Memburu Modal Hong Kong
Iklan itu bukan mempromosikan Hong Kong, melainkan negara Kepulauan Cayman. Hari-hari ini iklan serupa itu memang sedang membanjiri Hong Kong. Banyak delegasi dagang dan puluhan konsultan dari pelbagai negara, silih berganti, datang ke koloni Inggris itu, menawarkan bermacam-macam kemudahan investasi. Tujuan mereka satu: menarik para pemilik modal di koloni Inggris itu sebesar-besarnya. Mereka beranggapan bahwa belum pastinya masa depan Hong Kong sesudah masa penyewaan berakhir, 1997, merupakan saat baik untuk membujuk kaum pemilik modal.
MAURITIUS, misalnya, mempromosikan bebas kuota dan pajak bagi komoditi yang dihasilkan di negara itu masuk pasar Eropa Barat. Sedangkan delegasi Costa Rica, yang datang ke Hong Kong September lalu sewaktu nilai dolar Hong Kong jatuh tajam, berhasil menggaet 20 pengusaha Hong Kong untuk menetap di sana. Setiap pengusaha Hong Kong yang masuk negeri itu diperbolehkan membawa uang tunai US$ 38 ribu.
Dalam persaingan itu, Kanada merasa perlu mengeluarkan buku petunjuk "paspor Anda ke Kanada", untuk sejumlah calon imigran Hong Kong. Selain itu, sekurangnya 70 pengacara Kanada tiba di Hong Kong awal tahun ini untuk memberikan naslhat masalah penanaman modal dan imigrasi. Mereka, konon, memasang tarif 15 ribu dolar Kanada untuk tiap lembar formulir pengurusan keimigrasian yang sebenarnya diberikan gratis oleh pemerintah Kanada. Toh banyak pengusaha Hong Kong yang tampak lebih suka pindah ke Inggris daripada ke negara-negara di atas. Tapi negeri itu, yang merasa khawatir akan dibanjiri imigran Hong Kong, tahun lalu buru-buru mengeluarkan peraturan keimigrasian baru. Di situ, misalnya, disebut bahwa hanya warga negara Inggris kelahiran Inggris atau yang orangtuanya kelahiran Inggris saja yang bisa menetap di Inggns. Tentu saja, pemegang paspor Inggris kelahiran Hong Kong menjadl resah. "Selama 100 tahun, mereka menyebut kami warga Inggris, tapi kini, dengan hanya satu goresan pena, mereka mengatakan bukan. Apakah itu adil?" gerutu Ronald Lie, ketua Far East Stock Exchange Hong Kong.
Namun, para pemegang paspor Inggris kelahiran Hong Kong atau RRC masih bisa menetap di Inggris, asal menanamkan modal paling sedikit œ 150 ribu dan harus menyerap sedikitnya 15 tenaga warga Inggris.
Bagaimana Indonesia? Ketua BKPM Suhartoyo tampaknya belum merasa perlu berkampanye aktif seperti mereka - apalagi sampai memasang iklan dan mengirim delegasi - meski rezeki minyak sedang kempis. Modal Hong Kong di sini berjumlah US$ 1.143,8 juta (127 proyek), atau nomor 3 teratas, sesudah Jepang dan Amerika. Tidak jelas apakah iklim investasi di sini masih cukup menarik sesudah pemerintah meniadakan masa bebas pajak bagi PMA mulai tahun ini.
