• Home
  • 24 September 1983
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 24 September 1983

    Membenahi Departemen Sosial

    RUANG kerja yang terletak di lantai II itu didominasi warna putih. Sebuah pot bunga anggrek menghias meja kerja berwarna hitam, menghidupkan suasana. "Dulu suasana ruangan ini suram, menyeramkan. Kursi dan meja-meja yang ada di sini seolah akan menenggelamkan saya karena besarnya. Saya merasa kecil sekali. Akhirnya, perabot yang ada, yang hampir semua berbentuk ukiran dengan warna gelap, saya ganti. Begitu juga warna cat ruangan ini", kata penghuni ruang tersebut, Ny. Nani Sudarsono, Menteri Sosial. "Meja ini juga bersih bukan ? Seorang manajer yang baik mejanya tidak akan dipenuhi buku atau berkas segala macam," ujarnya sambil tersenyum. "Saya memang menginginkan ruangan ini sebersih aparat Departemen Sosial," tambahnya lagi. Satu-satunya menteri wanita dalam Kabinet Pembangunan IV yang memegang departemen ini ternyata menjadi menteri pertama yang melakukan perombakan besar-besaran dalam departemennya. Awal pekan lalu ia mengganti lima dari enam pejabat eselon I Departemen Sosial. Dan Rabu pekan ini dilantiknya 32 pejabat baru eselon II. Sedangkan eselon III akan dibereskannya bulan depan. Ia membantah pembenahan ini ada kaitannya dengan berbagai penyelewengan di departemennya. "Pembenahan ini benar-benar untuk penyegaran belaka. Banyak di antar mereka yang telah lama memegang jabatan tersebut," katanya. Istilah penyegaran yang dipakai Ny. Nani kali ini agaknya tepat. Beberapa pejabat teras Departemen Sosial memang telah sangat lama menduduki kursi mereka. Inspektur Jenderal Departemen Sosial Hartomo, misalnya, telah memegang jabatan penting tersebut sejak 1972, sedang Direktur Jendral Bantuan Sosial, Harun Alrasyid, sejak 1974. Tujuan penyegaran ini, menurut Ny. Nani, guna mempersiapkan aparatur untuk melaksanakan tugas masa kini dan masa datang. Untuk itu, Departemen Sosial dirombak secara struktural, diikuti dengan memperluas beberapa bidang yang sebelumnya tidak banyak ditangani, misalnya penanganan masalah karang taruna. Dijelaskannya juga soal "catur tertib": tertib organisasi, administrasi, operasional dan personil, yang ditetapkannya sebagai garis kebijaksanaan menteri sosial. "Tujuannya, sebagai upaya peningkatan dan pemantapan sesuai dengan kondisi obyektif yang dihadapi," kata Menteri Nani. Sasaran "catur tertib" bukan diarahkan kepada perorangan pejabat atau pegawai di lingkungan Departemen Sosial. "Tetapi diarahkan kepada refungsionalisasi dan revitalisasi Departemen Sosial secara menyeluruh," ucap Ny. Nani. Empat bulan setelah Ny. Nani dilantik, bekas kepala Kantor Wilayah Departemen Sosial Kalimantan Timur, Moeljono, diajukan ke pengadilan dengan tuduhan korupsi. Dalam sidang -sidang pengadilan kemudian, terungkaplah betapa kuat dan luas korupsi telah menggerogoti departemen ini. Beberapa saksi mengungkapkan adanya "keharusan menyetor sebelas persen dari dana proyek "Perincian pembagiannya: satu persen untuk dana taktis menteri sosial, dua persen untuk para dirjen, dua persen untuk dana taktis kepala Kanwil, dua persen untuk melayani tamu Kanwil dan Dharma Wanita Kanwil, sedang yang untuk pimpinan proyek. Pengumpulan dana oleh para pimpinan proyek, selain atas dasar imbauan Kakanwil, juga dilakukan "karena adanya permintaan lewat interlokal dari atasan di Jakarta," kata seorang saksi. Adapula yang "melalui sebuah nota yang dibawa oleh seorang petugas dari Jakarta, dari seorang direktur di Departen Sosial." Dalam wawancaranya dengan TEMPO bulan Juli lalu, Moeljono memang mengakui menerima dana sepuluh persen dan proyek, tapi uang itu tak digunakannya untuk kepentingannya pribadi. Selain untuk berbagai pengeluaran yang diperlukan proyek "tapi tidak ada dalam DIP", menurut pengakuannya, dana itu juga "untuk konsumsi dan akomodasi tamu dari pusat". Para tamu itu termasuk akuntan, petugas Inspektorat Jenderal dan Badan Pemeriksa Keuangan. Mungkin pelayanan itulah yang membuat hasil pemeriksaan beberapa lembaga pengawas tersebut terhadap Kanwil Departemen Sosial Kalimantan Timur selama ini selalu "baik" (TEMPO, 23 Juli 1983). Dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR pekan lalu, Ny. Nani cuma mengatakan "kasus upeti ini sudah ditangani secara tuntas". Namun, tampaknya, dalam membenahi departemennya Ny. Nani sangat memperhatikan segi kemanusiaan. "Memang sulit melakukan suatu tindakan, apalagi yang menyangkut diri manusia, karena juga harus dipikirkan nasib keluarga yang mereka tanggung," ujar ibu tiga anak tersebut. Pembenahan yang dilakukan Ny. Nani tampaknya disambut gembira banyak karyawan Departemen Sosial. "Dia itu orang gila. Tembok sebegitu tebal ditembusnya," ujar seorang pegawai golongan I/D pekan lalu. "Mudah-mudahan tindakan Bu Nani tidak hangat-hangat tahi ayam. Sejak bekerja di sini, saya sudah mengalami tiga menteri. Masak baru kali ini ada pembersihan," kata seorang pegawai rendahan lainnya. Menteri Nani sendiri agaknya mennyadari besarnya harapan yang ditumpahkan kepadanya. Dalam wawancaranya dengan wartawan TEMPO James R. Lapian pekan lalu, ia dengan hati-hati mengakui keterbatasannya. "Kami tidak bisa bertindak sendiri karena pelaksanaan kerja Departemen Sosial, terutama di tingkat terbawah melibatkan juga pihak lain." Disebutkannya juga beberapa kelemahan departemennya, antara lain keterbatasan personalia dan jangkauan perangkat struktural yang hanya sampai pada daerah tingkat II, sedang basis wilayah operasinya terutama di daerah pedesaan. Ny Nani, yang rupanya juga tetap ingin dikenal sebagai "teman akrab, ibu yang bijak, dan pimpinan yang tegas'" kata-kata yang diucapkannya Maret lalu setelah pelantikannya. "Saya bukan singa betina seperti yang dikatakan sementara orang," katanya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Kekuasaan lahir dari senjata

PAN

Pengembara dari sawah ke sawah

Agama

Druz, itu "islam kiri"

Buku

Da'wah, giliran para penelaah

TEMPO|interaktif

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif