• Home
  • 21 Agustus 1982
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 21 Agustus 1982

    Si kerempeng yang pemalu

    BOCAH kerempeng itu tampak pemalu. Setiap ditatap, ia berusaha menghindar. Tapi begitu si bocah terjun ke air, tubuh kerempeng itu melejit cepat. Di kejuaraan renang kelompok umur 5-7 Agustus 1982 di kolam Senayan Jackline Goenarso, 13 tahun, menumbangkan Rekornas 100 m gaya punggung putri Kelompok Umur (KU) III atas nama Pauline Wiwie. Catatan waktunya 1:15,63 detik, sedang rekor lama 1:16,61 detik. Nomor 200 m gaya punggung atas nama Pauline juga ia tumbangkan dengan 2:38,67. Sedang rekor Pauline dibuat tahun lalu 2:42,60. Dengan prestasi ini Jackline (tinggi 144 cm, berat 31 kg), terpilih sebagai perenang terbaik KU III. Sukses Jackline tentu saja tidak mendadak. Umur 5 tahun ia sudah bergabung dengan klub Hiu, Surabaya, bersama kedua kakaknya, Andrianto dan Albertus. Pertama kali ikut nyebur ke air, si kecil Jackline megap-megap dan nyaris tenggelam, karena belum dapat berenang. Untung kedua kakaknya cepat menyelamatkan. Sejak itu Daniel Goenarso, ayah Jackline, memasukkan dia ke klub Hiu. Di klub itu mereka ditangani pelatih Iskandar Soeryaatmadja. Latihan teknik dilakukan pagi-sore. Kadang-kadang pagi pukul 4.30 mereka sudah harus di kolam. Rasa malas bangun pagi memang sering muncul. Tapi Andrianto, kakak sulungnya, selalu memberi dorongan. Ayahnya pun rajin menjemput dan mengantar latihan. Hasilnya, umur 10 tahun Jackline sudah memperoleh medali emas di Kejurnas renang. Sekarang ada 8 medali emas di tangannya. Kakaknya, Andrianto, 16 tahun, pada kejuaraan KU ini juga menumbangkan nomor 1.500 meter gaya bebas (17:56,24) yang dulu dipegang Daniel Budiman (18:08,15). Meski sudah menumbangkan Rekornas, Andrianto agak kecewa karena prestasi itu tak lebih baik dari prestasinya ketika di SEA Games Manila tahun lalu. Di Manila ia mencatat 17:36 dan mendapat perunggu. Mengapa melorot "Di sini nggak ada saingan sih," katanya. Lawan memang berada lebih kurang 100 m di belakangnya. Tapi selain itu, pelatih Iskandar melihat kepincangan gerakan Andrianto. "Terlalu banyak gerakan yang tak perlu," katanya. Lanjutnya: "Feel of water-nya belum bisa dirasakan." Tapi Iskandar memuji kakak beradik asuhannya punya semangat bertanding tinggi. "Mental dan kemauan mereka keras," katanya. Dalam sehari paling tidak kakak beradik itu harus berenang 7-8 ribu m. Kemudian latihan fisik 3 kali seminggu, masing-masing « jam. Menghadapi kejuaraan, biasanya Iskandar memperbanyak jarak renangnya. "Jadi ada waktunya untuk digenjot," katanya. Meskipun begitu, pelajaran di sekolah tetap lancar. "Kalau prestasi di sekolah menurun, kegiatan renang saya akan setop," kata Kristiani, ibu Jackline. Di sekolah Jackline memang selalu mendapat nilai baik. Setiap tahun ia juara kelas, walau hanya kedua atau ketiga. Jackline yang suka makan ikan pindang, kini duduk di kelas II SMP Vincentius Surabaya dan ingin meneruskan ke sekolah kedokteran. Yang juga ditetapkan sebagai perenang terbaik adalah Sari Yulianti Saad, 14 tahun, dalam KU II. Putri ke-3 Ir. Saad yang baru duduk di kelas II SMP Negeri 40 Jakarta, ini menumbangkan rekor 200 m gaya dada atas nama Anita Saparjiman yang sudah bertahan 7 tahun. Waktunya 2:54,17, sedang rekor lama 2:56,28. Ia juga menumbangkan nomor 100 m gaya dada atas namanya sendiri. Rekor lama 1:2092 diperbaiki menjadi 1:20,53. Berenang adalah olahraga satu-satunya buat Sari. Umur 4 tahun ia masuk klub Tirta Kencana Jakarta. Itu pun bukan karena hobi. Kakaknya, Fifi yang waktu itu berumur 6 tahun sakit asma. Oleh dokter dianjurkan berenang agar asmanya tak kambuh. Sejak itu, putri keluarga Saad diajak ke kolam semua. Yang menonjol ternyata Sari. Berlatih di kolam pagi 1« jam dan sore 2 jam kalau mau bertanding. Tapi latihan rutin, cukup 2 jam sore hari. Latihan fisik 3 kali seminggu, masing-masing 3/4 jam. Ketekunan ini membuahkan perunggu pertama di kejuaraan KU tahun 1978, untuk nomor 50 m gaya dada. Sejak itu pula berturut-turut medali emas diraihnya, baik dalam kejuaraan di luar negeri maupun di dalam negeri. Sekarang Sari telah mengumpulkan 25 medali emas, 7 perak dan 8 perunggu. Emas pertama di luar negeri ia raih di kejuaraan renang Chiang Mai (Muangthai) tahun 1980 pada nomor 100 m dan 200 m gaya dada. Sejak kelas II SD Sari juga selalu juara kelas. Tapi di SMP, karena tak masuk sebulan untuk persiapan di SEA Games Manila, prestasinya melorot. "Nilai rata-rata saya cuma 7." Dorongan orang tua memang tak kecil, juga pelatih. "Kalau tidak, susah untuk berprestasi," kata Ir. Saad, ayah Sari. Menu pun agak lebih diperhatikan dibanding saudara-saudaranya yang lain. "Ibu yang mengatur, kok," kata Sari yang ingin jadi arsitek ini. Sedang untuk mengatur waktu, dilakukannya sendiri. Pukul 9 malam ia harus sudah di tempat tidur. Acara film seri di tv menjadi tugas kakaknya atau orang tuanya untuk direkam, dan esoknya ditonton Sari dan Ivan, adiknya. Atlet terbaik lain yang terpilih dalam kejuaraan ini ialah Irina S. Karjono dan Agung K. Mastur (KU IV), Katarinus Aligita (KU III), M. Iqbal Tawakal (KU II) dan Nunung Selowati (KU I) -- semuanya dari Jakarta. Sedang atlet senior terpilih Tan Bie Sian (Jawa Tengah) dan Daud Djiang dari Yogyakarta. Kejuaraan renang KU yang ditutup Sabtu, 7 Agustus itu akhirnya menumbangkan 15 rekor nasional dengan Jakarta sebagai pengumpul medali terbanyak (55 emas). Disusul Ja-Tim, Yogya dan Ja-Teng.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Menahan diri di kala berkuasa

Seni Rupa

Ikon Sang Pelindung

Agama

Pengadilan agama, cerita lama

Buku

Pembangunan, era tradisional

Lho, bukan hamlet

TEMPO|interaktif

Sahabat Whitney Houston Berduka

Sejam Ada 2,5 Juta Tweet Kematian Whitney Houston

Besok, Keluarga Cewek Macho Denpasar Minta Maaf

Nasional

MUI Kalteng: Pembentukan FPI Palangkaraya Dibatalkan

Fadel: Saya Tak Niat Jadi Calon Gubernur DKI  

Nasional

Tokoh FPI Rizieq Salahkan Gubernur Kalteng

Whitney Houston Harusnya Datang ke Grammy Awards

Penyebab Kematian Whitney Houston Belum Diketahui

Whitney Houston, Antara Kokain, Sabu dan Ganja

Whitney Houston Tutup Usia  

Nasional

Tak Punya Ongkos, FPI Diturunkan di Banjarmasin

fpi.jpg[Front Pembela Islam / FPI]
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif