• Home
  • 20 Januari 1979
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 Januari 1979

    Lagi, Tentang Test Diagnostik

    PELAKSANAAN test diagnostik yang bocor di beberapa tempat sempat heboh. Pertengahan Desember lalu Prof. Dardji Darmodihardjo, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (PDM), nampaknya kesal juga. "Orang-orang itu kurang kerjaan, kenapa tes itu musti diributkan," katanya. "Kalau yang bocor itu ujian EBTA wajar diributkan. Karena berpengaruh terhadap lulus atau tidaknya seorang murid kelas terakhir." Tes yang diselenggarakan pada semua kelas dan bertujuan untuk mengetahui daya serap murid terhadap kurikulum 1975 yang berlaku itu, menurut Dardji lagi, tidak berpengaruh baik terhadap ujian maupun kenaikan kelas. Tapi yang membuat panik terutama para guru bukan cuma karena terjadi kebocoran itu. Melainkan juga karena 23 Desember adalah batas waktu untuk menyerahkan hasil dan analisa tes diagnostik itu, agar program perpanjangan tahun ajaran sudah bisa dimulai awal Januari ini. Batasan ini dianggap terlalu sempit. Baik Sinu Nawy, Kepala SMA Arena Siswa II, Jakarta, maupun Ibu Mamah, salah seorang guru di Ja-Bar, dalam surat pembaca di Kompas. mengeluh. Hasil tes itu, kata Sinu Nawy, "tidak akan sempurna." Namun Dirjen PDM membantah pernah memberikan batas waktu itu. "Kalau saya pernah mengatakan itu, namanya Dirjennya yang gila," katanya. Hanya laporan dari daerah memang diperlukan. Tapi itu pun ditunggu pertengahan Pebruari nanti. Menurut Dardji laporan dari daerah sampai kini sudah 60% yang masuk. Dari laporan yang masuk itu hasil tes diagnostik itu menunjukkan rata-rata daya serap murid sekitar 60%. Tapi banyak juga yang di bawah 50%. Jadwal yang sudah direncanakan Departemen P & K agar program perpanjangan tahun ajaran sudah dimulai Januari ini, nampaknya di beberapa daerah belum bisa dilaksanakan. Jawa Barat misalnya, menurut Kumpul Murtaji, Kakanwil P & K, hasil tes diagnostik sampai saat ini masih dalam taraf evaluasi. "Diakui terlambat karena tesnya bocor," katanya. Bahkan Jakarta sendiri, tes tersebut masih diolah masing-masing sekolah. "Baru Maret nanti kita mengetahui hasilnya," kata Minaryo, Kakanwil P & K Jakarta. Teori Memang tidak mudah untuk menjejalkan empat aspek (peningkatan mutu, pendidikan moral pancasila, pembinaan generasi muda dan keterampilan) dalam program perpanjangan tahun ajaran yang hanya enam bulan itu. Lebih-lebih tentu bagi daerah yang belum mengeta hui hasil tes diagnostiknya. Itu sebabnya, Kalimantan Selatan misalnya, tidak berambisi terlalu tinggi. Hasil tes diagnostiknya menunjukkan 50% sedang, 50% lagi kurang. Maka sesuai dengan petunjuk yang sudah diberikan Departemen P & K, sekolah-sekolah di Kal-Sel akan lebih banyak diberikan program perbaikan dari pada pengayaan. Itupun, kata Broto Moeljono, Kakanwil P & K Kal-Sel, target perbaikan mutu bagi kelompok yang daya serapnya sedang selama program perpanangan yang sudah dimulai Januari ini hanya sampai 80% dan bagi yang daya serapnya kurang 75%. Acara tes diagnostik ini memang barang baru. Di negara maju, kata Daoed Joesoef, Menteri P & K, tes ini diselenggarakan setiap hari. Dan kalau sekarang ada tes itu, bukan dimaksudkan untuk memperbanyak jumlah lulusan. "Tapi untuk meningkatkan mutu," katanya. Lagi pula perpanjangan masa belajar selama enam bulan ini, sambung Dardji Darmodihardjo, nilainya sangat mahal. Baik biaya maupun tenaga. "Itu sebabnya harus digunakan seefektif mungkin," kata Dardji lagi. Itu pula sebabnya ada tes diagnostik ini, agar guru tahu persis daya serap muridnya. Dengan begitu diketahui dengan agak persis pula target mutu yang hendak dicapai. Begitulah teorinya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Dugaan Yang Salah

Ilustrasi

Bayi-Bayi Pergaulan Bebas

Lebih bernilai dari berlian

Buku

Dua dunia wanita

Seni Rupa

Ini sebuah pameran profesi

Soalnya memang jarang

Soalnya memang jarang

Suka Duka

Si Nengnong Di Lintasan Rel

Si nengnong di lintasan rel

TEMPO|interaktif

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif