• Home
  • 30 Juni 1979
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 30 Juni 1979

    Jakarta dari beberapa jurusan

    ADA 15 sketsa Popo Iskandar -- di antara sejumlah karyanya yang dipamerkan di Mitra Budaya, 20-24 Juni -- yang mengambil obyek Jakarta. "Saya ingin membuat catatan artistik tentang Jakarta," kata Popo (52 tahun) mencoba menerangkan. Tapi agak lain dengan karya beberapa pelukis yang pernah melukis Jakarta, sketsa Popo tidak menampilkan ciri khas Ibukota. Tak ada Monas, tak ada Jalan Thamrin yang penuh mobil. Jalan itu sepi. Bahkan Arya Duta Hyatt juga tampil sebagai gedung menjulang yang bisu. Sementara Pasar Boplo -- terletak sekitar 500 meter sebelah timur Toserba Sarinah -- hanya berupa setumpuk botol minuman dalam rak. "Barangkali karena kekuatan saya pada kelancaran garis dan irama, maka Jakarta saya bawa ke sana." Padahal pelukis ini tinggal di Bandung. Jadi kenapa mesti yang di Pasar Boplo, Jakarta, kalau hanya ingin menggambar serak botol minuman? "Karena kontak baru terjadi di Jakarta," katanya. Sebetulnya gagasan melukis suasana kota sudah timbul ketika dia melawat ke Eropa, 1976. Tapi baru sekarang dilaksanakannya. Tidak hanya Jakarta rencananya, juga Bandung dan kota lainnya. "Supaya kita jangan selalu melukis Bali saja," tambah Popo. Pelukis yang beberapa bulan lalu membuka museum pribadi itu menyadari juga kalau Jakartanya lain dengan Jakarta Srihadi. "Saya tak mencoba memberi pesan atau apa pada sketsa saya. Saya hanya ingin mencoretkan kesan-kesan artistik tentang Jakarta." Katanya pula dengan yakin "Kwa artistik saya kira tak kalah dengan lukisan saya yang dengan akrilic atau cat minyak." Memang. Sebuah sketsa berjudul Kuningan -- kawasan yang baru sekitar dua tahun dibelah jalan raya yang mahal, dan di kanan-kiri masih banyak tanah kosong --tampil dengan beberapa garis dan berpuluh noktah menggambarkan kerindangan pepohonan. Karya ini salah satu yang berhasil menampilkan satu suasana hanya dengan beberapa coretan. Ali Sadikin Tapi dengan demikian, ide Jakarta hanya berarti bagi si pelukis sendiri. Penonton tak akan ambil pusing apakah itu sketsa pedagang kakilima di Cililitan atau di sebuah jalan di Yogya, misalnya. Srihadi sebaliknya. Meski jelas-jelas ia menggambar Jakarta (ada Monas, ada air mancar Jalan Thamrin, ada patung 'Selamat Datang') justru gambar itu hanya diberinya judul Kota. Dia terutama memang tak hendak memotret Jakarta. Yang hendak ditampilkan dengan meminjam obyek Jakarta adalah gagasan, ide, yang mungkin tak hanya berlaku buat Jakarta tapi banyak kota besar di dunia macetnya lalu lintas, pencakar langit yang berdamping dengan gubug-gubug bobrok, papan reklame yang memenuhi semua sudur kota. Itulah sebabnya Gubernur DKI yang dulu, Ali Sadikin, pernah salah-paham dengan sebuah karya Srihadi. Judulnya Air Mancar -- menggambarkan ributnya suasana di tengah kota. Yang membuat salah paham gedung-gedung sekitar air mancur itu penuh bertempel lampu reklame Hitachi, Toshiba, Toyota, Philips dan banyak lagi. Nah, dicoretlah oleh sang gubernur dengan tulisan: "Apa ini reklame barang Jepang??" Dan Dewan Kesenian Jakarta pun lantas menjelaskan. (Lukisan 1973 itu malah lantas menghias sebuah ruang di Balai Kota DKI, sampai sekarang, lengkap dengan coretannya). Bagaimana pun, Srihadi masih setia dengan kenyataan visual yang ada. Dia tak merubah -- hanya mengkomposisikan dan membentuk menurut gayanya. Tapi ada lukisan pelukis lain yang dilihat dari obyek bakunya lebih lagi "persis dengan aslinya" -- dari Dede Supria (21 tahun), yang melukis Monas dengan menyontek foto. Hanya saja, tugu Monas tak lagi berpuncak api keemasan -- sudah digantinya dengan botol kecap cap Bango, terletak besar dan miring di pucuk. Lukisan itu lalu bisa memberi kesan macam-macam. Dilihat dari jurusan Dede, terasa sketsa Jakarta Popo "ketinggalan zaman". Tapi Popo memang bukan menekankan Jakartanya. Kalau jadinya orang tidak mengenal obyeknya sebagai satu sudut Jakarta, yah apa boleh buat. Dan barangkali hanya soal teknis, kalau dia memamerkannya bertepatan dengan ulang tahun ke-452 Ibukota.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Teladan Kesederhanaan

Seni Rupa

Jakarta dari beberapa jurusan

Suka Duka

Yang tidak doyan nasi

Ilustrasi

1200 tikungan tarutung-sibolga

Jempol bu idah

TEMPO|interaktif

Prandelli Sudah Siapkan Skuad Inti Italia

Olahraga

Markis-Hendra Tersungkur, Taufik Menang  

Olahraga

Tim Uber Indonesia Dipastikan ke Perempat Final  

Olahraga

Kunjungi Markas Milan, Mancini Disebut Tawar Ibra

Nasional

Irman Gusman Tak Keberatan Diusung Golkar

Polisi Jangan Tunduk kepada Ormas Intoleran  

Olahraga

Adebayor Ingin Jadi Pemain Tetap Spurs

Sebelum Lihat Korban, Keluarga Diminta Daftar Dulu

Olahraga

Piala Eropa, Baloteli Janji Jaga Sikap

Kondisi Jenazah Korban Sukhoi Tak Sampai 50 Persen

30 Psikolog UI Dampingi Keluarga Korban Sukhoi  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif