• Home
  • 20 Februari 1982
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 20 Februari 1982

    Mengamankan Rp Di Kandang Sendiri

    GUBERNUR Bank Sentral Rachmat Saleh termasuk orang yang optimistis. Ia menilai gerakan rupiah terhadap dollar AS sekarang masih "realistis". Gubernur BI yang suka merokok cerutu itu lalu menengok ke belakang, ketika terjadi devaluasi rupiah pada pertengahan November 1978--lebih dikenal dengan Kenop 15. Ketika itu untuk memperoleh satu dollar AS seseorang harus mengeluarkan Rp 625. Tapi sekarang, atau pekan lalu ketika Gubernur BI itu berbicara, untuk satu dollar AS orang perlu mengeluarkan Rp 648. "Suatu kenaikan kurs dollar Rp 23, atau kurang dari 4%," katanya. Tentu saja Gubernur Rachmat Saleh itu berbicara tentang nilai kurs tengah (middle rate): kurs yang dipakai sebagai patokan atau titik tolak oleh Bl dan bank-bank devisa terhadap para eksportir. Sebab nilai kurs tunai (banknotes) yang biasa diperdagangkan di tempattempat penukaran uang (money changers), akhir pekan lalu masih saja tak beranjak dari Rp 653. Suatu erbedaan 5 pont yang oleh beberapa bankir dianggap "realistis" juga. Toh para pengamat masih mendugaduga keseimbangan kurs rupiah terhadap dollar yang sekarang, baik untuk kurs tengah maupun banknotes, tidak riil. "Menurut saya yang riil itu sekitar Rp 700 untuk satu dollar AS," kata Rachmat Muljomiseno, anggota DPR yang kini Direktur Bank Perdania. Menurut bekas Menteri Perdagangan yang di tahun 1960-an pernah menjabat sebagai Direktur BNI itu, kurs rupiah sekarang terhadap dollar itu bisa dibendung sampai di bawah Rp 655, karena adanya subsidi oleh BI. "Subsidi itu terpaksa dilakukan BI guna menjaga stabilitas harga-harga di dalam negeri," katanya. Direktur Bank Perdania itu rupanya membandingkan kurs yang terjadi di Indonesia dengan kurs rupiah yang berlaku di tempat-tempat penukaran uang di Singapura, yang memang agak besar juga. Seorang manajer bank asing di s Jakarta mencatat perbedaan kurs itu , sekitar 40 point. "Di Jakarta satu dollar Singapura bisa dibeli dengan Rp 309, tapi di Singapura sendiri nilainya jatuh sekitar Rp 350 per satu $S," kata bankir asing itu. Kekurangan Rupiah Kesulitan neraca pembayaran yang akan dihadapi Indonesia dalam tahun 1982 memang telah menimbulkan spekulasi akan adanya devaluasi rupiah. Ketika itu bukan saja perorangan yang ramai-ramai menyimpan depositonya dalam dollar, dikenal sebagai Asan Currency Unit (ACU) Deposits. Tapi juga bank-bank pemerintah yang kelebihan likuiditas ikut pula mengamankan dananya di cabang bank-bank asing di Singapura atau Hongkong (TEMPO, 2 Januari, Ekonomi & Bisnis). Anehnya, setelah momok devaluasi itu dibantah oleh Presiden Soeharto ketika membawakan pidato RAPBN 1982/1983, banyak yang masih waswas, dan membiarkan uangnya "diamankan" di luar negeri. Ini diakui seorang bankir di European Asian Bank (EAB) yang berkantor di Jalan Imam Bonjol, Jakarta. "Kebanyakan nasabah kami memindahkan depositonya ke EAB Cabang Singapura. Kalaupun tetap di sini dalam bentuk dollar AS." Orang dari EAB itu mengakui, banyak para nasabah yang minta advis setelah kenaikan harga-harga BBM pada 5 Januari lalu. "Sebenarnya kami lehih senang kalau mereka menyimpan uangnya di sini saja, dalam bentuk rupiah," katanya. "Tapi kalau sudah diberi penerangan, mereka toh memilih untuk menyimpan di luar, yah kami bisa bilang apa." Usaha untuk mengerem larinya simpanan itu ke Singapura rupanya tengah dilakukan oleh bank-bank di Jakarta. Salah satu cara, seperti dikemukakan Kepala Bagian Pelayanan Langganan EAB, Sabam Hutapea, adalah dengan menaikkan batas penerimaan simpanan di bank itu. Tadinya batas minimal simpanan di EAB Singapura misalnya disamakan dengan batas minimal di Jakarta: US$ 10.000. Menurut Sabam, jumlah minimal di Singapura itu akan dinaikkan menjadi sekitar US$ 25.000, dan di Jakarta diturunkan sampai US$ 5.000. Selain beda kurs tadi, dan merasa lebih aman, tingkat bunga yang ditawarkan bank-bank asing di Singapura itu juga lebih tinggi sekitar 3 sampai 4% dibandingkan kalau menyimpan di Jakarta dalam bentuk dollar. Tak heran kalau beberapa bank asing sedikit banyak mengalami kekurangan rupiah. Salah satu indikasi adalah iklan yang dipasang oleh City Bank dan Algemene Bank Nederland baru-baru ini, untuk menarik lebih banyak deposito rupiah. Kekurangan rupiah itu diakui salah seorang manajer Bank of Tokyo di Jakarta, Hitoshi Tsuji. "Tapi barangkali tak sebesar bank-bank asing lain, karena banyak nasabah kami terdiri dari para pengusaha yang memerlukan rupiah untuk operasi mereka sehari-hari," kata Hitoshi. Toh bankir Jepang yang berkantor di Gedung Wisma Nusantara percaya demam dollar itu merupakan gejala sementara. Dan salah satu usaha Bank of Tokyo untuk membuat para nasabahnya lebih betah menyimpan di kandang sendiri adalah dengan "memberikan point yang lebih tinggi kepada para nasabah yang memiliki deposito dalam rupiah," katanya. "Saya sendiri tak percaya kurs itu akan mencapai hingga seribu rupiah, karena fluktuasi dollar terhadap rupiah cukup terkontrol--hanya bergerak antara 25 sen sampai satu rupiah, setiap terjadi kenaikan." Dengan kata lain, bankir Jepang itu sependapat dengan Rachmat Muljomiseno, bahwa pemerintah tak seluruhnya membiarkan rupiahnya mengambang terhadap dollar dan sejumlah mata uang asing lainnya. Siasat ini nampak ketika kurs rupiah di tempat-tempat penukaran uang merayap sampai 660 point terhadap satu dollar AS, menjelang tutup tahun 1981. Maka dengan cepat BI mensuplai sejumlah dollar ke tempat-tempat penukaran uang itu, sehingga tercapai keseimbangan baru yang sekarang bergerak antara Rp 652 sampai Rp 653 itu. "Bagaimanapun pemerintah tak akan membiarkan terjadi selisih yang besar antara kurs tengah dengan kurs banknotes," kata seorang di lingkungan BI.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Anggota keluarga perusahaan

Agama

Bila kelenteng jadi wihara

Seni Rupa

Merpati Di Angkasa Luar

Buku

Menjelang undang-undang hak cipta

Keahlian lain di kalangan ilmiah

Anggapan kita tentang masa lalu

TEMPO|interaktif

Nasional

Dana Berobat Warga Miskin di Jember Menipis

Bisnis

Menhub: Pembangunan Cilamaya Tunggu Kalibaru  

Nasional

Dahlan Bantah Isu Mundur

Nasional

Status Cegah Terdakwa Wisma Atlet Diperpanjang  

Bisnis

Astra International Pimpin Kenaikan Indeks  

Jawaban KD Kenapa Tak Cium Pipi Anang  

Olahraga

Kegagalan MU Jadi Pelajaran buat Jones  

Nasional

Ahli: Video Syur Anggota DPR Hasil Editan  

Metro

Evakuasi Sukhoi Dihentikan, Gunung Salak Kembali Sepi  

KD Penuhi Janji ke Anak, Nyanyi di Resepsi Anang  

Ruhut Soal Lady Gaga: Kau Tanya Saja ke Kodok  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif