• Home
  • 13 Oktober 1984
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 13 Oktober 1984

    Dari Granat Di Cikini Sampai Bom...

    TEROR bukan hal baru di Indonesia. Catatan sejarah Indonesia banyak sekali diwarnai pelbagai taktik teror yang dilakukan berbagai kelompok dan gerakan. Di awal revolusi fisik, misalnya, berbagai laskar dan kelompok sering menteror lawannya dengan menculik atau membunuh mereka. Sewaktu Pemberontakan Madiun, 1948, PKI menteror masyarakat dengan secara massal membunuh banyak sekali kelompok agama, nasionalis, dan anggota ABRI - sebagian besar dengan mengeksekusi mereka di lapangan terbuka. Gerombolan DI/TII Kartosuwirjo di Jawa Barat dan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan juga menteror rakyat dengan menyerang dan membakar kampung-kampung, merampok, serta membunuh rakyat. Teror dengan motif politis kemudian juga berkembang di Indonesia. Salah satu peristiwa yang paling mencengkam adalah Peristiwa Cikini. Pada 30 November 1957, pukul 20.55, lima buah granat dilemparkan ke arah Presiden Soekarno, yang malam itu menghadiri perayaan Lustrum III Yayasan Perguruan Tjikini di Jalan Cikini, Jakarta Pusat. Presiden Soekarno sendiri selamat, walau Ngationo, pengawal pribadi presiden, yang menamenginya, luka berat. Mayor Sudarto, ajudan presiden, juga terluka. Sembilan orang tewas, dan 104 luka-luka, banyak di antaranya murid sekolah yang herumur dibawah 15 tahun. Beberapa jam setelah percobaan pembunuhan itu, lepas tengah malam, lewat RRI Jakarta (yang tengah menyiarkan acara wayang kulit semalam suntuk), Presiden Soekarno berpidato "Ini adalah suara saya, suara Bung Karno. Saya telah diselamatkan dari teror, dari suatu malapetaka." Wakil Presiden Bung Hatta kemudian menuduh, "Teror dan pembunuhan, serta intimidasi berbagai rupa, adalah pembawaan fasisme, dan tidak sesuai dengan sistem demokrasi." Para pelaku utamanya segera tertangkap, antara lain Yusuf Ismail, Saadon bin Muhamad, Tasrif bin Husein, dan Tasim bin Abubakar. Dalam sidang pengadilan, keempat orang tersebut mengakui menjadi anggota "Gerakan Anti Komunis" atau "Gerakan Zulkifli Lubis". Letnan Kolonel Sukendro, asisten I KSAD, dalam suatu jumpa pers menjelaskan bahwa dalang Peristiwa Cikini adalah Kolonel Zulkifli Lubis, yang terungkap memberikan secara langsung granat yang dipakai untuk mencoba membunuh kepala negara itu. Keempat terdakwa itu kemudian dijatuhi hukuman mati. Usaha menggranat Presiden Soekarno terjadi lagi pada 7 Januari 1962 di Makassar. Peristlwa ini dikenal sebagai Peristiwa Cenderawasih karena terjadi di Jalan Cenderawasih. Granat yang meledak sekitar 150 meter di belakang mobil yang ditumpangi Bung Karno itu mengakibatkan tiga orang tewas dan 28 luka-luka. Yang dituduh mendalangi usaha pembunuhan ini: pemerintah Belanda - konon untuk menyetop kampanye pembebasan Irian Barat yang waktu itu dikomandokan Bung Karno. Masih pada 1962. Pada Mei tahun itu, dalam acara salat Idul Adha di halaman Istana Merdeka, teroris menusuk lagi. Waktu itu pukul 07.50. Presiden Soekarno dan sekitar 7.500 orang tengah bersalat, tatkala seorang peserta berteriak Allahuakbar dan menembakkan pistolnya ke arah Presiden, yang berdiri di deretan depan. Bung Karno sendiri selamat, tapi lima orang luka ringan, termasuk Ketua DPRGR Zainul Arifin dan Wakil Ketua MPRS Idham Chalid. Yang dituduh mendalangi peristiwa ini adalah Kartosuwirjo. Menjelang 1965, giliran PKI melancarkan teror melalui usaha aksi sepihak di berbagai daerah, termasuk membunuh alat negara. Puncak teror PKI terjadi pada pagi 1 Oktober melalui Peristiwa G-30-S, yang membunuh sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat dalam usaha kudeta mereka. Teror terjadi juga pada masa Orde Baru. Pada 1976, Timzar Zubil, yang bercita-cita menghidupkan kembali DI/TII, memerintahkan anak buahnya yang bernama Anwar Jeri melemparkan granat di tengah kerumunan manusia yang tengah menyaksikan MTQ di Pematangsiantar. Untunglah, granat tersebut tidak meledak. Pada Oktober 1976 Timzar meledakkan Rumah Sakit Immanuel Bukittinggi dan Masjid Nurul Iman di Padang. Desember 1976 merupakan operasi terakhir Timzar Zubil, yang menjabat asisten I Komando Wilayah Pertempuran Sum-Ut Komando Jihad. Ia meledakkan Hotel Apollo, sebuah klub malam di Jalan Bawean, Gereja Metodis, dan Bioskop Riang. Semuanya berlokasi di Medan. Ia ditangkap Januari 1977, diadili pada 1978, dan dijatuhi hukuman mati. Permohonan grasinya ditolak Presiden pada 1981. Namun, hingga kini ia belum dieksekusi. Menjelang Sidang Umum MPR 1978, menurut Pangkopkamtib Sudomo, berbagai aksi teror direncanakan dan dilakukan kelompok Abdul Qadir DJaelami, yang menyatakan dirinya penganut "Pola Perjuangan Revolusioner Islam". Di tengah sidang umum MPR itu, sebuah bom berukuran kecil meledak di saIah satu WC gedung MPR. Pada 27 'Agustus 1980 sebuah bom diledakkan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, sekitar dua pekan setelah Menteri Penerangan Ali Moertopo meninggalkan ruangan perawatan rumah sakit itu. Tidak ada korban dalam dua peristiwa ledakan tersebut. Setelah itu, ledakan bom yang lebih kuat mengguncangkan Masjid Istiqlal. Gerakan teror yang paling lama bertahan adalah kelompok Warman, yang bergerak dari 1978 sampai 1981 dan juga menamakan diri Komando Jihad. Yang mereka lakukan antara lain: pembunuhan Parmanto, Pembantu Rektor Universitas Negeri 11 Maret, Solo pembunuhan Hasan Bauq, mahasiswa IAIN di Yogyakarta perampokan uang gaji penggarongan toko emas di Jawa Barat dan kasus Rajapolah yang menewaskan dua anggota Polri. Warman, bekas anggota DI/TII Kartosuwirjo, kemudian tewas pada 23 Juli 1981 dalam suatu penggerebekan di Soreang, sekitar 17 km di selatan Bandung. Tahun 1981 diwarnai oleh teror kelompok Imran, yang menamakan diri mereka "Dewan Revolusi Islam Indonesia". Kelompok ini pada 11 Maret 1981 menyerang pos polisi Cicendo, Bandung, dan pada 28 Maret membajak pesawat terbang Garuda Woyla. Lima pembajaknya kemudian tewas dalam operasi pembebasan di lapangan terbang Don Muang, Bangkok. Imran kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan kemudian menjalami eksekusi. Kelompok mana yang melakukan pengeboman di tiga tempat di Jakarta pekan lalu ? Belum jelas benar. Namun, beberapa sumber TEMPO mengatakan bahwa pengeboman itu ada kaitannya dengan Peristiwa Tanjung Priok. Namun, menurut Kapolda Metro Jaya Soedjoko, masih terlalu pagi untuk mengaitkan peristiwa peledakan itu dengan masalah politik. "Yang jelas, hal itu dilakukan orang-orang tertentu yang ingin mencelakakan banyak orang," katanya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Memeriksa Naskah

Catatan Pinggir

Bom

Album

Pengukuhan sebagai guru besar

Menerima penghargaan

Melahirkan

Buku

Menelusuri jejak lewat prasasti

Rehal-putu setia

Rehal-Toeti Kakiailatu

TEMPO|interaktif

Olahraga

Cedera Bahu, Maria Febe Takluk dari Wang Yihan

Malam Ini, Peti Jenazah Korban Sukhoi Mulai Dilas

Olahraga

Tim Thomas dan Uber Tertinggal 2-0 dari Cina  

Peti Jenazah Korban Sukhoi Tiba di Halim

Anang Menikah, KD Berharap Sering Bertemu Anak

Jerman Beri Waktu Istirahat 8 Pemain Muenchen

Bisnis

PGN Bantah Ambil Untung dari Kenaikan Harga Gas

Nasional

Nasib 500 Pegawai Honorer di Kota Batu Tak Jelas

Bisnis

Gas Bersubsidi Mulai Diawasi di Sumedang

Bisnis

Bank Sentral Diminta Waspadai Serbuan Asing  

Chiellini Optimistis Tampil di Euro 2012  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif