• Home
  • 20 September 1980
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 September 1980

    Bisa Bingung Dengan Statistik

    DI zaman Ketua Mao Tse-tung melancarkan Lompatan Besar Ke Depan, dari RRC sering terdengar berbagai angka yang mengesankan. Tujuannya ialah menunjukkan betapa program pemerintah itu sukses sekali. Ternyata banyak data itu sengaja digelembungkan untuk keperluan propaganda politik, dan Lompatan Besar itu akhirnya gagal. Walaupun tidak dipolitikkan, statistik bisa juga membingungkan. Suatu negara ASEAN konon pernah merasa produksi berasnya meningkat, berdasarkan suatu sensus pertaniannya. Tapi sesudah pemerintah menyiarkan angka sensus itu, harga beras justru meningkat, sedang kemudian impor beras bahkan dilakukan secara besar-besaran. Mungkin waktu itu, menurut Ippei Sugiura, ahli statistik Jepang, agak kelebihan orang menaksir (over-estimate) kenaikan produksi beras. Dan mungkin pula produksi beras benar meningkat, tapi produksinya per kapita tidak naik. Sedang angka penduduk waktu itu -- yang diketahui meningkat -- tidak jelas berapa sebenarnya. Prof. Sugiura dari Universitas Wakayama yang menulis untuk berkala bulanan Look Japan, Tokyo, nomor bulan ini tidak menyebut spesifik negara ASEAN itu. Ia sekedar hendak menyatakan betapa pentingnya infrastruktur statistik dibina. Investasi negara berkembang umumnya untuk infrastruktur statistik, seperti pusat komputer yang bisa cepat berhitung dan mengolah data, belum memadai. Statistik kini dianggap "alat" untuk perencanaan. Suatu negara berkembang seperti Indonesia yang melaksanakan pembangunan ekonominya dianggap sudah berjalan di atas rel yang tepat. Namun tanpa sistem statistik ia akan sukar mengambil keputusan tepat mengenai bagaimana mengolah kekayaan alam dan melaksanakan program pembangunan secara efisien. Mempelajari statistik, walaupun ilmu dasarnya, suatu keharusan di banyak fakultas perguruan tinggi. Tapi menjadi ahli statistik, masih sedikit orang Indonesia yang tertarik. Padahal permintaan pasaran tenaga kerja akan tenaga statistik sangat besar. Statistik kini makin menjadi persoalan internasional. Tanpa membaca statistik, misalnya, Bank Dunia tak akan memberikan pinjaman. Dengan bantuan stastik, sesuatu negara baru bisa menetapkan prioritas proyeknya atau menyatakan Repelitanya berhasil. Kerjasama antar-negara sudah dimulai untuk pembinaan statistik. Antara lain di Tokyo (5-7 Agustus) berlangsung pertemuan para pejabat statistik ASEAN dan Jepang. Seminar serupa direncanakan berlangsung di Indonesia setahun lagi. Jepang tergolong paling maju di dunia dalam bidang statistik. Dari seminar Tokyo itu, H.M. Abdul-madjid, Kepala BPS (Biro Pusat Statistik) Indonesia terutama tertarik pada pengalaman Jepang menggunakan Grid Square system yang, katanya, akan berfaedah juga bagi ASEAN. Sistem itu makin banyak dipakai untuk menilai kondisi lokal dan manfaat yang diperoleh dari berbagai proyek yang ada pengaruhnya pada kehidupan rakyat melarat. Tapi berapa per kapita? Jawaban lndonesia pun dalam banyak hal masih ngawur, sebelum diketahui jumlah penduduk. Ada yang menaksir 135 juta, atau 140 juta, atau 145 juta penduduk Indonesia sekarang. Taksiran itu umumnya bertolak dari hasil sensus penduduk 1961 dan 1971. Waktu itu BPS masih bekerja secara kuno. BPS diserahi lagi tugas melaksanakan sensus penduduk Indonesia mulai pekan ini (lihat box). Sekali ini BPS sudah dilengkapi dengan pusat komputer modern -- bantuan pemerintah Jepang. Kemampuannya mengolah data meningkat sekitar 20 kali. Dan dirinya sudah siap untuk mengolah data sensus penduduk yang masuk nanti. Dengan pusat komputer itu, tentu saja, BPS melakukan suatu lompatan besar ke depan. Informasinya diduga tak akan ngawur, insyaallah.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Birokrasi Di Cina

Buku

"p" dan remang-remang

Ilustrasi

W.C Mampet ? Tanya PITB

TEMPO|interaktif

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif