• Home
  • 20 Januari 1979
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 Januari 1979

    Lebih bernilai dari berlian

    LEBIH baik menyimpan kumpulan perangko daripada menyimpan berlian. Yang mempunyai pendapat begitu tentu saja seorang pengusaha jual-beli perangko. Alasannya cukup ekonomis. Sebab katanya, pejabat bea-cukai lebih pandai menilai mutu berlian untuk pajak masuk dan tidak tahu menahu apakah sebuah perangko berharga atau tidak. Selain itu beberapa lembar perangko bisa disimpan dengan mudah. Di dalam dompet, di sepatu bagian dalam atau diselipkan di halaman buku yang sedang dibaca. Pasti mata petugas bea-cukai tidak sejeli itu dan anda tidak mendapat beban pajak masuk. Kardus Wiski "Perangko adalah juga investasi modal yang tidak mungkin bangkrut," kata A. L. Michael. Dia ini kini menjabat direktur Stanley Gibbors Limited, London, agen penjual perangko yang terbesar di dunia. Minggu lalu, Stanley Gibbons Ltd. mengadakan lelang. Pada kesempatan itu telah dijual sebuah perangko -- yang diperkirakan perangko pertama di dunia -- yang disebut one penny black. Dicetak 140, perangko ini dibuat hanya beberapa ribu lembar saja. Karena tuanya dan juga karena jarang yang memilikinya, tentu saja one penny black mempunyai harga cukup tinggi. Penggemarnya tidak pernah berkurang dan banyak kolektor perangko (philatelist) tergila-gila untuk memilikinya. "Tahun 1972, one penny black laku œ90," demikian Michael. Tahun 1976 naik jadi œ430. Dan mau tahu harganya minggu lalu? Dengan tarikan nafas puas, Michael berkata: "Minggu lalu, toko saya menjualnya sampai harga œ3.600!" Kalau dirupiahkan, selembar one penny black dalam waktu terakhir telah mencapai harga Rp 4.320.000. Memang tidak bisa diduga berapa banyak uang disimpan untuk investasi mengumpulkan perangko tua. Karena tidak pernah bisa diketahui berapa jumlah pengumpul perangko di dunia ini. A. L. Michael memperkirakan antara 40 sampai 100 juta orang pengumpul perangko dengan tujuan komersil. Berapa jumlah philatelist yang karena hobi saja, tidak pernah diketahui. " Toko kami sendiri setiap hari rata-rata menjual perangko satu juta lembar setiap hari," kata Michael, "khusus untuk kolektor." Seorang pedagang perangko biasanya juga kemudian menjadi kolektor sekaligus. Atau seseorang yang secara iseng-iseng mengumpulkan perangko, kolektor kecil-kecilan dan secara iseng, bisa jadi seorang pengumpul perangko yang gigih. Dia kemudian menginvestasikan uangnya pada perangko dan jadilah dia juga seorang agen penjual perangko. "Mereka yang datang ke toko kami," kata Michael, "pertama kali kami persilakan duduk. Kemudian kami tanyakan perangko apa yang dibutuhkannya." Segalanya dilakukan dengan santai, tak tergesa-gesa. Misalnya orang tersebut ingin melengkapi kumpulan perangkonya yang bergambar perahu layar. "Kami tanyakan sudah memiliki perangko seri perahu layar dari mana saja," lanjut Michael, "dan seri perahu layar dari negara yang belum dimilikinya terus kami tawarkan. " Stanley Gibbons Ltd. pernah pula membeli secara besar-besaran dari seorang philatelist yang teliti. Setiap perangko disusunnya secara rapi dan dimuat dalam 3.000 volume. Untuk memborongnya, Michael nyaris juga membeli setiap penjual kopor di tempat dia membeli perangko dalam jumlah banyak tersebut. Sayangnya Michael tidak menyebutkan di mana dia memborong perangko itu. Tidak jarang, Michael menemukan kolektor yang aneh. Di New York misalnya, ia melihat cara lain yang lucu dan aneh. Seorang kolektor telah menyimpan perangko koleksinya dalam kardus pembungkus botol wiski. Kardus itu rapi dan penuh ditempel perangko. Di samping itu di gudang milik kolektor aneh itu juga tersimpan 26 ton kertas merek apa saja dan beberapa ribu tangkai sapu. Jumlah itu telah dikumpulkannya sejak Perang Dunia I. Michael berpendapat bahwa hampir setiap orang mengumpulkan perangko pada usia 7 sampai 15 tahun. Kemudian ketika dia menginjak dewasa, hobi ini hilang begitu saja. Kadangkala pengumpulan dimulainya lagi ketika mencapai umur 30 tahun. Baru setelah usia ini, dia jadi pbilatelist yang serius. Artinya pilihannya jatuh pada beberapa negeri saja atau memilih beberapa tema yang dianggapnya bagus. Spesialisasi pengumpulan dimulainya. Langganan Michael juga macam-macam. Ada yang menaruh perangkonya dengan cara terbalik. Seorang occultist (ahli nujum) bahkan sebelum membeli meneliti perangko itu dengan kaca pembesar. Ada juga seorang yang mengumpulkan perangko gambar 'burung pinguin saja. Atau kolektor yang hanya menggemari gambar padi-padian, karena hampir setiap negara pernah menerbitkan perangko dengan gambar padi, gandum dan sebangsanya. Seorang philatelist -- baik untuk hobi atau untuk dagang -- tentu saja selalu mencari perangko yang jarang dimiliki orang. Yang dicari biasanya perangko yang dicetak sebelum 1900. Mereka yang memiliki perangko yang jarang dan kuno itu, dapat menjualnya dengan harga tinggi setelah satu sampai 5 tahun. Kantor pos sebetulnya menjual perangko atas dasar servis yang telah wajar. Yaitu surat bisa sampai ke alamat yang dikehendaki. Peraturan pemakaian perangko bagi tiap negara juga berlainan. Di Monaco, perangko dari tahun kapan saja boleh ditempelkan di atas sebuah amplop, asal pernah dicetak di negara itu. Di Perancis tidak ada, batasan untuk menempelkan perangko pada sebuah surat, asal harganya tidak kurang dari harga yang diharuskan. Di Inggeris hanya perangko-perangko cetakan baru yang dibolehkan sebagai alat pembayar servis. Tapi UU negeri itu juga menyatakan bahwa menempel perangko dari masa kerajaan yang sebelumnya juga tidak dilarang. Di Amerika Serikat perangko yang berlaku hanya yang dicetak setelah tahun 1849. Di Indonesia dengan selesainya pemerintahan Sukarno, kini orang mengirim surat dengan perangko gambar Presiden Soeharto.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Dugaan Yang Salah

Ilustrasi

Bayi-Bayi Pergaulan Bebas

Lebih bernilai dari berlian

Buku

Dua dunia wanita

Seni Rupa

Ini sebuah pameran profesi

Soalnya memang jarang

Soalnya memang jarang

Suka Duka

Si Nengnong Di Lintasan Rel

Si nengnong di lintasan rel

TEMPO|interaktif

Olahraga

Piala Eropa, Baloteli Janji Jaga Sikap

Kondisi Jenazah Korban Sukhoi Tak Sampai 50 Persen

30 Psikolog UI Dampingi Keluarga Korban Sukhoi  

Bisnis

Pelabuhan Cilamaya Dioperasikan 2017  

Penegakan Hukum Kunci Atasi Intoleransi

Spanyol Panggil Torres dan Mata

Olahraga

Simon Sumbang Angka Pertama bagi Tim Thomas Cup  

Nasional

Para Tokoh Ini Diincar Golkar Jadi Cawapres  

Bisnis

Saham Hari Ini Masih Seret

Dunia Soroti Intoleransi di Indonesia

Olahraga

Sriwijaya FC Tekuk Persiwa 3-2  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif