• Home
  • 05 Agustus 1978
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Agustus 1978

    Yang terbaik dari australia

    PERTUNJUKAN The Australian Ballet di Teater Terbuka TIM-19 dan 20 Juli --mencatat rekord yang penting. Para peminat begitu bernafsu merebut karcis, hingga mereka sudi antre sejak pukul 4 - 5 sore. Padahal loket baru dibuka pukul 7, sementara pertunjukan dilangsungkan pukul 8 malam. Ini belum pernah terjadi. Tukang catut yang hampir tak pernah menjamah TIM, sempat menjual karcis Rp 500 dengan harga Rp 2.500. Sementara karcis utama yang berharga Rp 1.500 disulapnya menjadi Rp 10 ribu. Toh masih ada juga yang kecewa karena betul-betul tidak kebagian. Christopher Maver, direktur lampu dan panggung mereka, berkata kepada TEMPO "Waduh, orang Jakarta amat senang balet. Lihat karcis cepat terjual." Apa benar? Caravan Selama 2 malam pertunjukan, ditampilkan 3 nomor tarian. Mula-mula Symphony in D karya Jiri Kylian dengan musik Haydn, terdiri dari tiga bagian. Dalam nomor ini para penari memakai celana monyet dan mengkombinasikan balet klasik dengan yang modern. Gerakannya gesit, grupingnya dramatik, adegan-adegannya sangat komunikatif karena mengandung humor. Penampilannya padu dan kompak meskipun kita tidak menemukan pemain solo yang hebat. Balet negeri kangguru ini mencoba memberikan klimaks-klimaks justru dengan mematahkan adegan-adegan yang mengalir cepat itu dengan mengembalikannya kepada suasana bermain-main. Kebebasan seperti ini menyebabkan pertunjukan santai. Tetapi tidak memberi pesona yang dalam, kecuali rasa segan karena keafdolan mereka dalam mengolah tubuh. Toh kita tetap lebih terkesan oleh olah tubuh anak buah Martha Graham yang juga sempat main di TIM dulu, yang menampakkan totalitas dan pencarian habis-habisan terhadap kemungkinan jasad sebagai medium ekspresi. Sebagai nomor kedua disuguhkan babak kedua dari Swan Lake karya Lev Ivanov dengan latar musik Tchaikovsky. Pertunjukan ini merupakan pengalaman baru bagi publik Indonesia. Balet klasik yang lengkap dan tuntas merupakan barang asing yang mencorong dan langka. Nomor ini paling tidak memberi gambaran bagaimana megah dan merasuknya dunia balet di kawasan sana. Sejumlah balerina, dengan pakaian putih-putih, mengelompok dan bergetar dengan lengan-lengan mereka yang lentur. Gruping romantis dan adegan-adegan yang liris menunjukkan betapa jenis kesenian ini tidak hanya gerak, tapi juga ucapan batin dengan cara dramatis. Swan Lake juga disampaikan dengan kompak, meskipun kita masih gemas menanti permainan solo yang lebih mencuat lagi. Rombongan Australia ini agaknya tak bersungguh-sungguh setia pada idiom balet klasik. Mereka juga dengan sengaja mencari lubang-lubang di mana eksistensi mereka sendiri, dengan seluruh latar belakang Australia mereka, bisa diikutsertakan. Dan meski kita tak menemukan jotosan yang telak dan meyakinkan seperti yang datang dari seorang Martha Graham atau Felix Blaska, grup Australia ini mendukung usaha positif dari benua kangguru untuk mulai menyingkap tabir dunia internasional dalam bidang seni. Nomor yang terakhir bernama Caravan. Berdasar musik Duke Ellington dengan nama tersebut. Penataan tari dikerjakan oleh Louis Falco dengan musik Michael Kamen. Ini merupakan nomor paling menarik. Seorang wanita, dengan alas kaki yang tebal sekali haknya, menyeberangi panggung sambil berhenti di beberapa buah titik dalam keadaan statis, memandangi rekan-rekannya membuat komposisi menisi ruanan. Sementara penari wanita dan pria menggoyang-goyang tubuh seperti digerakkan ritme orang-orang negro. Kita diberi sesuatu yang mengalir dengan cekatan, penuh perhitungan serta juga menyemburkan rangsang sangat sensuil. Memang tarian ini masih akan lebih berhasil kalau dilakukan orang-orang hitam sendiri. Jiwa penataan tari itu memerlukan jiwa erotis disertai oleh keliatan tubuh yang agaknya sudah merupakan cap saudara-saudara kita yang berkulit hitam. Namun demikian setelah lama tidak melihat pertunjukan balet yang bagus di TIM, tamu dari Australia ini seperti menawarkan rindu. Apakah ini menunjukkan bahwa minat terhadap balet benar-benar mendesak? Agaknya tidak. Minat terhadap pertunjukan yang baik -- segala macam pertunjukan yang baik -- memang sudah berbuah. Pihak TIM sendiri sudah lama memahami isyarat ini.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Perpecahan Pemimpin PKI

Ilustrasi

Bisnis sambilan kyai ashari

Seni Rupa

60 Duplikat Amri Yahya

Pas-Pasan, Mas

Tari

Yang terbaik dari australia

Suka Duka

Makan dari rezeki harimau

Buku

Terjemah qur'an, dengan bisikan

Perbandingan dua terjemah

TEMPO|interaktif

Dunia Soroti Intoleransi di Indonesia

Olahraga

Sriwijaya FC Tekuk Persiwa 3-2  

Olahraga

Rahasia Sukses Cech Hadang Penalti Muenchen

Teknologi

IM2 Tawarkan Pemasangan Gratis UKM Broadband

Sakit, Penahanan John Kei Dibantarkan

12 Tahun Menanti Subak Jadi Warisan Budaya

Seni & Hiburan

Sikap Menteri Gamawan Melunak Soal Lady Gaga  

Nasional

Dua Bekas Pejabat PT KAI Jalani Sidang Pertama

Bisnis

Produksi Gas Pertamina Hulu Ditarget Naik 13 Persen

Seni & Hiburan

Polri Jamin Keamanan Konser Lady Gaga  

Opick: Musikalisasi Lady Gaga Asik  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif