• Home
  • 14 Januari 1984
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Tokoh
  • Arsip
  • 14 Januari 1984

    Yang Pasti Dan Tidak Pasti Dalam...

    RANCANGAN Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk tahun 1984/1985 telah diajukan Pemerintah kepada DPR dengan catatan: penyusunannya sama sulitnya dengan tahun lalu. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidakpastian dalam proses penyembuhan ekonomi dunia. Memang tidak ada alasan mengapa kita di Indonesia harus lebih tahu dari orang lain mengenai prospek ekonomi dumia. Dalam situasi seperti ini, apa yang dinamakan perencanaan (planning) itu memang dihadapkan pada ujlan yang berat. Perencanaan ekonomi (pembangunan) menjadi semakin jauh dari keilmuannya (science) dan lebih dekat menyerupai kiat (art). Namun, keadaan serupa ini bukan alasan untuk herputus asa. Malahan, seperti telah berulang-ulang ditunjukkan dalam sejarah umat manusia, keadaan serupa imilah yang menghasilkan gagasan-gagasan baru dan, bersama dengan itu, juga dimamika baru. Masalahnya adalah sejauh mana kita berani atau bersedia menghadapi keadaan ini sebagai tantangan. Keberanian saja belum cukup. Kita harus bisa menguraikan keadaan yang kita hadapi itu dalam komponen-komponennya yang jelas: faktor-faktor mana yang berada dalam kendaii kita sendiri, dan faktor-faktor mana yang berada di luar kekuasaan kita. Terhadap jenis faktor yang disebutkan terakhir, kita hanya bisa berusaha untuk mengurangl efek negatlfnya. Tetapi terhadap jemis faktor yang disebutkan terdahulu, kita harus berusaha menjadikannya faktor kepastian. Per definisi, faktor-faktor itu berada dalam batas kekuasaan kita. Dalam hubungan ini, kita bisa membantu diri kita sendiri. Tidak perlu disangkal bahwa dewasa ini terdapat berbagai faktor ketidakpastian yang sebenarnya telah kita ciptakan sendiri baik secara sadar maupun tidak. Banyak pula hambatan yang kita buat sendiri. Apabila dalam interval-interval yang singkat selama beberapa waktu terakhir ini selalu masih bisa terlontan isu-isu devaluasi yang ternyata dipercaya masyarakat umum, sumbernya tentu ada pada diri kita sendiri. Masyarakat sering lupa bahwa isu-isu di bidang moneter cenderung menjurus kepada realitas (self-fulfilling propecy), dan kalaupun dalam jangka pendek diperoleh keuntungan, hampir bisa dipastikan bahwa ketidakstabilan moneter yang diakibatkan akan membawa bencana dalam jangka yang lebih jauh. Selain perlu ada kesadaran di kalangan masyarakat, terutama dalam waktu-waktu prihatin seperti sekarang ini, kiranya banyak yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengurangi ketidakpastian yang terasa di berbagai bidang kehidupan ekonomi. APBN 1984/1985, selain memang harus disusun untuk kelangsungan pembangunan, seperti rancangan yang dla)ukan beberapa hari lalu, sebenarnya merupakan satu langkah pemerimtah untuk memberikan suatu kepastian. APBN telah difungsikan sebagai motor untuk menggerakkan dan mengarahkan pembangunan nasional. Pemerintah meiihatnya begitu, dan masyarakat umumnya pun beranggapan demikian. Bagaimana angka-angka dalam APBN 1984/1985 itu ditafsirkan akan sangat tergantung dari cara masing-masing melihatnya. Ia bisa dilihat dalam kaitannya dengan kondisi ekonomi nasional atau keadaan ekonomi dunia, dan ia bisa dibandingkan dengan APBN tahun lalu. Walaupun tidak banyak artinya bila tidak dibandingkan dengan perkiraan realisasinya, ia bisa ditafsirkan dari posnya masing-masing atau dilihat secara keseluruhan. Perubahan komposisi (persentase alokasi) baik di segi pengeluaran maupun penerimaan kiranya menunjukkan bahwa ada semacam worst case scenario (skenario kemungkinan yang paling buruk), yang dijadikan landasan penyusunannya. Di segi penerimaan, misalnya persentase pos yang relatif lebih pasti - yaitu penerimaan pembangunan - tampak meningkat. Dan kiranya, jumlah sebesar Rp 4,4 trllyun itu tidak di luar jangkauan kita. Walaupun angka-angka APBN ini perlu dianggap serius, ia tidak pernah bisa dianggap pasti. Di negara lain pun tidak. Di Amerika Serikat, misalnya, defisit anggaran cenderung menjadi jauh lebih besar dalam realisasinya. Dibandingkan dengan keadaan di Amerika Serikat, ada hal yang lebih pasti dalam pengelolaan ekonomi Indonesia, yaitu bahwa pemerintah tidak akan mempraktekkan pembiayaan defisit, karena falsafah anggaran berimbang yang dianut begitu teguh. Namun, memegang teguh prinsip ini mengharuskan adanya keluwesan di segi pengeluaran. Pos pengeluaran rutin, bila harga BBM sudah disesuaikan, bisa dianggap fixed, dan karenanya tidak bisa ditekan lagi. Pos bantuan proyek dalam pengeluaran pembangunan secara otomatis mengikuti pos yang sama dalam penerimaan pembangunan. Berarti, hanya pos pembiayaan rupiah dalam pengeluaran pembangunan yang bersifat luwes dan karenanya harus dapat ditekan ke bawah bila perlu. Dalam APBN 1984/1985 ini, yang pengeluaran rutinnya hampir sama besar dengan pengeluaran pembangunan, setiap tindakan menekan pos pembiayaan rupiah akan membuat pengeluaran rutim menjadi lebih besar daripada pengeluaran pembangunan. Tetapi apa salahnya hal seperti ini dilakukan? Justru esensi penyesuaian yang sehat seharusnya memang demikian. Demikian pula, ketidakpastian dalam APBN seharusnya tidak perlu menimbulkan gangguan besar terhadap perkembangan ekonomi secara keseluruhan. Pada akhirnya, yang diperlukan adalah kepastian untuk ekonomi secara keseluruhan. Apabila APBN mengandung berbagai ketidakpastian, keadaan ini seharusnya dapat dikompensasikan oleh instrumen-instrumen nonfiskal yang masih banyak tersedia dan bisa digunakan. Walaupun APBN tetap akan penting artinya bagi perkembangan ekonomi kita, seharusnya ia bukan lagi merupakan satu-satunya yang terpenting. Dunia perbankan sudah lebih berkembang, dan dunia usaha sudah mempunyai potensi yang jauh lebih besar. Kesemuanya berkat kemajuan-kemajuan yang dicapai selama tiga Pelita. Dengan APBN 1984/1985 ini, kita sudah memasuki tahap Pelita IV yang mempunyai kondisi ekonomi yang lain dari 15 tahun lalu, dan karenanya mungkin mengundang pula suatu landasan makroekonomi yang baru. Apabila APBN sukar diandalkan untuk berfungsi sebagai motor penggerak yang utama, kiranya memang sudah waktunya merumuskan langkah-langkah agar dunia usaha tidak lagi merasa terlalu dianaktirikan dan dengan demikian dapat ikut memainkan peranan yang penting dalam mempertahankan kesinambungan dan meningkatkan pembangunan nasional. Dewasa ini sudah banyak terlontar pemikiran ke arah ini, tapi belum ada kejelasan dari mana akan dimulai. Mungkin pula sukar dimulai karena kita terjebak dalam gagasan-gagasan tertentu. Meskipun demikian, tantangan yang kita hadapi demikian besar sehingga sulit dicari alternatif lain kecuali bila kita bersedia membayar harga dari etatisme yang meluas. Suatu keadaan yang sebenarnya ditentang oleh gerakan Orde Baru sekitar dua puluh tahun yang lalu.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Persiapan bahan

Catatan Pinggir

Tanaman dan tembok tiongkok

Unknown

Pipa devisa soviet

Agama

Gugatan kepada maulud nabi

Goyang ayat quran

Buku

Westerling, si harimau putih

Rehal-putu setia

Rehal-bambang bujono

TEMPO|interaktif

Bisnis

Bank Sentral Diminta Waspadai Serbuan Asing  

Chiellini Optimistis Tampil di Euro 2012  

Nasional

Rektor Gelapkan Dana Pendidikan, Mahasiwa Mengamuk

Nasional

DPR Siapkan Peraturan Logo Palang Merah

Bisnis

PGN Bagikan Deviden Rp 3,2 Triliun

Teknologi

Obama Ucapkan Terima Kasih pada Steve Jobs  

Bisnis

BP Migas: Lifting Minyak Bakal Meleset  

Olahraga

Ivanovic Tersiksa Menyaksikan Final Liga Champions  

Produsen Rokok Diminta Stop CSR  

Internasional

Korsel Akan Beli 600 Rudal Hadapi Korut  

Kapolri Bantah Persulit Izin Lady Gaga  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif