• Home
  • 29 November 1980
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 29 November 1980

    Konsultasi segi tiga untuk jayabaya

    GERBANG Desa Pamenang, 15 km Timur Laut Kediri, tampak dihias janur kuning dan umbul-umbul. Hampir setiap rumah juga berhiaskan janur kuning dan--tak lupa--berbendera merah putih. Gladhi desa, gotong royong bersih desa, telah dilakukan beberapa hari sebelumnya. "Karena besok akan ada tamu dari keluarga kraton Yogyakarta," kata Suroharjo, kepala desa Pamenang, yang telah memangku jabatannya selama 30 tahun. Dan keesokan harinya, 9 November, adalah bertepatan dengan 1 Suro 1913, tahun baru Jawa berdasarkan kalender Caka. Lokamuksa Banyak orang percaya di Desa Pamenang, ratusan tahun yang lalu, Raja Jayabaya moksha--sirna baik raga maupun sukma, pergi ke alam abadi. Mulanya, di salah satu.sudut desa tersebut ada sebuah pohon kosambi yang gagah dan besar. Di bawah pohon tersebut ada onggokan batu yang tampaknya seperti batu nisan tak beraturan. Onggokan batu itu kini tidak tampak lagi. Sudah berganti dengan sebuah bangunan mewah, dilindungi cungkup beratap sirap, ubin licin mengkilat dan terletak di atas tanah yang tinggi. Sekeliling pendapa dijaga tembok beton. Di salah satu temboknya ada tertulis: "Lokamuksa Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Dipugar 22 - 2-1975. Diresmikan 17 - 4 - 1976. Dipersembahkan untuk Nusa Bangsa." Di bawahnya terpahat siapa pemugarnya: "Keluarga Besar Hondodento--Yogyakarta." Dan untuk keluarga Hondodento itulah, hiasan janur kuning, umbul-umbul dan sang Saka merah putih di Desa Pamenang. "Keluarga kamilah, rupanya yang mendapat izin Prabu Jayabaya untuk memugar petilasannya," kata Shaidi Soerjoamidjojo (57 tahun). Shaidi adalah anak ketiga Hondodento V. Lahir di tahun 1889, Hondodento V menjabat "panitiyasa" (semacam menteri pekerjaan umum kraton), semasa mudanya. Nama tuanya Raden Ngabehi Boedjoresoberdopo dan kini menikmati uang pensiun dari kraton sebesar Rp 900. Shaidi menceriterakan bagaimana suasana mencekam ketika upacara pemugaran dimulai: Alam hening sekali, angin tidak mendesir, yang ada hanya suara orang menangis lirih sekali, dan lenguh orang seperti m>nahan beban berat. Yang seakan menahan beban berat ialah Shaidi. Sedangkarl yang menangis sesenggukan itu jurukunci Amat Redjo dan Kepala Desa,Soerohardjo. "Waktu itu adalah cobaanl untuk kami," ceritera Shaidi lagi. Sebab kalau saja Shaidi jatuh, berarti pemugaran tidak diijinkan. Beberapa waktu sebelumnya, banyak pihak yang berniat untuk memugar petilasan Jayabaya ini. Baik dari pihak Pemerintah Daerah maupun dari perseorangan. Tetapi macam-macam halangan selalu saja menghadang. Alias Aleksander Keluarga Hondodento memperoleh mandat untuk memugar petilasan Jayabaya dari seorang "konsultan kebatinan" yang bernama Pak Plered. Sejak 1972, keluarga tersebut memang sudah sering mengunjungi petilasan Jayabaya. Karena tempat ini telantar sekali, Hondodento V berniat akan memugarnya. "Ayah merasa petilasan yang menyedihkan itu tidak sepadan dengan keluhuran dan kebesaran Sang Prabu Sri Aji Jayabaya," ujar Shaidi. Mereka kemudian menghadap Pak Plered (78 tahun) yang tinggal di Kota Gede, Yogya, dan mempunyai keahlian berhubungan dengan alam gaib dan roh orang-orang yang sudah meninggal. Namanya yang lain hebat: Ki Wirjodikarso alias Abdullah alias Aleksander alias Tuwan Besar. Nama yang terakhir ini singkatan dari "metu aquan sasi Besar" atau lahir di siang hari di bulan Besar. Orang tua itulah yang berhak mengatakan "setuju" terhadap setiap rencana pemugaran. "Sebab beliaulah yang tahu, apakah bentuk bangunan cocok dengan kehendak Prabu Jayabaya," kata Shaidi. Dan Pak Plered bukannya bekerja seorang diri. "Sebab beliau juga berkomultasi dengan Nyai Roro Kidul," kata Indarto, Sekretaris Yayasan Hondodento "Dari hasil konsultasi segitiga (Plered Jayabaya, Nyai Roro Kidul) inilah kami bangun kembali Petilasan Lokamuksa," lanjut Indarto. Misalnya, harus mengambil batu seberat 3 ton wilayah gunung Merapi. Biaya pemugaran Rp 24 juta. "Kami patungan dan ada beberapa simpatisan yang juga ikut menyumbang," ujar Shaidi. Di samping herwujud uang, banyak juga pihak yang menyumbang bahan bangunan. Biayanya besar, karena lokasi seluas 170 ru, (1 ru Ik. 15 m2) dilengkapi dengan pendapa di bagian luarnya, altar yang mempunyai tangga marmer untuk menuju tempat yang dianggap paling keramat dan sering untuk tempat bersemedi. Dan di tempat yang paling tinggl dan dianggap pusat keramat itulah terletak "selo gilang" atau batu yang beratnya 3 ton yang diangkat dari Sungai Krasak, Magelang. Raja Jayabaya adalah raja ketiga dari kerajaan Kediri, awal abad ke-11 M yang banyak menghasilkan karya-karya sastra. Diperkirakan Jayabaya memerintah selama 30 tahun. Nama dan gelarnya yang resmi cukup panjang: Sri Maharaja Cri Dharmmeshwara Madhusudanawa taranindita Suhrtingha Parakrama Digjayotunggadewanama Jayabhayalancana. Jayabaya banyak disebut sebagai penjelmaan Dewa Wisnu di dunia--antara lain disebutkan dalam prasasti Talan. Bagi orang Jawa, Jayabaya terkenal ramalannya, yaitu akan munculnya Ratu Adil. Ramalan-ramalannya kini banyak dicetak dalam buku saku dan tetap laris dijual di kakilima. Petilasannya banyak dikunjungi orang. Jurukunci Amat Redjo, yang usianya telah 85 tahun dan menunggui makam selama 3 5 tahun berceritera, Bung Karno dulu juga pernah beberapa kali berziarah. Sekali, "secara tiba-tiba ada wesi kuning tergeletak di samping Bung Karno," ujar Amat Redjo. Tambah Amat Redjo "Karena itu Bung Karno 'kan tidak mempan peluru. Coba, berapa kali sudah beliau dicoba dibunuh?" Penggede lain, menurut Amat Redjo, juga berziarah ke sana.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Bukan Sesuatu Yang Salah ?

Agama

Khomeini Dan Pemukulan Diri

Suka Duka

Tiada Gula, Aren Berguna

Buku

Tokoh tak nampak di sebelah ...

Ilustrasi

Konsultasi segi tiga untuk jayabaya

TEMPO|interaktif

Nasional

Ahli: Video Syur Anggota DPR Hasil Editan

Metro

Evakuasi Sukhoi Dihentikan, Gunung Salak Kembali Sepi

KD Penuhi Janji ke Anak, Nyanyi di Resepsi Anang

Ruhut Soal Lady Gaga: Kau Tanya Saja ke Kodok

Bisnis

Dahlan Iskan Akui Cabut SK Karena Tekanan Politik  

Seni & Hiburan

Polri Siap Jaga Konser Lady Gaga dari Penonton Palsu  

Bisnis

Intervensi BI Kuatkan Rupiah  

Nasional

30 Tank Leopard Jerman Siap ke Jakarta

Nasional

Ahli Telematika Video Porno Dipanggil Lagi oleh BK  

Metro

Polda Kaji Contra Flow Thamrin-Sudirman  

Nasional

Grasi Dikabulkan, Hukuman Corby Dipotong 5 Tahun  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif