• Home
  • 20 September 1980
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 September 1980

    W.C Mampet ? Tanya PITB

    ANDA punya niat membangun rumah? Siap-siap saja menghadapi berbagai kerepotan. Karena urusan demi urusan akan membelit kesibukan -- bahkan mendongkolkan. Coba saja ikuti pengalaman seorang pemuda yang bercita-cita mempunyai rumah sendiri. Beberapa tahun yang lalu ia membeli tanah di Jati Padang, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta. Tidak luas, cuma 400 mÿFD saja. Dan mulai saat itulah kerumitan muncul. Langkah pertama, untuk mengetahui status tanah yang dibelinya dari penduduk asli Betawi di Jati Padang, dia pergi ke Suku Dinas Agraria dan Tata Kota Jakarta Selatan. Hal itu sangat perlu untuk mengetahui adakah tanahnya termasuk kawasan jalur hijau, daerah perumahan, pertokoan. Atau "high control" yang berarti dalam pengawasan yang ketat sehingga tidak bisa sembarangan mendirikan rumah di situ. Juru ukur Kantor Walikota Jakarta Selatan menyanggupi datang. Tapi terang-terangan dia minta "uang bensin". "Tidak banyak, cukup Rp 20.000 saja," ujarnya. Beberapa jam kemudian si juru ukur datang dengan mobilnya yang keren: Alfa Romeo. Untuk minta gambar resmi "peta situasi" pemuda tadi harus pula membakar uang pelicin Rp 10.000. Celakanya, peta tersebut ada tulisan "high control" kelak letak tanah si pemuda tersebut banyak terpotong-potong jalan dan mustahillah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bisa keluar. Advis Gratis Si pemuda hampir mogok. Tapi dari seorang temannya, yang pernah memheri Rp 75.000 untuk "peta situasi", rencana jalan dapat dihapuskan dari peta. Tulisan "high control" dapat diganti "pemukiman". Beres. Langkah berikutnya ialah bagaimana membangun rumah seperti diinginkan. Sebagian besar mereka yang membangun rumahnya, bahkan mereparasi rumahnya saja, selalu menderita tekor. Perencanaan yang diidamkan dengan isi kantung, biasanya tidak segaris lagi. Agar tidak tekor dan rumah ideal bisa dibangun, ada sebuah kantor yang bisa memberi advis secara gratis Pusat Informasi Teknik Pembangunan (PITB) atau Building Information Centre (BIC). Letak kantornya memang tidak menonjol. Walaupun PITB telah berusia 10 tahun, masyarakat ramai belum banyak yang tahu, bangunan mungil yang berada di tengah-tengah lapangan parkir Departemen Pekerjaan Umum, infomasi bisa didapat tanpa bayar. "Prinsipnya kami membantu masyarakat awam membangun rumahnya," kata Kepala PITB Jakarta, Ir. Guntur W.S. Hutapea. "Hanya PITB belum dikenal dan tempatnya tidak gampang ditemui masyarakat," tambahnya. Proyek yang berdiri di bawah Departemen Pekerjaan Umum ini bergerak di bidang kecipta-karyaan. Artinya, sebagai wadah yang bisa dijangkau masyarakat untuk mendapat informasi dan penyuluhan di bidang tata kota, tata daerah, tata bangunan, perumahan, tehnik penyehatan dan bahan bangunan. Untuk memasyarakatkan diri inilah PITB berpameran di Pasar Seni Ancol pertengahan September ini. Pameran menyediakan dengan cuma-cuma buku contoh perumahan sehat. Dalam buku stensilan tersebut diperinci pula banyaknya material yang dipakai, macam material dan berapa tenaga kerja yang diperlukan. Yaitu hanya rumah sederhana yang berkelas T-36, T-45 dan T-70 -- sejenis rumah yang didirikan oleh Perumnas. PITB sengaja hanya membuat rencana jenis rumah sederhana. Bagi mereka yang mempunyai uang banyak, "ya silahkan datang ke arsitek saja," kata Hutapea. "Sebab kalau kami menangani hal ini, berarti kami "makan" porsinya arsitek atau konsultan," tambahnya. Jasa informasi yang diberikan PITB sampai sekarang baru dimanfaatkan kelompok-kelompok yang biasa disebut pemborong, konsultan, perusahaan asing, industri, yang biasanya berkaitan dengan pemasaran produksi bangunan. PITB -- sementara ini --jadiiah semacam perantara antara produsen dan konsumen. Karena itulah PITB juga menerbitkan daftar harga bahan bangunan. Walaupun tidak semua produsen bersedia memberitakan harga yang semestinya. Baru produsen kelas besar seperti pabrik cat ICI atau genteng Tegola (yang impor) yang berhubungan dengan PITB. "Selama ini, belum ada perusahaan bata merah dari desa yang datang," kata Hutapea lagi. PITB kurang merakyat? Tampaknya begitulah PITB Jakarta. PITB di daerah dirasa lebih bermanfaat. Maksudnya bisa memberi penerangan langsung ke masyarakat bagaimana cara mendirikan rumah sehat, tidak mahal, membuat lingkungan bersih dan segala hal yang berkenaan dengan perumahan dan lingkungan. PITB Jakarta hanya mempunyai tenaga 25 orang -- mulai dari tenaga inti yang insinyur sampai pesuruh kantor. Hutapea ingin agar PITB seperti yang ada di luar negeri. "Di sana, katakanlah di negeri Belanda," ceritera Hutapea, "PITB harus sanggup menjawab pertanyaan tentang warna cat, dapur yang bocor sampai WC yang mampet."

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Birokrasi Di Cina

Buku

"p" dan remang-remang

Ilustrasi

W.C Mampet ? Tanya PITB

TEMPO|interaktif

Bisnis

Dahlan Iskan Akui Cabut SK Karena Tekanan Politik  

Seni & Hiburan

Polri Siap Jaga Konser Lady Gaga dari Penonton Palsu  

Bisnis

Intervensi BI Kuatkan Rupiah  

Nasional

Ahli Telematika Video Porno Dipanggil Lagi oleh BK  

Metro

Polda Kaji Contra Flow Thamrin-Sudirman  

Nasional

Grasi Dikabulkan, Hukuman Corby Dipotong 5 Tahun  

Olahraga

Milan Rampingkan Skuad Musim Depan  

Bisnis

Jaya Konstruksi Rambah Proyek Jalan Tol  

Nasional

Tim Kejaksaan Agung Turun ke Banyuwangi

Internasional

NATO Sepakat Tarik Pasukan di Afganistan  

Otomotif

Belum Peluncuran, Warga Yogya Inden Nissan Evalia  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif