• Home
  • 07 Oktober 1978
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Arsip
  • 07 Oktober 1978

    Macan yang ompong

    COBA lihat, mana ada pemain sepakbola kita yang berasal dari keluarga kaya," kata Yacob Sihasale di Surabaya. Pernyataan ini dikukuhkan oleh sejarah hidup macan bola dari Ujungpandang yang memulai kariernya dengan menendang buah jeruk sebagai bola. Ramang yang ditebas dari sejarah PSSI karena persoalan "suap" atau dengan nama yang lebih manis "hadiah", menyeruak dari masyarakat lata sebagai pahlawan sepakbola nasional pada tahun 50-an. Ia pernah dibanggakan oleh semua orang Indonesia yang suka pada bola. Sedikit yang tahu bahwa pada mulanya ia hidup sebagai kenek truk yang menjelajahi Sulawesi Selatan. Pada tahun 1940-an sesudah melewati masa main bola dengan memakai bola tenis atau buntalan kain, Ramang memperkuat bon sarru di Sulawesi Selatan. Tahun 1945 ia pindah ke Ujungpandang sambil membawa becak. Sambil hidup dengan mendayung becak, ia tetap main bola. Tahun 1947 ia dipanggil Persis (Persatuan Sepakbola Induk Sulawesi). Dari klub itu ia meloncat ke bon Makassar (MVB yang sekarang bernama PSM). Prestasinya menanjak dalam penampilan PON III -1953. Sejak itu ia mulai memperkuat PSSI. Akan tetapi di tahun 1960, sesudah namanya sempat melangit ia dijatuhi skorsing. Dituduh makan suap. Dalam kompetisi PSSI, PSM gagal menjadi juara 3 kali, padahal Ramang sedang berada dalam kondisi puncak. Tahun 1962 ia dipanggil kembali, tapi pamornya sudah berkurang. Pada tahun 1968, dalam usia 40 tahun, Ramang bermain untuk terakhir kalinya membela panji-panji PSM di Medan, yang berakhir dengan kekalahan. Mungkin Sinting Karena sibuk dengan bola, rumah tangga Ramang memang terganggu. "Tapi mau bagaimana, biar saja, kita susah, kita sendiri yang tanggung," ujarnya. "Karena sibulc bermain bola, terpaksa profesi saya menarik beca saya tinggalkan," katanya menambahkan. Cobaan pada rumah tangganya datang bertubi-tubi, untung ia masih bisa ditampung bekerja di jawatan PU. "Namun apapun yang terjadi, coba kalau isteri saya tidak teguh iman, mungkin sinting, kata macan bola itu. Ramang tidak pernah cidera. Ia seorang pemain yang lihai. "Kalau saya mau dimakan oleh lawan, saya pura-pura takut," kisahnya, "tapi begitu ia lengah saya hantam dengan halus, saya tidak pernah cidera tapi orang yang cidera lantaran saya sudah banyak." Tapi bagaimana dengan kariernya yang cidera karena suap? Ramang tetap membantah itu sebagai suap. Ia menamakannya "hadiah ". sahkan ia balik menuduh bahwa tuduhan itu hanya sentimen. "Saya minta keadilan, tapi tidak ada," kata Ramang. "Saya telah menunjukkan orangnya yang memberikan hadiah, ternyata tidak pernah ditanyakan kepadanya benar atau tidak. Hadiah itu diberikan setelah pertandingan melawan Persidja setelah kita menang ! " Ramang bagai macan yang sudah ompong. Tapi dasar darahnya darah bola yang diwarisinya dari bapaknya "Nyo'lo" seorang pengawal pribadi Raja Barru yang pintar "sepak raga", ia tetap hidup di lapangan. Salah seorang anaknya -- Anwar Ramang - bermain untuk PSM. Ia sendiri sibuk jadi pelatih. Pada masa menjalani skorsing ia sudah sibuk membina pemain-pemain muda termasuk Anwar Ramang dan Ronny Patty. Dari mana ia mendapat biaya untuk membina pemain itu? Jawab Ramang, dari "hadiah" (suap) yang pernah diterimanya. Lalu berkata "Nah hasilnya kan bukan untuk saya saja!"

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Tidak Ada Sistem Yang Benar

Unknown

Baret merah, di hari yang menentukan..

Jago sapuan lebar

Suka Duka

Habis manis dibuangkah mereka ?

Macan yang ompong

Buku

Arjuna bin yudhistira

Manen, monang dan marianne

Para pemenang kali ini

TEMPO|interaktif

Olahraga

Simon Sumbang Angka Pertama bagi Tim Thomas Cup

Nasional

Para Tokoh Ini Diincar Golkar Jadi Cawapres  

Bisnis

Saham Hari Ini Masih Seret

Dunia Soroti Intoleransi di Indonesia

Olahraga

Sriwijaya FC Tekuk Persiwa 3-2  

Olahraga

Rahasia Sukses Cech Hadang Penalti Muenchen

Teknologi

IM2 Tawarkan Pemasangan Gratis UKM Broadband

Sakit, Penahanan John Kei Dibantarkan

12 Tahun Menanti Subak Jadi Warisan Budaya

Seni & Hiburan

Sikap Menteri Gamawan Melunak Soal Lady Gaga  

Nasional

Dua Bekas Pejabat PT KAI Jalani Sidang Pertama

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif