• Home
  • 26 Juni 1982
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 26 Juni 1982

    Teratai berwarna

    PEMILU telah lama usai. Tetapi di Desa Rantau Laban, Kotamadya Tebingtinggi, "tanda gambar" tetap saja terpasang. Bukan gambar Ka'bah, Beringin atau Banteng, tapi Teratai. Organisasi baru? Bukan bung. Gambar teratai bermacam warna yang dilukis di atas batok kelapa dan dipasang di atas pintu depan rumah adalah tanda peserta Keluarga Berencana. Warna yang dipakai menandai jenis alat kontrasepsi yang dipakai akseptor KB yang bersangkutan. Warna merah berarti pemilik rumah memakai pil. Teratai kuning untuk yang memakai kondom. Warna biru tua milik pemakai spiral (IUD). Yang memakai metode suntik memasang teratai warna cokelat. Sedang yang masih memakai cara tradisional, minum jamu misalnya, teratainya berwarna hitam. Desa Rantau Laban yang berpenduduk 7.624 jiwa ini dianggap sukses ber-KB. Walau baru dua tahun digalakkan, lebih dari separuh pasangan subur di desa ini terdaftar sebagai peserta KB. Tak heran desa ini terpilih sebagai penyelenggara KB terbaik se-Sumatera Utara tahun ini. Sebuah kelompok KB Teratai ikut diundang hadir di Istana Negara sewaktu upacara pemberian hadiah kepada peserta KB Lestari belum lama ini. Satu-satunya keluhan datang dari para pemakai kondom. Umumnya mereka enggan memasang batok teratai kuning di pintu rumah mereka. Alasannya: tetangga sering mencemoohkan. Bukan cuma itu saja. Di depan rumah berteratai kuning, anak-anak sering berteriak: "Kondom, Kondom." Lalu berlari.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Bangsa yang keras hati

Seni Rupa

Affandi oleh affandi

Indonesiana

Bola Api

Berkat telepon

Teratai berwarna

Agama

Terkenang cut satariah

Buku

Mengenal 'orang-orang patut'

Rehal

Rehal

TEMPO|interaktif

Internasional

Korsel Akan Beli 600 Rudal Hadapi Korut

Kapolri Bantah Persulit Izin Lady Gaga

Olahraga

Ini Agenda Rombongan Inter Milan di Indonesia

Nasional

Dana Berobat Warga Miskin di Jember Menipis

Bisnis

Menhub: Pembangunan Cilamaya Tunggu Kalibaru

Nasional

Dahlan Bantah Isu Mundur  

Nasional

Status Cegah Terdakwa Wisma Atlet Diperpanjang  

Bisnis

Astra International Pimpin Kenaikan Indeks  

Jawaban KD Kenapa Tak Cium Pipi Anang  

Olahraga

Kegagalan MU Jadi Pelajaran buat Jones  

Nasional

Ahli: Video Syur Anggota DPR Hasil Editan  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif