• Home
  • 25 November 1978
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 25 November 1978

    Festival diganti pekan

    FESTIVAL Tari Rakyat Tingkat Nasional I tahun yang lalu hanya diikuti 20 propinsi. Bertempat di Istora Senayan, 7-8-9 Nopember ini 27 propinsi Indonesia ambil bagian kecuali Timtim. Anehnya Festival Tari Rakyat Tingkat Nasional II itu tidak lebih semarak dari tahun lalu. Senayan tiga malam berturut-turut dihuni penonton kurang dari setengahnya. Barangkali karena hujan deras yang menyapu seantero wilayah ibu kota selama pekan berlangsung. Sebab utama juga kurangnya publikasi dan kesungguhan untuk menyedot penonton. Malam pertama diisi parade tari 26 kontingen peserta. Setiap kontingen beraksi tak lebih dari 5 menit. Pentas yang luas itu ternyata menyulitkan keluar-masuknya penari. Berbagai cara ditempuh ada yang jalan biasa, bergaya kenes, berlari kecil, ada pula yang rapi berbaris. Tetapi jarang yang pas -- banyak yang kelewat dipaksakan. Menilik sepintas apa yang kemudian dipertunjukkan, orang dapat melihat berbagai jenis gaya. Yang pertama termasuk apa yang dapat kita sebut sebagai 'tari mula' atau tari dalam bentuknya yang dini. Cirinya: penuh spontanitas, penuh semangat, erat kaitannya dengan kebudayaan dan kepercayaan setempat -- dengan tempat dan saat tertentu. Dua jenis yang sangat menonjol adalah yang disajikan Sumatera Utara (Famolaya Baluse, tari perang Nias) dan tari Bis Pakmbui dari Irian Jaya. Ciri yang lain adalah kurangnya penataan. Susunan tari masih menurut pola yang telah bertahun-tahun diturunkan. Bis Pakmbui, dalam pada itu, ada kesamaannya dengan bentuk tari Pasifik -- Polinesia dan Mikronesia. Kemiripan ini ada pada kostum, gerak pinggul yang dominan, juga warna nyanyian. Yang hampir senada adalah dua bentuk tari kuda kepang yang disajikan Yogya (Jaranan Jambul) dan ]awa Tengah (Keprajuritan). Di sini kaitan dengan masa lalu tinggal terletak pada bentuk kudanya. Sedang kostum misalnya telah mengarah ke masa sekarang. Motivasi Yang Berobah Jenis kedua adalah jenis tari yang mendapat pengaruh Islam. Di antaranya tari Blenggo (DKI Jakarta), Rodat Sumatera Selatan), Radad (Kalimanmn Barat) dan Laweuwet (Aceh). Cirinya yang kuat adalah peranan salawat -- pembacaan doa dengan iringan beberapa terbang dan jedor. Kegiatan yang tadinya dilakukan sambil duduk ini pada akhirnya ditambah gerak. Di sini tari lebih merupakan pelengkap syair/doa. Kecuali pada Laweuwet Aceh di mana peranan tari cukup besar. Syahdan tari rakyat yang sesungguhnya, sering tak mudah dibawa ke luar daerah begitu saja. Karenanya tak mengherankan jika seorang penari tua Sumatera Utara tak tega menari, karena merasa kelewat banyak nilai tradisi yang hilang ketika berhadapan dengan pentas luas Senayan. Ketika berbagai tarian tersebut sampai di Ibukota, bukan hanya tempat dan saat -- bahkan motivasinya pun sudah jauh berbeda. Yakni untuk ditonton di pentas, dan bukan dimainkan misalnya sebagai kegiatan bersama. Dengan demikian penataan mutlak diperlukan. Penataan bukannya perombakan atau pembikinan barang baru berdasar materi lama, sebab otentisitas dan ciri khas harus tetap di sana. Meski demikian cukup menggembirakan banyaknya daerah yang kali ini mampu menata tontonannya dengan cukup sedap. Yang nampak maju pesat adalah Kalimantan Timur yang tahun lalu muncul dengan suram. Tari mereka, Menyambut Pahlawan, cukup memikat. Alang Babega dan Rantak Sumatera Barat juga cukup mengesankan tanpa kehilangan unsur pencak yang menjadi ciri tari-tradisi Minangkabau. Juga Sisingaan Jawa Barat sangat menarik terutama dengan pengusungan dua patung singa dan arak-arakan yang spektakuler. Kontingen yang patut dicatat lagi adalah Aceh dan Maluku. Toh masih ada kontingen yang berbau istana: halus gemulai, lembut dan sophisticated. Mereka tidak membawa tari rakyat yang spontan, sederhana dan lugas. Penataan gerak bukan hanya mempertahankan otentisitas dan ciri khas, tetapi lari kepada kehalusan gerak. Kostum misalnya bukan mementingkan warna, tetapi bahan yang mahal dan gemerlap. Sebaliknya ada pula propinsi yang juga karena ingin memperlihatkan otentisitas, menampilkan nomor tari yang diangkat begitu saja dari dalam lumpur. Karuan saja kurang sedap serta mengundang teriakan penonton. Agar tak menimbulkan kompetisi, kali ini nama festival diganti pekan. Toh tak kurang dari 9 tokoh tari bertugas menentukan kriteria guna memilih '15 besar' dengan memegangi tiga hal: penampilan, penataan gerak tari dan peserasian tema dengan pengungkapan Dan akhirnya, masih ada pula satu kontmgen yang terpilih dari pertimbangan non artistik sebagai teladan. Peristiwa ini pantas diakui penting. Apalagi karena lingkupnya yang nasional. Sal Murgianto

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Sebutan Kaya Dianggap Tidak Sopan

Ilustrasi

Terimalah mereka tanpa meludah

Terimalah mereka tanpa meludah

Seni Rupa

Lukisan kaca kita

Koleksi sebagai cermin (?)

Koleksi sebagai cermin (?)

Tari

Festival diganti pekan

Suka Duka

Ia tidak takut

Jangan bicara nasib, tuhan maha adil

Buku

S.t.a: dengan tema besar

TEMPO|interaktif

Kondisi Jenazah Korban Sukhoi Tak Sampai 50 Persen  

30 Psikolog UI Dampingi Keluarga Korban Sukhoi  

Bisnis

Pelabuhan Cilamaya Dioperasikan 2017  

Penegakan Hukum Kunci Atasi Intoleransi

Spanyol Panggil Torres dan Mata

Olahraga

Simon Sumbang Angka Pertama bagi Tim Thomas Cup  

Nasional

Para Tokoh Ini Diincar Golkar Jadi Cawapres  

Bisnis

Saham Hari Ini Masih Seret

Dunia Soroti Intoleransi di Indonesia

Olahraga

Sriwijaya FC Tekuk Persiwa 3-2  

Olahraga

Rahasia Sukses Cech Hadang Penalti Muenchen

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif