• Home
  • 20 Oktober 1979
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Ralat
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 Oktober 1979

    Henry kissinger menulis memoir

    HENRY Kissinger menulis memoir, dan seluruh dunia menunggu. Maka ketika bukunya keluar, 1.521 halaman dan harga sekitar Rp 15.000, berhamburanlah penerbitan media massa mengutipnya. Bagian-bagian yang disarikan dari White House Years disiarkan dalam hampir seluruh koran di dunia. Majalah Time sudah tiga kali berturut-turut memuat versi yang telah diringkas, seraya mengumumkan bahwa jilid kedua buku itu sedang disiapkan. Kissinger memang berharga. Ia untuk waktu yang panjang (sejak Nopember 1968 hingga 1977) duduk di kursi yang sangat menentukan politik luar negeri Amerika Serikat, negeri raksasa itu. Ia ikut menggelindingkan perubahan-perubahan besar. Ia pergi ke Peking secara sembunyi-sembunyi dan menjalin hubungan Amerika-Cina ketika hal itu tak terbayangkan. Ia berunding dengan Vietnam Utara untuk mencoba mengakhiri keterlibatan Amerika di Asia Tenggara -- dan dapat Hadiah Nobel Perdamaian. Ia menyaksikan hari-hari terakhir Presiden Nixon yang terlibat dalam kekotoran politik Watergate. Ia ikut menjatuhkan Presiden Allende di Chili dan ia, seorang Yahudi, bersahabat dengan Sadat. Dan ia pintar menulis. Ia jernih dalam menyusun pikiran. Kalimatnya terang serta ringkas tapi hidup. Ia punya banyak anekdot tentang tokoh-tokoh dunia. Ia bisa lucu, dan sekalipun sadar akan kepintaran dan kekayaan pengalamannya, ia bisa mentertawakan diri sendiri. Tapi sementara itu juga ia harus diterima dengan berhati-hati. Ia bisa meyakinkan, tapi siapa tahu ia masih terus berbohongi' White House Years ditulis ketika debu belum seluruhnya reda ke tanah, setelah perang dan pertikaian sengit di pojok-pojok dunia. White House Years juga ditulis ketika Amerika --dan Kissinger--masih dituding-tuding untuk darah yang tumpah di Indocina dan kekotoran-kekotoran yang terjadi di Amerika Latin serta Iran. Kissinger mustahil tak ingin membikin pleidooi. Michael Maccoby dalam studinya yang termashur tiga tahun yang lalu menyebut Kissinger sebagai seorang gamesman yang berbakat: satu tipe tokohyang minat utamanya adalah tantangan, kegiatan bersaing, di mana ia bisa kasih unjuk bahwa dialah si pemenang. Ringkasnya, ia seorang yang menyambut kerja dan kehidupan bagai sebuah game. Karya Kissinger yang mutakhir ini, sebuah buku, mungkin juga hanya satu unsur dalam permainan itu -- seperti halnya tindakan-tindakannya dulu. Kissinger masih senyum dengan matanya yang kelap-kelip tajam, dan dalam keadaan lebih langsing, ia konon siap untuk jadi Senator. Dan seorang yang belum mau pensiun masih bisa bohong. Ia mengakui tanpa rasa bersalah, tapi penuh penjelasan, 'bagaimana pemerintah AS di masanya menjatuhkan Presiden Allende dan ikut mengocok politik dalam negeri Chili. Tapi ia mengesankan ia tak tahu sebelumnya bahwa Marsekal Lon Nol menggulingkan Pangeran Sihanouk--sementara Sihanouk yakin bahwa CIA main untuk menyingkirkannya. Mana yang benar? Tapi memang tak jarang buah pikiran Kissinger yang muncul di sana-sini dalam bukunya menunjukkan bahwa ia pun tak bebas dari beban moral. Di antara keyakinan keras dalam menghadapi apa yang ia anggap musuh, ia sering masih terpaksa menjawab dengan rasa berdosa. Bagaimana orang bisa cuma Otak yang menghalalkan segala-galanya, untuk seterusnya? Di tahun 1970 Kissinger yang sedang sibuk dengan pemboman Kamboja bahkan mengadakan kontak dengan sejumlah kaum pafifis muda yang menentang perang. Pertemuan mereka tanpa hasil. Tapi, kata Kissinger, 'Dialog kami adalah dialog yang tak akan berakhir terus-menerus antara negarawan dengan para nabi, antara mereka yang bekerja dalam kerangka waktu melalui tahap-tahap yang dapat dijangkau, dengan mereka yang memprihatinkan masalah kebenaran dan hal-hal yang kekal." Ia mengerti oposisi itu. Dan ucapannya tentang Iran terdengar benar walaupun ia bersimpati kepada Shah "Bijaksanalah sang Penguasa yang mengerti bahwa pembangunan ekonomi . . . membawa juga kemestian untuk membangun insitusi politik baru guna menampung bertambah majemuknya masyarakat." Shah tidak tahu itu.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Generasi muda sul-ut

Pertunjukan adi bing slamet

Catatan Pinggir

Henry kissinger menulis memoir

Ilustrasi

Gerabah di tengah gangguan plastik

Suka Duka

Duit kecil dan banyak begadang

Tari

Kanvas tiga dimensi

Manusia bukan binatang tunggal

TEMPO|interaktif

Prandelli Sudah Siapkan Skuad Inti Italia

Olahraga

Markis-Hendra Tersungkur, Taufik Menang  

Olahraga

Tim Uber Indonesia Dipastikan ke Perempat Final  

Olahraga

Kunjungi Markas Milan, Mancini Disebut Tawar Ibra

Nasional

Irman Gusman Tak Keberatan Diusung Golkar

Polisi Jangan Tunduk kepada Ormas Intoleran  

Olahraga

Adebayor Ingin Jadi Pemain Tetap Spurs

Sebelum Lihat Korban, Keluarga Diminta Daftar Dulu

Olahraga

Piala Eropa, Baloteli Janji Jaga Sikap

Kondisi Jenazah Korban Sukhoi Tak Sampai 50 Persen

30 Psikolog UI Dampingi Keluarga Korban Sukhoi  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif