• Home
  • 20 Januari 1979
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 Januari 1979

    Dua dunia wanita

    SEBUAH LORONG Dl KOTAKU Oleh: Nh. Dini 133 h., 16,5 x 11 cm PELABUHAN HATI Oleh: Titis Basino Purnomo Ismadi 131 h., 16,5x 11 cm, Keduanya terbitan Pustaka Jaya (Jakarta, Desember 1978) KEDUA novel kecil ini -- menurut tebalnya buku -- mempunyai suatu persamaan, yakni keduanya lugas dan spontan mengungkapkan dua buah dunia wanita, tidak sophisticated. Selanjutnya ada suatu persamaan lain, yakni keduanya bekas pramugari GIA. Keduanya pun telah dewasa, tidak puber dan merengek cengeng. Tapi ada pula perbedaan-perbedaannya tentu saja. Dini yang merupakan pengamat bermata celi melukiskan dunia seorang anak perempuan, bagian pertama sebuah trilogi. Kesan yang membekas pada jiwa kanak-kanaknya merekam perasaan spontan dan intuitif. Misalnya kesukaannya kepada kakek dan nenek (tiri) pihak ayahnya di Tegalrejo, Madiun, dan kepada abangnya Teguh Asmar dan kakak perempuannya Heratih dan Maryam, serta pamannya Sarosa, adik ayahnya sebaliknya ketaksukaannya kepada kakek dan nenek pihak ibunya di Ponorogo serta kepada abangnya Nugroho. Perasaan suka dan sayang memang merupakan lalu-lintas dua urusan. Dini berhasil melukiskan kemesraan keluarganya yang besar, banyak anak, tapi penghasilan ayahnya terbatas, hingga ibunya yang penuh perhatian kepada keperluan suami dan anak (gumati) musti berhemat. Terasa suasana idyllic kehidupan kakek dan neneknya di Tegalrejo serta hiruk-pikuk awal perang Pasifik di rumah orangtuanya di Semarang. Penggunaan kata-kata Jawa di sana-sini olehnya memang menandaskan suasana tempat (couleur locale), tapi sebaiknya semuanya diberi not-kaki tentang artinya, karena pembaca bukan-Jawa tak 'kan dengan sendirinya paham. *** Mungkin di dalam umur Titis Basino dan Dini kurang-lebih sebaya. Tapi di dalam sastera ia lebih muda menurut munculnya. Bekas mahasiswi Fakultas Sastra UI ini setelah selesai ujian sarjana muda meninggalkan fakultas dan sengaja menjadi pramugari terbang dengan maksud mencari pengalaman untuk menulis. Selang beberapa tahun bekerja pada GIA ia memang keluar untuk menulis cerpen di Majalah Satra dan Horison. Tapi bukunya yang ini bukan tentang dunia penerbangan. Yang dilukiskan adalah kehidupan rumah-tangga Rani, isteri seorang insinyur muda, dengan suaminya ir. Ramelan dan anak-anaknya, kebahagiaan dan kekecewaan, ketegaran hati dan dendam menulang sungsum yang tak memberi ampun. Dendam itu membara sekam juga pada saat si berdosa meninggalkan dunia yang fana dengan sia-sia mengetuk-ngetuk pintu hati bekas isterinya, mengharap dapat diterima kembali. Dari berbagai fakta -- antara lain perginya ia menjenguk Ramelan ke rumah sakit Petamburan, hubungannya yang tetap baik dengan keluarga Ramelan -- ternyata Rani masih mencintai Ramelan. Tapi ia berwatak gurat batu sekali tergores tak 'kan lekang, dan kompromi haram baginya. Ia mengkhianati hatinya sendiri karena keangkuhannya. Laksmi Ini mungkin mengundang pertanyaan pada pembaca: mungkinkah hati wanita yang lembut dapat menggranit sekeras itu? Tapi Rani punya alasan ia merasa ialah yang membentuk ir. Ramelan yang dahulunya seorang mahasiswa miskin. Bahkan untuk membayar penghulu (kadhi) ketika kawin Ramelan pun tak mampu. Dengan hanya berbekal ijazah SKKA (Sekolah Kesejahteraan Keluarga Atas) Rani bergulat mengantarkan mahasiswa Ramelan sampai ke akhir studinya yang berhasil. Karena itu Ramelan punyanya, buah ciptaannya. Eh, tahutahu kemudian ia berani bertingkah, diam-diam mengambil isteri kedua, Laksmi. Rani jengkel terhadap Laksmi, tapi ia sebenarnya tak membencinya. Ia lebih banyak iri: Laksmi muda dan cantik, tak cerewet dan mau serba tahu soal-soal remeh. Tidakkah itu yang tak ada padanya, yang mengikat ir. Ramelan padanya? Memang Rani bukan Sofia, sahabatnya, yang rela menerima dimadu oleh Mas Joko asal tetap bergelimang keserbamewahan kebendaan. Dan Mas Joko memperoleh kebahagiaan di rumah kampung di pinggir kota bersama isteri mudanya, seorang wanita tidak terpelajar bernama Rokayah yang penuh pengabdian dan kesederhanaan dan memberikan kesantaian inkonvensional kepada Mas Joko. Di rumah Rokayah Mas Joko cukup berkaos kutang dan bercelana kolor makan dengan sambal ulekan Rokayah sendiri. Padahal tangan Sofia terlalu halus untuk masak dan hanya terlatih untuk main tunjuk dan perintah kepada sepeleton pembantu rumahtangga. Pelukisan kontras Rani-Laksmi, Sofia-Rokayah sebenarnya menunjukkan kemampuan Rani untuk menilik dirinya sendiri dan mengakui kenyataan, tapi ia ditenggelamkan oleh kepalsuan keangkuhannya sendiri. Akhirnya tenggelamlah kapalnya di pelabuhan hatinya sendiri! Di dalam pelukisan-pelukisannya Titis kadang-kadang terasa sinik (cynical) "Dan mukanya yang tidak cantik tapi berbedak tebal seperti kapur putih tembok lapangan sepakbola, mencibir kc arah ijazahku yang hanya tamatan Sekolah Kepandaian Wanita." (h. 15) " 'Betul, Jeng? Ah, saya mau menimbangkan badan nanti di Blok M," katanya genit sambil menggoyangkan badannya yang mirip ubur-ubur.' (h. 26). Kalau itu dimaksudkan sebagai bunga stilistik mungkin mengandung risiko hiperbolisme ! Pada halaman 86 Titis menulis "Yang paling menjijikkan adalah kebiasaannya bersendawa setiap kali habis makan." Apakah yang dimaksudnya bukan bersendawa (bertahak, Jkt. , gelegeken, Jawa)? Sendawa adalah salpeter (KNO 3). *** Bagaimana pun kedua novel kecil ini lebih berbicara sebagai sastera tanpa pretensi ketimbang novel-novel atau romanroman berdasarkan sophistikasi intelektuil yang tanpa emosi. S. I. Poeradisastra

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Dugaan Yang Salah

Ilustrasi

Bayi-Bayi Pergaulan Bebas

Lebih bernilai dari berlian

Buku

Dua dunia wanita

Seni Rupa

Ini sebuah pameran profesi

Soalnya memang jarang

Soalnya memang jarang

Suka Duka

Si Nengnong Di Lintasan Rel

Si nengnong di lintasan rel

TEMPO|interaktif

Olahraga

Piala Eropa, Baloteli Janji Jaga Sikap

Kondisi Jenazah Korban Sukhoi Tak Sampai 50 Persen

30 Psikolog UI Dampingi Keluarga Korban Sukhoi  

Bisnis

Pelabuhan Cilamaya Dioperasikan 2017  

Penegakan Hukum Kunci Atasi Intoleransi

Spanyol Panggil Torres dan Mata

Olahraga

Simon Sumbang Angka Pertama bagi Tim Thomas Cup  

Nasional

Para Tokoh Ini Diincar Golkar Jadi Cawapres  

Bisnis

Saham Hari Ini Masih Seret

Dunia Soroti Intoleransi di Indonesia

Olahraga

Sriwijaya FC Tekuk Persiwa 3-2  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif