• Home
  • 21 Agustus 1982
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 21 Agustus 1982

    Ajengan yang disangka sakti

    KAMPUNG Kikisik ditaksir cuma berjarak 7 km dari kepundan Galunggung. Di situ pesantren pimpinan Kiai Haji Ahmad Syadili, 63 tahun, sudah diliburkan tapi pengajiannya tidak terganggu oleh suara letusan gunung. "Percayalah," kata Syadili yang lebih dikenal dengan sebutan Ajengan Kikisik "letusan itu tidak akan membahayakan kita." Dia tenang saja, dan umatnya pun patuh. Karena berada di Daerah Bahaya I, penduduk Kikisik (sekitar 1.500 jiwa) seharusnya sudah mengungsi semua, tapi masih banyak yang enggan keluar dari kampung itu. Mereka umumnya tampak menunggu keputusan ajengan itu. Keadaan di selceliling Kikisik sudah pernah diterjang banjir lahar. Kikisik memang juga berdebu, seperti halnya di Kota Tasikmalaya. Tapi ketika debu Galunggung menggelapi kota itu tiga hari tiga malam, kehidupan di Kikisik berlangsung seperti biasa. Jadi, banyak orang mengira Ajengan Kikisik seorang sakti. Syadili memang dikenal juga suka mengobati orang yang patah tulang, menderita rematik dan penyakit lainnya. Tapi dia membantah anggapan orang bahwa dia sakti. "Yang sakti hanya Allah," katanya. "Kalau saya menyembuhkan orang sakit, itu hanya karena kebetulan saja." Tentang Kikisik masih selamat dari bahaya lahar, menurut sang kiai, "semuanya rahasia Allah." Hanya dia mengingatkan umatnya akan "adzab Allah" dan ujian Tuhan. Menghadapi bencana Galunggung, katanya, ada dua cara: Pertama, mawas diri dan bertobat. "Bila ini cobaan, berdoalah semoga lekas lulus." Kedua, ikhtiar secara lahiriah. "Bila ini adzab, tentu semua akan terkena." Dia tak menghalangi penduduk Kikisik mengungsi dan bertransmigrasi seperti yang dianjurkan pemerintah. "Itu hak mereka," katanya. Tapi soalnya ialah ajengan itu masih bertahan. Berbagai usaha sudah dilakukan untuk membujuk kiai itu supaya meninggalkan Kikisik. Sesdalopbang Solichin GP, misalnya, mengerahkan kaum ulama terkemuka di Ja-Bar hingga Dr. K.H. E.Z. Muttaqien, Ketua I Majelis Ulama Indonesia, mengadakan pengajian akbar. Sesudah pengajian itu, Syadili konon bersedia pindah, tapi seminggu kemudian berubah lagi pikirannya. Menurut Ketua MUI Kodya Bandung, Drs. Miftah Faridl, bahkan Moh. Natsir pernah mengirim surat kepada Ajeng Kikisik agar ia "tak mengorbankan umat." Sementara itu tersiar cerita bahwa penduduk Kikisik bersedia meninggalkan kampung itu, bahkan mau serempak ditransmigrasikan asalkan kehidupan di tempat baru tidak berubah. Pokoknya, pesantren dan madrasah mereka ikut bertransmigrasi. Ini hal baru. Mungkin ini yang ditunggu Ajengan Kikisik?

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Menahan diri di kala berkuasa

Seni Rupa

Ikon Sang Pelindung

Agama

Pengadilan agama, cerita lama

Buku

Pembangunan, era tradisional

Lho, bukan hamlet

TEMPO|interaktif

Teknologi

Obama Ucapkan Terima Kasih Pada Steve Jobs

Bisnis

BP Migas: Lifting Minyak Bakal Meleset  

Olahraga

Ivanovic Tersiksa Menyaksikan Final Liga Champions  

Produsen Rokok Diminta Stop CSR  

Internasional

Korsel Akan Beli 600 Rudal Hadapi Korut  

Kapolri Bantah Persulit Izin Lady Gaga  

Olahraga

Ini Agenda Rombongan Inter Milan di Indonesia  

Nasional

Dana Berobat Warga Miskin di Jember Menipis  

Bisnis

Menhub: Pembangunan Cilamaya Tunggu Kalibaru

Nasional

Dahlan Bantah Isu Mundur  

Olahraga

Tim Thomas Korea dan Denmark Juarai Grup

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif