• Home
  • 30 Juni 1979
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 30 Juni 1979

    Masih pakai "tenaga dalam"

    AGAKNYA tak ada hari dalam kejuaraan nasional pencak silat di Jakarta pekan silam berlalu tanpa protes. Mengapa? "Jurinya tidak jujur," ucap manajer tim Aceh, S. Trisna. Ia memprotes keputusan pimpinan pertandingan ketika pesilat asuhannya, Ramli, dinyatakan kalah angka (14) atas Amrullah dari NTB. Ramli sempat menjatuhkan Amrullah 2 kali di ronde ke-3, katanya, maka jelas lebih unggul ketimbang lawannya yang cuma banyak 'mencolek'. Sebaliknya di mata juri, walau Amrullah tak tampil sekarang Ramli, pukulannya banyak menghasilkan angka. "Colek-colek sekalipun, kalau itu biji, dicatat," kata Sekjen IPSI, Harsoyo. Juga kekalahan pesilat puteri Rosiana telah menimbulkan protes tim Sumatera Selatan. Juri menyatakan Rosiana kalah melawan Yusni Haryani dari Aceh. Untuk setiap pertandingan wasit dibantu oleh 5 orang juri sebagai pemberi angka. Seorang wasit nasional -- tak mau ditulis namanya -- tampak meragukan kejujuran beberapa juri tersebut. Terutama bila yang bertanding adalah pesilat satu aliran dengan mereka, sekalipun berasal dari daerah lain. Contoh keraguannya Pesilat Bali Wayan Sudri, diandalkan untuk meraih medali emas. Tapi ketika di ronde penyisihan ketemu pesilat Jakarta, Maria, dan dipimpin oleh wasit dan juri dari aliran tertentu, ia langsung diperkirakan wasit nasional tadi di pihak yang kalah. Dan, benar. "Padahal teknik permainan Sudri jauh lebih baik dari musuhnya," ujarnya kepada N. Wedja dari TEMPO. Harsoyo membantahnya. "Saya yakin, sewaktu bertugas para wasit dan juri itu melupakan alirannya," ucapnya. Ia melihat kericuhan dalam kejuaraan, kini apalagi dulu disebabkan belum sempurnanya peraturan pertandingan. Dan, "penyempurnaan itu akan memerlukan waktu yang lama." Kejuaraan nasional pencak silat baru diadakan 3 kali sejah 1976. Namun Ketua II IPSI, M.D. Junaedi mengakui bahwa faktor manusia (baca: aliran) memang belum sepenuhnya bisa dihilangkan. Kejuaraan nasional pencak silat ini tak hanya diwarnai oleh kurang sempurnanya peraturan pertandingan dan masalah aliran semata. Juga peran tenaga batin masih terlihat. Ada pemandangan, seperti kesurupan orang memukul-mukul dinding gelanggang olahraga Bulungan, Jaklrta, untuk maksud yang tidak jelas. Di Bulungan itu babak penyisihan dilangsungkan. Tahun-tahun sebelumnya, unsur tenaga batin ini malah ikut berperan sampai di lapangan pertandingan. Pernah dalam kejuaraan junior 1978, seorang pesilat yang dipukul tangannya merasakan sakitnya di hati. Dokter sampai bingung. Tapi di tangan dukun, ia jadi sembuh. "Apalagi namanya itu, kalau bukan kekuatan dalam," cerita Junaedi. Faktor pemakaian tenaga dalam ini menurut Ketua Bidang Teknik dan Pengembangan IPSI, Januarno, masih sulit untuk dihilangkan sepenuhnya. "Masing-masing aliran belum bisa berkomunikasi secara baik," katanya. Jumlah aliran dalam pencak silat ada sekitar 800. Guna mencegah penyalah-gunaan tenaga dalam itu, kali ini panitia menyiapkan sejumlah tenaga khusus. Jumlah dan orangnya tak disebutkan. Mereka itu ditunjuk oleh Dewan Pendekar. Kejuaraan nasional 1979 diikuti oleh 22 dari 24 propinsi yang sudah mempunyai pengurus daerah IPSI. Ada 137 pria dan 42 pesilat puteri mengikutinya. Tahun lalu, cuma 145 peserta. Maju? Ketua Panitia Pelaksana, Eddy Nalapraya sudah bergembira, sekalipun di beberapa daerah cabang ini masih dianak-tirikan. "Ada mereka yang datang dengan biaya sendiri," katanya. DKI Jakarta, memang lebih mendapat perhatian dibandingkan daerah lain,ÿ20berhasil mempertahankan Piala Menko Kesra Soerono dan menerima piala bergilir Presiden Soeharto.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Teladan Kesederhanaan

Seni Rupa

Jakarta dari beberapa jurusan

Suka Duka

Yang tidak doyan nasi

Ilustrasi

1200 tikungan tarutung-sibolga

Jempol bu idah

TEMPO|interaktif

Olahraga

Pelatih Timnas U-21 Cemaskan Mental Pemain

Internasional

Korea Utara Buka Perundingan Perlucutan Nuklir  

Bisnis

Pasar Modal Bisa Jadi Pesaing Perbankan  

Metro

Menyaru Biksu, Tiga WNA Jadi Peminta-minta

Olahraga

City Bidik Final Europa  

Kini Edo Kondologit Rajin Nonton Siaran Berita  

Nasional

Berkas Nunun Nurbaetie Dilimpahkan ke Pengadilan  

Teknologi

iPhone, Ponsel Incaran Maling  

Bisnis

Pengusaha Sapi Minta Prosedur Impor Dipersingkat  

Seni & Hiburan

Konser Amal untuk Bangun Pendidikan di NTT  

Nasional

Ogah Berkelahi, Anggota DPR Dorong Petugas Bandara  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif