip." Sungguh sayang jembatan yang dimaksud untuk menyeberangkan para sarjana muda itu ke lubuk hati rakyat itu sekedar yang formil saja. Kesarjanaan rupanya akan tetap hanya menjadi catatan: bahwa seseorang telah mengalami pendidikan resmi selama waktu tertentu. Hanya catatan, bukan jaminan mutu. Jangan lupa ini barang-barang kesenian. Memang dibanding dengan pameran para sarjana muda STSRI yang terdahulu, kwalitas pameran ini sedikit membaik. Meskipun kalau kita menilik hasil-hasil itu sebagai karya yang berdiri sendiri, kita sekedar mendapat kesan pas-pasan. Khusus terhadap karya para sarjana muda jurusan seni lukis, wah, payah. Yang membuat risi adalah tidak adanya dukungan dan kemantapan jiwa yang memberi darah pada ketrampilan teknis. Yang muncul adalah keinginan melukis dengan baik-baik, patuh, berdisiplin, tahu adat dan ingin menunjukkan bau akademis tok. Ini memang problem laten dari akademi kesenian, manakala perhatian hanya ditujukan pada pendekatan teknis. Dari Jurusan Ilustrasi masih mendingan. Misalnya dari seorang Made Subrata, ada usaha mencoba membuat ilustrasi di daun lontar. Hanya percobaan ini berhenti sebagai percobaan: tidak didasari ide atau kegetolan, sehingga sulit juga diperhitungkan. Sementara Jurusan Dekorasi lebih banyak menampilkan mebel yang tidak jauh bedanya dengan yang bisa ditengok dari majalah Avenue, Prinses atau semacamnya. Pendeknya perabot untuk kelas atasan. Jadi bagaimana mungkin rakyat akan "mempergunakan" mereka? Pameran ini pameran sarjana muda yang keenam dari STSRl yang dahulu bernama ASRI itu. Diniatkan akan menjadi semacam tradisi perguruan. Semoga kwalitas pas-pasan tidak ikut melembaga.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Perpecahan Pemimpin PKI

Ilustrasi

Bisnis sambilan kyai ashari

Seni Rupa

60 Duplikat Amri Yahya

Pas-Pasan, Mas

Tari

Yang terbaik dari australia

Suka Duka

Makan dari rezeki harimau

Buku

Terjemah qur'an, dengan bisikan

Perbandingan dua terjemah

TEMPO|interaktif

Dunia Soroti Intoleransi di Indonesia

Olahraga

Sriwijaya FC Tekuk Persiwa 3-2  

Olahraga

Rahasia Sukses Cech Hadang Penalti Muenchen

Teknologi

IM2 Tawarkan Pemasangan Gratis UKM Broadband

Sakit, Penahanan John Kei Dibantarkan

12 Tahun Menanti Subak Jadi Warisan Budaya

Seni & Hiburan

Sikap Menteri Gamawan Melunak Soal Lady Gaga  

Nasional

Dua Bekas Pejabat PT KAI Jalani Sidang Pertama

Bisnis

Produksi Gas Pertamina Hulu Ditarget Naik 13 Persen

Seni & Hiburan

Polri Jamin Keamanan Konser Lady Gaga  

Opick: Musikalisasi Lady Gaga Asik  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif