• Home
  • 20 Januari 1979
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 Januari 1979

    Dugaan Yang Salah

    DUA orang kulit putih berbicara tentang rakyat sebuah negeri di wilayah Indo-Cina. Yang satu cemas negeri itu akan jatuh ke dalam pemerintahan komunis. Yang lain nampaknya tidak cemas -- meskipun ia tahu bahwa itu memang akan terjadi. "Tapi mereka tak menginginkan komunisme," kata yang cemas. "Mereka menginginkan beras," sahut yang lain, "mereka tak ingin ditembak. Mereka ingin suatu hari akan sama seperti hari yang lain. Mereka tak ingin kita, orang putih, berseliweran di sini mengajari mereka apa yang harus mereka inginkan." "Jika Indo-Cina jatuh . . . " "Saya sudah tahu rekaman itu. Siam jatuh. Malaya jatuh. Indonesia jatuh. Apa artinya 'jatuh', sih?" "Mereka akan dipaksa percaya apa yang diperintahkan kepada mereka. Mereka tak akan diizinkan berfikir sendiri. " "Fikiran itu barang mewah. Apa kau fikir para petani itu duduk merenungkan Tuhan dan demokrasi ketika mereka masuk ke dalam gubuk tanah liat mereka di waktu malam?" "Kau bicara seakan-akan seluruh negeri terdiri dari petani. Bagaimana halnya dengan mereka yang terdidik? Apakah mereka akan berbahagia?" "Ah, tidak. Kita sudah membesarkan mereka dalam ide-ide kita. Kita telah ajari mereka permainan-permainan berbahaya, dan itulah sebabnya kita menunggu di sini, berharap bahwa leher kita tak akan dipotong. Sebenarnya kita layak dipotong .... " *** HAMPIR selama seperempat abad setelah Graham Greene menuliskan percakapan semacam itu dalam The Quiet American, banyak yang terjadi di Indo-Cina. Di Samlaut, misalnya, di tahun 1966. Samlaut adalah sebuah kota kecil di timur Battambang, Kamboja. Ia terletak di sebuah wilayah hutan yang tersisih. Di sana tinggal pors, anggota sebuah suku yang agak terlupakan dalam sejarah modernisasi Kamboja di bawah Pangeran Sihanouk. Pada suatu hari para penguasa di Battambang memutuskan untuk membangun sebuah pabrik gula di Kampong Kol di dekat Samlaut. Mereka mengambil tanah dari para petani dan para petani tak memperoleh imbalan cukup. Ketidak-puasan timbul. Mereka berontak. Memang, ada unsur "subversi" dalam pemberontakan itu. Di antara penduduk ada kader-kader komunis Vietnam yang telah tinggal di situ sejak perang Indocina pertama. Setelah perjanjian Geneva 1954, mereka rupanya diinstruksikan tinggal oleh partai. Konon ada 200 bedil tersembunyi di hutan itu. Dan dengan hasutan kader-kader Vietnam komunis itulah jacquerie di Samlaut terjadi. Pemerintah pusat di Phnom Penh bertindak cepat -- tapi berlebihan. Militer didatangkan. Satuan polisi juga dikirim. Kedua pasukan bersenjata itu dengan tanpa banyak pertimbangan menembaki para perusuh, merobohkan banyak korban dan membakar rumah penduduk. Rakyat lari masuk hutan. Tapi mereka tak melupakan ketidak-adilan dan kekejaman yang terjadi. Dan kaum komunis mendapatkan lebih banyak penyokong. Petani, seperti dalam bayangan orang putih Graham Greene, memang tak biasa mempersoalkan komunisme atau Tuhan. Tapi benarkah mereka hanya menginginkan beras? Benarkah bagi mereka "fikiran itu barang mewah"? Orang putih Graham Greene, seperti banyak intelektuil putih, kadang merasa jadi "pembela" petani Asia -- tapi dengan sikap merendahkan yang tak sepenuhnya disadari: Si orang putih percaya petani tak akan memikirkan demokrasi di gubuknya. Tentu saja tidak. Tapi kemarahan petani di Samlaut, tanpa bicara demokrasi, adalah kebutuhan akan pengakuan hak. Dan bila para petani di Cina datang ke ibukota menyerukan hak-hak asasi, sementara para petani Kamboja dan Vietnam lari menjadi pengungsi, benarkah mereka hanya menginginkan beras? Mereka bukan kerbau, mereka bukan sampi, kata Sihanouk tentang rakyatnya yang tertindas. Agak telat, tapi lebih benar dari orang putih Graham Greene, seperempat abad yang lalu.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Dugaan Yang Salah

Ilustrasi

Bayi-Bayi Pergaulan Bebas

Lebih bernilai dari berlian

Buku

Dua dunia wanita

Seni Rupa

Ini sebuah pameran profesi

Soalnya memang jarang

Soalnya memang jarang

Suka Duka

Si Nengnong Di Lintasan Rel

Si nengnong di lintasan rel

TEMPO|interaktif

Olahraga

Piala Eropa, Baloteli Janji Jaga Sikap

Kondisi Jenazah Korban Sukhoi Tak Sampai 50 Persen

30 Psikolog UI Dampingi Keluarga Korban Sukhoi  

Bisnis

Pelabuhan Cilamaya Dioperasikan 2017  

Penegakan Hukum Kunci Atasi Intoleransi

Spanyol Panggil Torres dan Mata

Olahraga

Simon Sumbang Angka Pertama bagi Tim Thomas Cup  

Nasional

Para Tokoh Ini Diincar Golkar Jadi Cawapres  

Bisnis

Saham Hari Ini Masih Seret

Dunia Soroti Intoleransi di Indonesia

Olahraga

Sriwijaya FC Tekuk Persiwa 3-2  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif