• Home
  • 23 Februari 1985
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 23 Februari 1985

    Bersaing Dalam Botol

    GREEN Spot terpukul habis. Minuman dalam botol dengan rasa jeruk itu tergusur dari peredaran sesudah perakitannya di Pulogadung, Jakarta, tutup sejak 21 Januari lalu. Segala upaya sudah ditempuh, termasuk memberi hadiah satu krat (24 botol) Green Spot untuk setiap pembelian tiga krat, guna menyelamatkannya. Tapi usaha itu sia-sia bagai hilang di makan angin. "Kami sudah tidak tahan lagi," ujar Johnny Wiriawan, direktur Sinar National Bottling Industries (SNBI), perakit minuman itu. Kegagalan itu tentu tak dibayangkan Johnny beserta kelompoknya, yang mengambil alih 70% saham SNBI, satu setengah tahun lalu. Di pertengahan 1983 itu, dalam keadaan sekarat, penjualan Green Spot hanya 600 krat sehari. Dengan kampanye dan pemasaran gencar, penjualannya bisa di dongkrak jadi 1.600 krat - sekalipun belum pernah mencapai titik impas yang 5.000 krat. Angka itu rupanya tetap tak berubah, sampai uang pemegang saham amblas Rp 1 milyar di situ, dan 400 karyawan dirumahkan. Menurut dugaan Johnny, kegagalan manajemen mengerek angka penjualan itu boleh jadi karena perusahaan harus memikul biaya tetap distribusi terlalu besar, apalagi botol kosongnya juga harus kembali ke pabrik. Faktor lain yang juga menentukan adalah soal kemantapan kualitas. Kata seorang bekas manajer di situ, rasa minuman itu sering berubah, karena mesinnya sudah terlalu tua. Tapi, mungkin saja, kegagalan itu lebih berpangkal pada kekeliruan cara-cara pemasaran. Boleh jadi, karena rantai pemasarannya terlalu panjang, peluang agen dan penyalur jadi terlalu tipis. Tidak demikian dengan teh botol dan kardus keluaran PT Sinar Sosro yang agennya bisa langsung mengambil ke pabrik teh dalam botol dengan Rp 62,50 dan teh dalam kardus Rp 125. Di pasar, dengan rantai pemasaran pendek, produk itu masing-masing bisa dijual dengan Rp 150 dan Rp 200. Dengan kata lain, laba yang dipetik agen dan pengecer cukup besar, karena kesempatan memang dibuka oleh pihak pabrik. Dengan cara itu, tahun lalu, Sosro bisa menjual 40 ribu krat teh botol dan kardus setiap bulan, atau naik 30% dibandingkan 1983. Kisah sukses itu lalu mendorong Sosro, awal bulan depan, untuk meluncurkan tujuh macam minuman sari buah-buahan. "Meskipun persaingan di minuman jenis ini begitu sengit, di bawah bendera sosro saya cukup optimistis akan berhasil," ujar Suadi Padawali, manajer umum Sinar Sosro. Cara pemasaran cukup unik, yang ternyata membuahkan hasil gemilang, di lakukan PT Djaya Beverage Bottling Co., pemegang lisensi Coca-Cola, Fanta, dan Sprite untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Penjualan minuman ini dilakukan langsung ke pengecer. Jadi, jangan heran bila pabrik itu punya 20 ribu pengecer. Sekalipun cara itu menambah banyak biaya distribusi, tahun 1982, penjualan kelompok Coca-Cola pernah mencapai 5.625 ribu krat. Tekanan dari teh botol dan minuman sari buah rupanya memaksa Coca-Cola turun hingga angka 4.450 ribu krat tahun lalu. Persaingan, tahun ini, akan makin sengit. Pemegang saham SNBI, yang sudah merasa gagal memasarkan Green Spot, sudah pula mendirikan pabrik penghasil minuman sari buah seharga Rp 400 juta di Cibinong. Sejak September lalu, setiap bulan, World Shine Food & Beverage Industry bisa menjual 8.000 karton pelbagai minuman sari buah. "Pengelolaan pabrik ini jauh lebih praktis," ujar Zulkarnain Malik Miraza, kepala proyek WSFBI. "Selain proses pembuatannya sederhana, kemasannya bisa langsung dibuang, hingga kami tak perlu repot-repot mengumpulkan kembali seperti botol." Apa boleh buat, bertambahnya produk minuman di pasar menyebabkan penjualan minuman karton PT Dafa berupa susu cokelat, susu manis, dan strawberi, turun dari l3 ribu pak (24 bungkus/pak) pada 1983 jadi 11 ribu pak tahun lalu. Iklan ternyata tak menolong. "Cara menjual seperti dilakukan Sosro ternyata lebih berhasil, kami akan mecobanya," ujar seorang manajer Dafa. Nah, bakal ramai ....

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Penyempurnaan organisasi

Catatan Pinggir

Los

Buku

Renungan panjang koko

Rehal-toeti kakiailatu

Tari

Mereka bergerak, tapi tak bebas lagi

Album

Iman besar di mesjid istiqlal

Meninggal Dunia

Meninggal Dunia

TEMPO|interaktif

Trimarga Tanggung Ongkos Pemulangan Jenazah Korban Sukhoi

Seni & Hiburan

Promotor Lady Gaga Mediasi dengan Polda.  

Olahraga

Cedera Bahu, Maria Febe Takluk dari Wang Yihan

Malam Ini, Peti Jenazah Korban Sukhoi Mulai Dilas

Olahraga

Tim Thomas dan Uber Tertinggal 2-0 dari Cina  

Peti Jenazah Korban Sukhoi Tiba di Halim

Bisnis

Izin Terbang ke Amerika Serikat Sudah 95 persen  

Anang Menikah, KD Berharap Sering Bertemu Anak

Jerman Beri Waktu Istirahat 8 Pemain Muenchen

Bisnis

PGN Bantah Ambil Untung dari Kenaikan Harga Gas

Nasional

Nasib 500 Pegawai Honorer di Kota Batu Tak Jelas

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif