• Home
  • 31 Maret 1979
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 31 Maret 1979

    Cara Menyimpan Uang

    AKIBAT Knop 15 tahun lalu, orang bertaya-tanya: jadi dengan cara bagaimana meyimpan uang paling baik? Selama ini banyak orang kota menyiman kelebihan uangnya dengan mendepositoan di bank. Orang desa lebih senang menyimpan kekayaan dalam bentuk emas. Para koptor di negara berkembang merasa lebih aman menyimpan uangnya di Swiss atau di Amerika Serikat dalam bentuk mata uang negara-negara tersebut. Sedang orang yang sedikit berjiwa bisnis, beli saham yang sejak dua tahun lalu mulai dipopulerkan di Indonesia. Demikianlah cara-cara umumnya orang mengamankan kekayaannya secara pasif (tanpa usaha perdagangan). Marilah kita ikuti tiga parameter keuangan yang penting di dunia. Yaitu US dollar, yang anggap sebagai mata uang dunia, Swiss Franc yang merupakan mata uang paling stabil, dan emas 24 karat yang secara tradisionil selalu dikaitkan dengan nilai uang di mana-mana. Dalam tabel 1, anda melihat kurs valuta asing tersebut dan harga emas di Jakarta pada akhir Desember tahun-tahun yang disebutkan. Kita ambil sebagai permulaan tahun 1973 (index = 100), karena waktu itu rupiah kita masih mengambang, belum dikaitkan dengan dolar. Dan kita akhiri dengan notasi 30 Desember 1978, karena rupiah kita sudah diambangan kembali serta gejolak Knop 15 sudah agak reda. Selanjutnya kita lihat perkembangan jumlah uang bila didepositokan di bank secara bunga berbunga (compound interest) lima tahun terus-menerus. Untuk uang rupiah, kita ambil bunga deposito jangka panjang di Indonesia rata-rata 18% setahun. Sedang untuk valuta asing kita ambil rate bunga deposito yang terendah di negara bersangkutan, yaitu di Amerika Serikat 7% dan di Swiss 4% setahun. Hingga bila kita mendepositokan uang 100 satuan pada akhir 1973, dari tabel 2 kita akan melihat jumlah simpanan pokok dan bunganya pada tahun-tahun berikutnya. Maka dari kedua tabel di atas, andaikata anda mempunyai kelebihan uang sebesar Rp 1.000.000 pada akhir 1973, uang tersebut sekarang bisa menjadi: a. Bila didepositokan dalam bentuk rupiah di Indonesia: 2,29 x Rp 1.000.000 atau Rp 2.290.000. b. Bila disimpan di salah satu bank Amerika dengan bunga 7%: 1,40 x 1,48 x Rp 1.000.000 atau Rp 2.072.000. c. Bila anda mendepositokannya di Swiss walaupun bunga hanya 4% setahun, tapi nilainya bila dirupiahkan sekarang menjadi 1,22 x 2,67 x Rp 1.000.000 atau Rp 3.257. 400. d. Tapi bila anda belikan emas 24 karat waktu itu dan sekarang dijual kembali, anda bisa mengharapkan menerima uang sebesar 3,1 1 x Rp 1.000.000 atau Rp 3.110.000. Dari perhitungan di atas dapat kita simpulkan, mengapa uang panas hasil korupsi komisi, perbuatan kriminil lain dan warisan banyak mengalir ke Swiss untuk didepositokan. Dan mengapa pula para petani atau orang awam yang tak tahu ilmu keuangan lebih senang menyimpan kelebihan uangnya dalam bentuk emas atau perhiasan. Anda lihat sendiri bagaimana meningkatnya nilai simpanan mereka, lebih-lebih dua tahun terakhir ini, di mana kenaikan harga emas lebih dari 100%. Dapat juga Anda bayangkan betapa sulitnya "mengajak" orang Indonesia agar mau membeli saham perusahaan dalam negeri. Tetapi akhirnya yang paling beruntung adalah yang semula "orang kota" berbalik menjadi "orang desa". Yaitu mereka yang mulai 1973 mendepositokan uangnya dalam rupiah lalu diambil Kembali akhir 1977. Kemudian langsung dibelikan emas dan dijual kembali Desember 1978. Maka bila uangnya mula-mula Rp 1.000.000, tentu sekarang menjadi Rp 4.160.000 atau kurang sedikit. Ini cukup hebat. Karena hasilnya sama dengan bila uang itu diputarkan dalam satu usaha bisnis yang menyisihkan laba sebesar 63% setiap tahun. ir. ABDUL GAFUR AS d/a Lembaga Management Jawa Timur, Jl. Kayoon 68, Surabaya. TABEL 1: KURS & HARGA BEBAS DI JAKARTA (Sumber: BPS dan ompas 2 Januari 1979). Akhir 1 US $ 1 Swiss Fr 1 gram emas Tahun Rp index Rp index Rp index 1973 420 100 145 100 1480 100 1974 422 100 160 110 2450 166 175 420 100 160 110 1900 128 1976 421 100 174 12,0 1850 125 1977 420 100 205 141 2150 145 1978 623 148 387 267 4600 311 TABEL 2: PERHITUNGAN BUNGA MAJEMUK Akhir Bunga per tahun Tahun 18% (Rupiah) 7% (US $) 4% (Swiss Fr) 1973 100 100 100 174 118 107 104 1975 139 114 118 1976 164 122 112 l977 194 131 117 1978 229 140 128

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Tanpa Busana Rapi

Ilustrasi

Kisah udin dan kincir air

Hanya hobi tuan holtorf

Hanya hobi tuan holtorf

Buku

Pampasan perang jepang liku-liku

Seni Rupa

Citra seni rupa indonesia, sebuah...

Citra seni rupa indonesia, sebuah...

Belum muncul jagoan

Suka Duka

Petani Garam, Melata Di Lumpur Nasib

Kuwu, sebuah legenda

TEMPO|interaktif

Olahraga

Kunjungi Markas Milan, Mancini Disebut Tawar Ibra

Nasional

Irman Gusman Tak Keberatan Diusung Golkar

Polisi Jangan Tunduk kepada Ormas Intoleran  

Olahraga

Adebayor Ingin Jadi Pemain Tetap Spurs

Sebelum Lihat Korban, Keluarga Diminta Daftar Dulu

Olahraga

Piala Eropa, Baloteli Janji Jaga Sikap

Kondisi Jenazah Korban Sukhoi Tak Sampai 50 Persen

30 Psikolog UI Dampingi Keluarga Korban Sukhoi  

Bisnis

Pelabuhan Cilamaya Dioperasikan 2017  

Penegakan Hukum Kunci Atasi Intoleransi

Spanyol Panggil Torres dan Mata

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif