• Home
  • 24 September 1983
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 24 September 1983

    Druz, itu "islam kiri"

    WALID Jumblat membalaskan kematian Kamal Jumblat. Bukan hanya karena tentara Libanon mereka anggap bersekutu dengan Falangis alias Kristen, agaknya, bila pemimpin Druz itu kini memimpin umatnya yang melawan serdadu Presiden Gemayel yang Falangis itu. Maret 1977, di istananya di Kota Mukhtara, Kamal terbaring dingin: ditembak, bersama pengawal dan sopirnya, oleh orang-orang tak dikenal. Dan kaum Falangis yang Katolik Libanon itu, di Beirut Tlmur, menyambut peristiwa tersebut dengan tembakan-tembakan kegembiraan. Dari istana yang berumur 300-an tahun itu pula wartawan Time melaporkan teriakan para wanita berkerudung yang meratapi jenazah bekas menteri dalam negeri itu: "Balas! Balas ... !" Permusuhan Druz dengan Nasrani, yang sudah lebih dari seabad, memang bukan lantaran agama: Kamal, dan kini Walid, dari keluarga besar Jumblat (persisnya: Janbulath), orang suku Kurdi yang mengepalai kaum Druz sejak pertengahan abad lalu, hanyalah para pemimpin duniawi untuk umat yang sering dianggap paling khas mewakii "Islam kiri" itu. Di mana 'kiri'-nya memang tak jelas kecuali bermusuh dengan Kristen. Sedang di mana 'Islam'-nya sendiri tak begitu jelas. Di Libanon memang mereka digolongkan sebagai muslim, dan agaknya kaum muslimin -- di negeri yang penuh sekte, baik Islam maupun nonIslam itu -- tak keberatan. Tapi di Israel mereka dianggap pemeluk agama tersendiri, bahkan dengan pengadilan agamanya sendiri. Encyclopaedia Britannica menyebut Druz mengandung unsur-unsur Isma'iliah (subsekte Syi'ah), Yahudi, Kristen, dan kepercayaan Persia. Tapi The World Book Encyclopaedia menganggap agama itu "mengombinasikan Kristen dengan Islam". Ajaran Druz sendiri pada dasarnya tertutup: hanya kelompok yang disebut ajawid, 'para dermawan', saringan dari kelompok lebih besar yang disebut uqqal, 'orang-orang berakal', yang tahu ajaran paling rahasia. Bahkan mayoritas yang disebut juhhal, orang-orang bodoh, yang menghadiri pertemuan atau festival keagamaan harus pergi menjelang acara sembahyang. Dan sembahyang mereka bukanlah salat Islam setidak-tidaknya salat bukan bagian hidup para juhhal. Mereka pun tidak menjalankan syari'at Islam meski, anehnya, mengambil Idul Adha sebagai hari besar. Semua rukun Islam sudah dihapuskan oleh orang bernama Hamzah bin Ali Az-Zuzani - dari Zuzan - Iran. Hamzah ini dulu menyetujui pendapat Muhammad Ad-Darazi (dan dari tokoh inilah lahir nama Duruz alias Druz itu) bahwa Al-Hakim bi-Amrillah adalah "penjelmaan Allah". Siapa Al-Hakim?. Ia khalifah keenam dalam urutan Dinasti Fathimiah di Mesir. Kata Abdurrahman Zaki, Al-Qahirah, Tarikhuha wa-Atsaruha, ia banyak dipercayai sebagai memiliki "keistimewaan di luar jangkauan akal." Ia konon bukan main saleh tapi ia juga yang begitu majenun melakukan tindakan ini: menggencet penduduk Kristen dan Yahudi -- juga Muslim, menurut Encyclopaedia Britannica. Gereja Jirat Suci di Yerusalem ia suruh bakar. Dan 1.012 Yahudi dilaporkan dihukum mati. Kegilaan itu berlangsung delapan tahun, dan berhenti ketika Al-Hakim, pada 1017, konon diproklamasikan sebagai penjelmaan Tuhan. Maka, agama Druz pun, ciptaan Ad-Darazi dan Himzah tadi, bersandar pada ajaran 'Hakimiah'. Ia lahir dalam lingkungan Syi'ah Ismai'iliah yang dipeluk dinasti Fathimiah, yang mempercayai 'tujuh imam' sesudah Nabi Muhammad -- berbeda dari Syi'ah Imamiah model Iran yang mengakui '12 imam' -- dengan ajarannya yang serba 'batin'. Kenyataan itu, ditambah bahwa di kalangan Syi'ah juga pernah muncul kaum Rafidhah, yang meyakini ketuhanan Ali bin Abi Thalib, menyebabkan kelahiran Druz bukan hal aneh. Juga warnanya yang berat kepada mistik, dengan kecenderungan besar sinkretisme. Yang terakhir itu misalnya tampak pada kepercayaan akan emanasi Al-Khaiq, Tuhan Pencipta -- berwujud Roh Universal, Akal Universal, Sabda, Surga Sebelah Kanan, dan Surga Sebelah Kiri. Lalu kelima emanasi itu secara historis menyata dalam kelima tokoh. Akal Universal, misalnya, dalam diri Hamzah dan sebelum Hamzah: Nabi Syu'aib, Nabi Isa, dan ... sahabat Nabi Muhammad bekas budak Persia, Salman al-Farisi. Adapun Al-Hakim akhirnya terbunuh 1021. Namun para pengikut percaya ia menghilang, untuk muncul kembali sebagai Imam Mahdi "seribu tahun setelah kemunculannya yang pertama". Hampir sama dengan keyakinan Syi'ah Iran terhadap 'imam ke-12'. Orang Druz, yang agamanya melarang poligami dan membolehkan perceraian, memang tak pernah menyatakan diri bukan muslim. Bahkan, mereka mengaku sebagai kaum muwahhidun, ahli tauhid alias monoteisme yang konsekuen -- dan memang mereka dikabarkan keras kepada bentuk-bentuk politeisme. Namun Nabi Muhammad pada mereka tampak hanya sebagai 'sampiran'. Mereka malah kelihatan lebih mengagungkan Nabi Syu'aib: salah satu khilwat, 'masjid' mereka yang terpenting, didirikan di Tabarayyah (Tiberias), Israel kini, di tempat yang diperkirakan sebagai makam nabi yang menjadi mertua Musa itu. Di tanah Palestina itu jumlah mereka sekitar 35.000. Di Yordania lebih sedikit, 10.000. Jumlah terbesar, sekitar 160.000, hidup di Hauran, Suriah, yang dikenal sebagai 'Gunung Druz'. Sisanya hidup di Libanon -- berjumlah kurang sedikit cari umat Suriah. Itulah mereka -- kaum 'Islam kiri', konon.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Kekuasaan lahir dari senjata

PAN

Pengembara dari sawah ke sawah

Agama

Druz, itu "islam kiri"

Buku

Da'wah, giliran para penelaah

TEMPO|interaktif

Teknologi

Obama Ucapkan Terima Kasih pada Steve Jobs  

Bisnis

BP Migas: Lifting Minyak Bakal Meleset  

Olahraga

Ivanovic Tersiksa Menyaksikan Final Liga Champions  

Produsen Rokok Diminta Stop CSR  

Internasional

Korsel Akan Beli 600 Rudal Hadapi Korut  

Kapolri Bantah Persulit Izin Lady Gaga  

Olahraga

Ini Agenda Rombongan Inter Milan di Indonesia  

Nasional

Dana Berobat Warga Miskin di Jember Menipis  

Bisnis

Menhub: Pembangunan Cilamaya Tunggu Kalibaru

Nasional

Dahlan Bantah Isu Mundur  

Olahraga

Tim Thomas Korea dan Denmark Juarai Grup

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif