Cakar Ayam Itu Retak
Kebetulan Menteri PU, Poernomo sidi Hadjisarosa, meninjau Peludal Juanda, 13 November, dan menemukan retakan dalam beton apron itu. Sekali ini serius halnya. Poernomosidi menjelaskan bahwa sebetulnya perencananya sendiri (PT Cakarbumi) melaporkan tentang itu hingga ia datang meninjau.
Prof. Dr. Ir. Roosseno, ahli konstruksi beton, dalam suatu interpiu TEMPO baru-baru ini menyangsikan tentang pemakaian sistem "Cakar Ayam" itu. Justru sistem itu pula yang akan diterapkan pemerintah untuk proyek pelud internasional di Cangkareng, Jakarta.
Apron Peludal Juanda yang dulu 22.000 m2, sejak tahun lalu diperluas dengan 12.000 m2 lagi. Apron lama tidak mampu lagi menampung arus penerbangan yang semakin sarat. Perluasan itu dilaksanakan oleh PT Yala Persada Angkasa dengan biaya hampir Rp 345 juta. Maka sistem fondasi "Cakar Ayam" yang direncanakan PT Cakarbumi pertama kali digunakan untuk landasan pelabuhan udara. Pekerjaan ini berlangsung selama lima bulan dan selesai beberapa hari sebelum waktu yang ditetapkan, 15 September 1979.
Oktober tahun lalu, parkir sebuah pesawat DC-10 dicoba di apron baru itu. Ternyata tidak ada kelainan. Sebuah tim Fakultas Teknik UGM, yang juga mengadakan evaluasi, menilainya memuaskan. Serangkaian percobaan diadakan lagi kemudian.
Pertengahan April, apron itu mulai dipakai sepenuhnya. Setiap hari ratarata 22 pesawat diparkir di situ. Segala jenis seperti DC-10, DC-9, Boeing-707, F:28 Hawker Siddely, Viscount dan Electra. Tapi baru satu bulan berlang sung, retakan di apron itu ditemukan.
Karena ada retakan itu, penggunaannya dibatasi untuk parkir pesawat seperti jenis HS atau VC, dan paling banter jenis F-27. " Pokoknya pesawat yang pakai mesin jet tidak boleh lagi parkir di apron itu," ujar seorang petugas di Juanda .
Retak-retak itu bukan hanya terdapat pada bagian apron yang dekat tower saja. Ternyata itu juga terdapat di mana-mana. Ada yang sambung menyambung, ada pula yang malang melintang.
"Ah, retak-retak itu kecil," ujar Ir. Rijanto P. Hadmodjo, "tak sampai setengah milimeter." Dirut PT Cakarbumi itu tampak tenang. "Sifat beton memang begitu, ' sambungnya. Ia mengingatkan pada pameo tentang gading: "Kalau tak ada krek (retak) maka bukan beton namanya."
Gajala Biasa
Menurut Poernomosidi yang dikutip koran Sinar Harapan, beton retak merupakan gejala biasa. Besi betonlah yang menanggung beban tarik. Beban ini dapat terjadi karena adanya pengerutan akibat perubahan temperatur. Inilah yang diduga menjadi sumber keretakan di apron Juanda, sekalipun konstruksi "Cakar Ayam" mempunyai keistimewaan karena tidak terdapat sambungan ekspansi. Satu lagi faktor luar yang disebutkan Menteri PU ialah adanya kemungkinan tanah pendukung apron -yang sebagian merupakan tanah baru-cukup berpengaruh pada perhitungan kekuatan konstruksi.
Sistem "Cakar Ayam" memang penting mempertahankan keaslian tanah. Pada pembuatan apron baru di Juanda itu, terdapat sebagian tanah urugan, terutama di tepi timur dan selatan. Pelaksana PT Yala Persada Angkasa menyebutkan jumlah tanah urugan hampir 11.000 m3. Pemadatannya dilaksanakan dengan bulldozer dan peralatan khusus. Juga hujan membantu mempercepat proses pemadatan itu.
Menurut Rijanto, apron Juanda itu sebetulnya masih merupakan percobaan. "Tes proyek, yang setiap waktu, kami awasi terus," ujarnya. Tes pertama dengan tim UGM sudah selesai. Kini dipersiapkannya tes kedua dengan pembebanan yang lebih luas. "Bisa saja retak-retak itu diguyur dengan air semen hingga tertutup," ujarnya, "tapi kita kan masih mau lihat apakah seterusnya akan baik."
Bagaimana kalau retak itu semakin besar? " Saya sendiri tak tahu retak yang bagaimana bisa dikategorikan berbahaya," jawab Rijanto.
Berdasar Bestek
Apron di Juanda ditetapkan setebal 14 cm. Rijanto mengakui bahwa menurut perhitungan, ketebalan untuk sistem "Cakar Ayam" selayaknya 15 cm. "Lebih tebal tentu lebih aman," katanya.
Masalahnya bukan keamanan itu saja, tapi juga apakah masih layak secara ekonomis. Dalam kesempatan lain Rijanto pernah mempersoalkan penambahan ketebalan pada rencana landasan pelud internasional di Cengkareng (TEMPO 15 November) hingga menjadi 17 dan 20 cm. "Saya yakin ketebalan 15 cm sudah cukup kuat," katanya ketika itu.
Penambahan 5 cm akan berarti besar. Kalau dihitung 5 cm kali luas I,2 juta m2 (rencana luas landasan dan apron Cengkareng), berarti 60 ribu m3. Dengan harga Rp 50.000 per kubik, menurut Rijanto, "Bukankah itu berarti Rp 3 milyar?"
Maksudnya ialah ketebalan minimal itu sudah memenuhi faktor keamanan. Kalau harus ditambah, agar lebih aman lagi, "itu kan pengeluaran yang cuma-cuma saja," ujar Rijanto. Bila perhitungan ini diterapkan pada apron di Juanda yang seluas 12.000 m2, selisih 1 cm itu berarti penghematan Rp 6 juta.
Ir. Sartomo Sarsito tak tampak khawatir atas berita retak-retak di apron Juanda itu. "Kami kan pemborong yang bekerja berdasarkan bestek," ujar Dirut PT Yala Persada Angkasa itu. "Kami pelaksana. Di atas kami'ada perencana dan pengawas."
Menurut Sartomo, yang disorot sekarang sistem "Cakar Ayam" itu sendiri. "Kalau soal itu, saya angkat tangan."
Pokoknya, perusahaannya juga akan melaksanakan pembuatan landasan di Pelud Polonia, Medan, dengan sistem "Cakar Ayam". "Desember ini mulai," katanya.
