• Home
  • 07 Oktober 1978
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Arsip
  • 07 Oktober 1978

    Tahun 2000: Kita Bikin Beras Campur

    KONON, ditahun 2.000 kelak, penyediaan pangan nasional kita harus dapat memenuhi kebutuhan 232 juta mulut. Saat itu diduga kebutuhan diversifikasi pangan adalah: 27,8 juta ton beras, 7,78 juta ton jagung, 3.89 juta ton ubi kayu, dan 4.45 juta ton kacang-kacangan. Padahal, areal pertanian yang ada sekarang diduga hanya akan menghasilkan 20 juta ton beras. Walhasil terdapat kekurangan beras sebesar 7,8 juta ton. Melakukan impor yang berkepanjangan dikhawatirkan akan menimbulkan cemoohan. Ini benar-benar merisaukan. Karena itulah agaknya kaum agronomi keluar dengan angka 400.000 hektar per tahun. Maksudnya, kekurangan beras sebesar 7,8 juta ton di tahun 2.000 kelak harus ditutup dari hasil perluasan areal pertanian. Diperkirakan perluasan areal pasang surut akan menghasilkan tambahan 3,3 juta ton, areal sawah tadah hujan 3,5 juta ton dan areal tanah kering 1 juta ton. Di samping itu menu kita disarankan agar dibuat lebih beragam. Misalnya selain nasi, perut kita harus dijejali pula dengan sejenis ketela. Jadi, makan secara confounded diubah menjadi makan secara factorial. Terakhir, Saudara Singarimbun yang ahli di bidang kependudukan muncul dengan saran sagunya. Dia menganjurkan agar kita mulai melirik pohon sagu yang konon di tanah air kita jumlahnya mampu secara terus-menerus memenuhi kebutuhan karbohidrat 400 juta manusla. Jadi jelas, telah terlihat adanya tanda-tanda kebiasaan kita makan nasi sudah sampai pada taraf "sedang akan dibatasi". Artinya: ada kemungkinan anak cucu kita kelak akan bertukar menu. Kasihan. Andaikata nanti -- andaikata, lho-ada semacam program nasional yang menganjurkan kita makan ketela atau sagu, apa tidak ada pengaruhnya terhadap martabat bangsa? Soalnya kita akan membangun "manusia seutuhnya". Lha, melalui umbi-umbian begitu, apa mungkin? Lain hal kalau sudah kebiasaan. Lalu bagaimana? Mumpung masih ada waktu, sebaiknya kita pikirkan kembali soal beras buatan tempo hari. Konon melalui tabung-tabung gelas yang aneh bentuknya, para ahli di laboratorium sudah dapat membuat sejenis beras yang bukan main khasiatnya. Beras buatan itu bernama Beras Tekad. Berasal dari sekian persen ketela sekian persen kacang, sekian persen jagung. Memang dulu pernah ada kekhawatiran: jangan-jangan beras ini rasanya seperti pil. Terasa kenyang tapi lapar gizi, membuat kepala pusing, rambut rontok dan sebagainya. Tapi untung tidak. Malahan lebih banyak vitamin ketimbang beras alam, dan lebih enak. Singkatnya, di tahun 1967 Bulog meneken kontrak dengan pihak PT Mantrust yang mendadak populer karena beras buatan tersebut. Bulog akan menerima 150 ribu ton per tahun untuk jangka waktu 5 tahun. Sayangnya kontrak itu dibatalkan dengan alasan "beras alam sudah cukup". Belakangan ketahuan bahwa alasan tersebut ternyata keliru. Buktinya, jutaan ton beras harus kita datangkan dari negeri tetangga dan malah kita sempat mengalami "zaman enceng gondok" yang menebalkan muka itu. Lalu bagaimana usaha selanjutnya? Berhubung pembatalan kontrak di atas dengan alasan yang keliru, sebaiknya kontrak itu kita realisir kembali. Jadi kita dirikan pabrik beras buatan. Supaya efisien, tempatkan di sekitar gudang-gudang Dolog yang telah bertebaran itu dan jumlahnya harus sesuai dengan kebutuhan. Nanti kita akan dapat melihat gudang-gudang Dolog penuh sesak sampai ke atapnya dan swasembada pangan yang kita idamkan tidak lagi hal yang mustahil. Lagi pula, anak cucu kita tidak bakalan merasakan makan siang bersama ketela atau sampai menelan tempulur pohon sagu. A. KADIR RAHMAN Jl. Ario Kemuning 4292 E Palembang.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Tidak Ada Sistem Yang Benar

Unknown

Baret merah, di hari yang menentukan..

Jago sapuan lebar

Suka Duka

Habis manis dibuangkah mereka ?

Macan yang ompong

Buku

Arjuna bin yudhistira

Manen, monang dan marianne

Para pemenang kali ini

TEMPO|interaktif

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif