• Home
  • 16 Februari 1985
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 16 Februari 1985

    Serah Terima Jabatan

    IKLIM baru diharapkan akan muncul dari BKPM, yang kini dikemudikan ketua baru yang masih muda dari Sekretariat Negara. Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri Ginandjar Kartasasmita, 43, menerima tongkat jabatan Selasa pekan ini, dari Suhartoyo, 58. Beberapa waktu sebelumnya, pejabat Setneg yang lain, Ir. Sanjoto Sastrowardoyo, telah diangkat sebagai wakil ketua. Dengan dua pejabat dari Setneg itu, Kamar Dagang AS (Amcham) dl Jakarta memperkirakan bahwa kemudahan prosedur periinan yang sudah diletakkan Suhartoyo akan diperlicin. Suhartoyo selama menjadi ketua BKPM, sejak 1981, bukan tidak aktif. Belum lama ia dilantik sebagai ketua, Juli 1981, BKPM memasang iklan pengumuman yang mengancam lebih dari 100 perusahaan yang lalai memberikan laporan.Gemanya masih terdengar kini: Terakhir mengumumkan pencabutan izin dari 12 perusahaan PMDN. Alasannya, untuk menciptakan administrasi BKPM yang bersih. Namun, tugas utama yang dilakukannya selama ini, agaknya, mengevaluasi mengapa penanaman modal di tanah air semakin merosot, terutama sejak akhir 1983. Juli lalu setelah menghadap Presiden, Suhartoyo mengungkapkan empat hambatan penanaman modal di sini: Menyangkut kebijaksanaan, implementasi ketentuan-ketentuan, prosedur dan tata laksana yang di tangani BKPM dan BKPM daerah (BKPMD), serta prospek bisms dl Indonesia. Sebenarnya, minat investor asing ke Indonesia masih besar, apalagi setelah BKPM bekerja sama dengan instansi lain di luar negeri melancarkan promosi ke Eropa dan AS. Misalnya, banyak pengusaha dari salah satu negara pusat keuangan dunia, Swiss, ke Indonesia. Tapi berbagai hambatan yang disebut Suhartoyo, serta laporan para investor yang sudah berkecimpung di Indonesia tentang birokrasi, perpajakan, dan lain-lain, merupakan ganjalan. Dewasa ini, iklim investasi memang tak sebaik awal Pelita I, sewaktu banyak jenis industri hilir masih terbuka luas. Kini. sektor industri produk konsumsi yang cepat memberi penghasilan itu, misalnya tekstil, elektronik dan mobil, minuman dan obat-obatan, sudah terasa jenuh. Pemasaran pun sulit, sementara impor masih membanjir, sehingga perlu ada menteri muda urusan peningkatan penggunaan produksi dalam negeri. Padahal, BKPM masih memberikan fasilitas impor kepada para pengusaha yang bukan tidak mungkin disalahgunakan. Ada perusahaan asing, misalnya, yang membutuhkan bata tahan api guna pabrik peleburan, diizinkan mengimpor bata tahan api untuk kemudian dijual pada perusahaan real estate. Perusahaan dalam negeri pun ada yangsudah lama dlben izin membangun pabrik, ternyata pabriknya tak pernah terwujud, tapi aktif terus mengimpor barang. Perusahaan curang seperti itu antara lain PT Harmoni dan PT Pato (keduanya di Medan), yang dicabut izin PMDN-nya 23 Januari lalu. Tapi alasan yang muncul yaitu karena tak pernah memberi laporan perkembangan perusahaan ke BKPM. PT Infararis Pharma (juga dari Medan) terkena hal yang sama. Padahal, menurut pemiliknya, Sutan Azis Atar, perusahaan itu justru tak mau menggunakan fasilitas impor lewat prosedur rumit BKPM. Laporan semua perusahaan itu memang diperlukan BKPM untuk menjadi bahan evaluasi, antara lain guna mengetahui bidang industri mana yang sudah jenuh, mana yang masih bisa diisi investor baru. Ternyata, ada saja yang alpa membuat laporan. Kendati ada kecenderungan penurunan investasi - secara nasional - beberapa daerah ternyata malah mulai menarik. Provinsi D.I. Yogyakarta, misalnya, yang se1ak 1969 sampai 1983 cuma berhasil menarik investasi bernilai Rp 48 milyar, tahun lalu sekitar Rp 24 milyar hendak ditanamkan para pengusaha di situ. Industri tekstil di kota kerajinan batik itu memang sudah terasa jenuh, tapl industri pariwisa,ta, pertanian, dan pertambangan ternyata mulai meningkat. Kota berpenduduk tiga juta itu dinilai cukup menyediakan tenaga - mulai dari buruh sampai ahli. Bidang agribisnis, seperti peternakan, perikanan, dan pembudidayaan tanaman jarak - penghasil minyak keperluan amunisi dan roket - dianggap potensial untuk dikembang kan di situ. Promosi Indonesia untuk penanaman modal asing kemungkinan masih sangat diperlukan. Ginandjar Kartasasmita, yang telah beberapa kali menjadi anggota delegasi Indonesia ke berbagai kota di lima benua, tentu mempunyai kemampuan kuat untuk itu. Namun, beberapa pengusaha asing khawatir bahwa fasilitas impor yang selama ini ditawarkan BKPM akan diperketat.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Meraih hadiah foto

Ilham meraih hadiah

Album

Sepuluh wartawan teladan

Penghargaan Jurnalistik

Pemenang hadiah adinegoro 1984

Catatan Pinggir

Ratu

Indonesiana

Kado istimewa

Helm ibu umi

Akad nikah dan pancasila

Seni Rupa

Dengung dari hutan

Agama

Dari rabithah, hukum-hukum

Babi, babi hutan, babi rusa

Patung-patung yang bergeser

Buku

Rahasia kamar 1116

Rehal-mustafa helmy

Rehal-praginanto

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Promotor Lady Gaga Mediasi dengan Polda.  

Olahraga

Cedera Bahu, Maria Febe Takluk dari Wang Yihan

Malam Ini, Peti Jenazah Korban Sukhoi Mulai Dilas

Olahraga

Tim Thomas dan Uber Tertinggal 2-0 dari Cina  

Peti Jenazah Korban Sukhoi Tiba di Halim

Bisnis

Izin Terbang ke Amerika Serikat Sudah 95 persen  

Anang Menikah, KD Berharap Sering Bertemu Anak

Jerman Beri Waktu Istirahat 8 Pemain Muenchen

Bisnis

PGN Bantah Ambil Untung dari Kenaikan Harga Gas

Nasional

Nasib 500 Pegawai Honorer di Kota Batu Tak Jelas

Bisnis

Gas Bersubsidi Mulai Diawasi di Sumedang

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif