• Home
  • 21 Agustus 1982
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 21 Agustus 1982

    Tenggelamnya hasrat mulia

    TERSISIH oleh berita musibah Galunggung, tenggelamnya KM Hasrat Mulia nyaris tidak menarik perhatian. Padahal kecelakaan di Selat Makasar, Kamis 5 Agustus yang lalu itu, membawa korban cukup besar, paling sedikit 75 penumpang belum diketahui nasibnya hingga awal pekan ini. Menurut Kepala Kanwil Hubla (Perhubungan Laut) Wilayah VI, kapal motor itu tenggelam karena diserang badai, dan kelebihan penumpang. Menurut Humas Ditjen Perla di Jakarta, teleks yang diterimanya menyatakan kapal itu tenggelam karena "cuaca jelek dan kapal bocor." KM Hasrat Mulia berangkat dari Nunukan, Kalimantan Timur, 2 Agustus pukul 20.00 waktu setempat. Tak diketahui secara persis banyaknya penumpang kapal berbobot 251,63 DWT itu ketika berangkat berlayar. Laporan yang diterima Nurdin Nawawi, Kakanwil Hubla Wilayah VI itu, ada 150 penumpang. Padahal kapal seukuran KM Hasrat Mulia maksimal hanya boleh mengangkut 60 penumpang plus ABK (anak buah kapal). Ajaibnya, hingga awal pekan lalu telah diselamatkan 242 penumpang (termasuk ABK), empat jenazah, dan empat penumpang dinyatakan hilang. Bagaimana ini bisa terjadi? Rupanya di perairan Kalimantan Timur kapal-kapal memang bak bis kota Jakarta: bisa menaikkan penumpang di sembarang tempat. Dan juga, nakhoda agaknya tak ambil pusing keselamatan pelayaran: asal masih ada tempat kosong berapa pun penumpang naik. boleh saja. "Kalau ada yang melambai-lambaikan tangan dari pesisir, pastilah sebuah kapal yang kebetulan lewat akan mendekat untuk menerima muatan," tutur Zainal Abidin, Humas Ditjen Perla, tentang suasana perairan di Kal-Tim itu. Syahbandar Nunukan, M. Mastur, kepada harian Sinar Harapan mengatakan ada 325 penumpang, termasuk 100 orang yang naik selepas kapal itu dari wilayah kekuasaannya. Namun menurut beberapa penumpang yang selamat, jumlah penumpang Hasrat Mulia ketika tenggelam sekitar 400 orang. Kalau ini betul, jumlah korban tentunya lebih dari 100 orang. Jumlah penumpang pasti memang sulit diketahui. Di pelabuhan-pelabuhan kecil sepanjang pantai Kal-Tim itu memang tak ada aparat Perla. "Sesuai Surat Edaran Dirjen Perla no. 343/80, tugas itu kami serahkan kepada aparat kecamatan setempat," tutur Zainal Abidin. Aparat yang dimaksudnya adalah pegawai bea-cukai, camat, polisi, dan koramil. "Bahkan kalau pelabuhan itu hanya sebuah kampung, ya lurahnya yang diserahi tugas pengawasan itu." Kecuali itu ada peraturan lama yang resmi masih berlaku: denda kelebihan penumpang hanya 100 gulden per kepala. Ini memang memberi peluang bagi pelanggaran. Menurut PP 1961 1 gulden nilai tukarnya Rp 15. Apa artinya kehilangan Rp 1500 bila seseorang harus pergi berlayar, padahal lalu lintas laut di situ memang aduhai sulitnya? KM Hasrat Mulia, milik A. Buchari bin Haji Saleh, sedianya hendak berlayar ke Flores Timur. Kecuali penumpang yang kebanyakan terdiri dari pelajar yang hendak pulang ke Pare-pare, juga membawa sekitar 28 m kubik kayu, berupa balok dan papan. Menurut beberapa penumpang yang selamat, suasana di dalam kapal memang penuh sesak, tak ada ruang kosong. Katanya, gelombang yang besar telah menyebabkan kayu berbenturan, mengakibatkan lunas kapal bocor. Itu agaknya yang menyebabkan Nakhoda Yakob Mannie yang berusaha melawan badai, untuk membawa kapal berlabuh di pantai perairan Majene Sulawesi Selatan, yang tinggal berjarak sekitar 200 m, gagal. Di luar musibah KM Tampomas II, dari Ditjen Perla tercatat kecelakaan laut pada 1981 hanya memakan 21 korban jiwa, tahun 1980 tercatat 260 orang meninggal dan hilang.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Menahan diri di kala berkuasa

Seni Rupa

Ikon Sang Pelindung

Agama

Pengadilan agama, cerita lama

Buku

Pembangunan, era tradisional

Lho, bukan hamlet

TEMPO|interaktif

Teknologi

Obama Ucapkan Terima Kasih pada Steve Jobs  

Bisnis

BP Migas: Lifting Minyak Bakal Meleset  

Olahraga

Ivanovic Tersiksa Menyaksikan Final Liga Champions  

Produsen Rokok Diminta Stop CSR  

Internasional

Korsel Akan Beli 600 Rudal Hadapi Korut  

Kapolri Bantah Persulit Izin Lady Gaga  

Olahraga

Ini Agenda Rombongan Inter Milan di Indonesia  

Nasional

Dana Berobat Warga Miskin di Jember Menipis  

Bisnis

Menhub: Pembangunan Cilamaya Tunggu Kalibaru

Nasional

Dahlan Bantah Isu Mundur  

Olahraga

Tim Thomas Korea dan Denmark Juarai Grup

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif