• Home
  • 24 Agustus 1985
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 24 Agustus 1985

    Batan Mendidik Sendiri

    DI bawah Departemen P & K, kadang kala, sebuah sekolah justru tidak efektif. Itu sebabnya Batan (Badan Tenaga Atom Nasional) 3 Agustus lalu meresmikan Pendidikan Ahli Teknik Nuklir (PATN) pendidikan program diploma satu, dua, dan tiga tahun. Satu-satunya pendidikan ahli nuklir di Indonesia itu kini ditempatkan di kompleks Pusat Penelitian Bahan Mumi dan Instrumentasi Batan di Babarsari, Yogyakarta. Berdiri di tanah seluas 0,75 ha, bangunan dua lantai berbentuk kotak ini makan biaya lebih dari Rp 0,5 milyar. Yang membuat biaya mahal, agaknya, empat laboratorium dengan peralatan lengkap - laboratorium kimia dasar, kimia analisa, fisika dasar, dan laboratorium tiup gelas. Itu semua untuk mendidik 31 mahasiswa Jurusan Teknokimia Nuklir, dan 42 mahasiswa Teknofisika Nuklir. Semua mahasiswa adalah karyawan Batan. "Untuk sementara PATN hanya mendidik tenaga dari Batan sendiri," kata Djali Ahimsa, dirjen Batan. Sebabnya, keterampilan sebagian besar dari 800-an karyawan Batan, terutama yang berijazah SMTA, masih perlu ditingkatkan. Sebelum ada PATN kepada mereka hanya diberikan kursus-kursus yang tak teratur. Atau, disekolahkan ke luar negeri - tapi ini hanya satu-dua. Soalnya, mau tak mau, Indonesia pun mesti mengikuti gerak kemajuan teknologi dunia. Artinya, mempelajari dan memanfaatkan nuklir. Untuk mengelola reaktor atom 30 megawatt di Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) di Serpong, Tangerang, Jawa Barat, itu misalnya. Juga, umpamanya Pusat Listrik Tenaga Nuklir yang direncanakan akan dibangun di pantai utara Jawa Tengah, di kawasan Gunung Muria. Lalu, ahli teknik nuklir seperti apa yang hendak dihasilkan PATN? Program pertama, diploma-1 dua semester, menjanjikan seorang ahli yang terampil memasang intalasi kimia atau fisika nuklir. Dan, mampu menganalisa hasil proses kimia nuklir bagi lulusan Jurusan Teknokimia. Dari Jurusan Tekno-fisika, mampu membuat peralatan bantu fisika guna menunjang penelitian. Program 4 semester, atau diploma-2, diharapkan mendidik calon ahli memelihara peralatan dan menguasai teknik penanggulangan bahaya reaktor nuklir - selain kemampuan sebagai lulusan diploma-1. Dan program diploma-3 menyiapkan ahli-ahli yang menguasai keterampilan tersebut, ditambah beberapa keahlian lagi. Terpenting, mampu membantu para peneliti di bidang nuklir. Para mahasiswa PATN, yang sekaligus karyawan Batan itu, selama kuliah dibebaskan dari tugas-tugas. Gaji tetap dibayarkan penuh, kuliah gratis. Cuma, menjadi mahasiswa di PATN tidak ringan. Jam kuliah dari pukul 08.00 hingga 16.00, dengan istirahat hanya sejam. Guna membimbing, mengarahkan, dan memonitor perkembangan mereka, ada dosen-dosen yang ditugasi menjadi wali 5-10 mahasiswa. Diharapkan dengan demikian perkuliahan berjalan lancar. Adapun para dosen selain dari lingkungan Batan sendiri, juga dari Teknik Nuklir UGM. Ada dua hal yang menyebabkan PATN tak diserahkan pada UGM saja, misalnya dengan cara pihak Teknik Nuklir universitas negeri tertua di Indonesia itu membuka program diploma. Atau, membuka politeknik jurusan nuklir. "Tidak efisien," kata Pratiwi Sapto, kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Batan. "Sebab, orientasi PATN pada pekerjaan." Maksud Pratiwi, akan lebih efisien bila PATN langsung dikelola oleh Batan, toh, semua peralatan praktek adalah milik Batan. Dan, lulusan program diploma ahli nuklir di Indonesia belum ada lapangan pekerjaannya selain di Batan. Dengan pertimbangan itulah, PATN tak diserahkan kepada lembaga lain. Memang sudah di tahun 1970-an ada jurusan teknik nuklir UGM dan UI. "Tapi itu pendidikan untuk program sarjana yang lebih menggarap ilmunya," kata Pratiwi pula. Sentralisasi ternyata tak selalu bermanfaat. Bahkan, seperti PATN ini, bisa merugikan. Barangkali ini sebabnya niat Departemen P & K guna menarik semua lembaga pendidikan pemerintah berada di bawah naungannya belum pernah terlaksana dengan sukses.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Loka karya manajemen

Catatan Pinggir

Merdeka

Indonesiana

Razia kucing

Sayembara menangkap belut

Album

Menikah

Sakit

Meninggal Dunia

Buku

Sebuah pertanyaan dari pedalaman... anatomi seorang seniman lekra

Sebuah pertanyaan dari pedalaman...

Rehal-zaim uchrowi

Agama

Melihat fenomena islam

Kiai dari chicago

Seni Rupa

Poster yang sepi, poster yang ...

TEMPO|interaktif

Otomotif

Ini Dia, 10 Mobil Paling Berharga 2012

Iklan Picu Anak Merokok, Industri Emoh Disalahkan

Bisnis

Pengusaha Kecil Solo 'Menyerbu' Jakarta  

Otomotif

Salip Toyota, BMW Jadi Mobil Terbaik Sejagat

Olahraga

Lin Dan Sebut Simon Pemain Luar Biasa  

Olahraga

Lin Dan Sebut Simon Pemain Luar Biasa

Usai Rehabilitasi Kecanduan Rokok, Ilham Kabur  

Olahraga

Mourinho Bertahan di Madrid Sampai 2016

Teknologi

LG Rilis Penyimpan Hard Disk Eksternal  

Casillas Ragu Spanyol Bisa Pertahankan Gelar Juara

Bisnis

Mayoritas Pasar Tradisional Sudah Renta

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif