• Home
  • 26 Juni 1982
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 26 Juni 1982

    Affandi oleh affandi

    AFFANDI belum mau mandek. Pelukis yang sering disebut empu ini, dalam usianya yang ke-75 menatap optimistis ke depan. Sekali ini ia bertopi, di belakangnya laut biru berombak, dan kapal-kapal berlayar. Kapal itu, dan juga Affandi, mungkin, belum hendak berlabuh. Itulah kesan yang bisa diperoleh dari sebuah lukisan Potret. Diri Affandi, 1982 -- satu dari 18 lukisan potret dirinya yang ikut dipamerkan di Taman Ismail Marzuki, 18-26 bulan ini, dalam pameran tunggal dengan sekitar 70 karya. Memang. Salah satu yang khas dari pelukis yang menyamakan dirinya dengan tokoh wayang Sukrosono -- raksasa cebol, buruk muka, tapi sakti -- itu ialah dia suka menampilkan wajahnya sendiri pada kanvas. "Bukan apa-apa, tapi mengambil diri sendiri sebagai model itu murah dan mudah," katanya di TIM Sabtu lalu. "Murah, 'kan tak usah bayar. Dan mudah, tidak perlu saya pelajari lagi, saya sudah kenal diri saya," lanjutnya. Karena itu bisa berarti lukisan wajah Affandi dari tahun ke tahun, bisa dipandang semacam otobiografi. Dari 18 potret diri di pameran ini, bisa ditangkap berbagai ekspresi. Misalnya, sebuah potret diri yang masih realistis, dibuat pada 1943, menggambarkan Affandi yang keras ditempa kehidupan. Keningnya berkerut, kedua matanya melirik ke arah bawah, dan bibirnya sedikit terbuka, menampakkan dua biji gigi atas. Ini sebuah potret yang muram. Warna lukisan ini pun tidak jelas: sedikit keunguan, sedikit kecokelatan. Masa muram itu agaknya berlangsung cukup lama. Sukses hidupnya yang dimulai dengan perjalanannya ke India, 1950, tak cepat menghapus kekelabuan masa lalunya. Potret Diri 1964, yang tentu saja telah hadir dengan Affandi yang kita kenal kini, pelototan cat langsung dari tube dan kanvas yang disiram bensin, tetap tak menghadirkan kecerahan. Meski ada warna hijau dan sedikit biru, goresan hitam yang melukiskan rambut, jenggot, misai dan bayangan pada wajah, justru yang mendominasi kanvas. Benar, karya itu tak sehitam Potret Diri dengan Tujuh Matahari, 1950 tak ikut dipamerkan, yang seperti menampilkan Affandi dirundung kegelapan, wajahnya tak begitu jelas, meski ada tujuh surya. Tapi justru kerut-kerut wajahnya yang jelas pada Potret Diri 1964 itu, lebih meyakinkan orang bahwa pada kanvas itu yang ada adalah ekspresi kemuraman. Bahkan sepuluh tahun kemudian, kemuraman tetap melekat. Pada Potret DiYi 1974, Affandi tampil dengan rambut yang lebih gondrong dan dahi yang lebih menonjol. Warna kuning muncul agak berarti: pada sebagian rambut dan janggutnya. Dan wajahnya juga sedikit cerah, ada warna kemerahan. Tapi eksresi itu adalah ekspresi lama yang telah tampil puluhan kali sejak tahun 1940-an: diam dan muram. Baru tahun berikutnya, 1975, muncui potret diri dengan suasana berbeda: warna-warna cerah, ekspresi wajah yang santai. Ini berlangsung hingga 1980. Dalam periode ini, ada yang khas: kebanyakan potret diri tampil dengan dahi yang merah. Tapi justru dalam periode inilah muncul kritik, yang mengatakan antara lain, tenaga Affandi telah turun, terbukti dengan kanvas yang tak lagi penuh dan kontrol tak secermat dulu. Membandingkan potret-potret dirinya yang dibuat antara 1975-1980 dan sebelumnya, apa boleh buat, kritik itu agaknya tak meleset benar. Bila potret diri sebelum 1975 menampilkan sosok wajah yang kukuh berbentuk, wajah itu buyar pada 1975 ke atas. Wajah yang tampil tak lagi jelas ekspresinya, karena dipenuhi goresan garis-garis. Dan potret itu dikenali sebagai Affandi hanya dari dua hal: rambut dan janggut gondrong acak-acakan, dan dahi lebar berwarna merah. Tapi tentu saja Affandi tetap melukis dan tetap sering kali menggoreskan wajah sendiri pada kanvas. Kadang wajah itu sendirian, kadang ditemani. Teman yang paling sering muncul adalah matahari. Sering juga potret diri itu berlatar belakang laut dengan kapal-kapal. Atau potret diri itu lagi beraksi: makan semangka atau mengisap pipa. PADA 1981 sebuah potret diri tampil dengan menarik, karena bertuliskan kalimat: "Sesudah gagal melukis." Wajah yang murung, bibir terkatup rapat, latar belakang yang kosong. Rambut dan misai dan janggut yang dibuat dengan hampir hanya warna putih. Inikah pengakuan usia memang telah lanjut? Lukisan ini dibuat pada kanvas yang semula hendak diisi gambar barong Bali. "Tapi gagal. Lantas cat saya kerok dari kanvas, lantas saya lukis wajah saya sendiri." Affandi sesekali memang bisa juga tersandung. Tapi kali itu agaknya begitu dihayatinya hingga lantas wajah kegagalan yang ditampilkannya pada kanvas. Dan berhasil. Karya 1982-nya tampil dengan lebih segar. Tiga potret diri tahun 1982, tampil dengan ekspresi optimistis yang jelas. Bahkan salah satu hanya menampilkan wajah sebatas mata ke atas. Adakah ia ingin mengatakan selama mata masih awas dan pikiran masih menyala Affandi tetap bisa melangkah dengan baik? Ombak Pantai Parangtritis (1982) dengan kanvas besar, 2,4 x 1,2 meter, dengan warna gelap memang belum mengalahkan karya-karya Affandi tahun 1950-an sampai pertengahan 1960-an. Tapi ada satu hal yang direbutnya kembali: irama goresan dan sapuan yang semenjak pertengahan 1970-an menjadi kacau, kini menemukan keserasiannya lagi. Tentu saja keserasian Affandi yang berteriak dan gemuruh. Meski bukan mustahil ini merupakan kebetulan. Setidaknya dengan demikian membuktikan sesekali Affandi masih bisa melahirkan karya seperti dulu. Bambang Bujono.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Bangsa yang keras hati

Seni Rupa

Affandi oleh affandi

Indonesiana

Bola Api

Berkat telepon

Teratai berwarna

Agama

Terkenang cut satariah

Buku

Mengenal 'orang-orang patut'

Rehal

Rehal

TEMPO|interaktif

Bisnis

BP Migas: Lifting Minyak Bakal Meleset

Olahraga

Ivanovic Tersiksa Menyaksikan Final Liga Champions

Produsen Rokok Diminta Stop CSR

Internasional

Korsel Akan Beli 600 Rudal Hadapi Korut  

Kapolri Bantah Persulit Izin Lady Gaga  

Olahraga

Ini Agenda Rombongan Inter Milan di Indonesia  

Nasional

Dana Berobat Warga Miskin di Jember Menipis  

Bisnis

Menhub: Pembangunan Cilamaya Tunggu Kalibaru

Nasional

Dahlan Bantah Isu Mundur  

Nasional

Status Cegah Terdakwa Wisma Atlet Diperpanjang  

Bisnis

Astra International Pimpin Kenaikan Indeks  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif