• Home
  • 28 September 1985
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 28 September 1985

    Jurusan Gelap Salah Tafsir

    INI bukan sekadar perguruan tinggi swasta (PTS) papan nama atau PTS yang memalsukan statusnya. Tapi, sebuah akademi yang kemudian membuka jurusan yang sebenarnya bukan haknya. Akademi Sekretaris dan Manajemen (ASM) Harapan di Medan, yang berdiri pada 1974, punya jurusan manajemen kantor. Dua tahun kemudian akademi itu membuka jurusan baru, jurusan akuntasi. Hingga pelantikan 12 sarjana muda lokal akuntasi angkatan terakhir, akhir Agustus lalu, tak ada masalah apa pun. Tapi tampaknya kedua belas sarjana muda itu ragu-ragu terhadap predikat ijazah mereka yang "diakui" itu. Sebab, beberapa hari kemudian mereka mendengar bahwa kakak kuliah mereka, sarjana muda akuntasi angkatan 1982-1983, ditolak permohonannya oleh Kopertis Wilayah I. Permohonan itu: agar mereka diizinkan mengikuti ujian negara. Alasan pihak Kopertis adalah karena jurusan akuntasi di akademi itu sama sekali tak punya status "terdaftar". Apalagi kemudian ada edaran dari Akademi, 10 September, agar mahasiswa Jurusan Akuntasi bersedia pindah ke Jurusan Manajemen Kantor. Ke-12 sarjana muda akuntasi lokal itu mengadu ke LBH Medan, 7 September. Mereka minta tolong LBH agar mendesak pihak Akademi menyelesaikan status ijazah mereka. Tapi, surat-surat LBH tak dijawab oleh ASM Harapan. Surat terakhir kepada pihak Akademi, 14 September lalu, pun tanpa jawab. Akibat status jurusan yang tak jelas itu, pemegang ijazah Jurusan Akuntasi ASM Harapan jadi ragu. Misalnya Hakamuddin Halim, 26, yang ikut dilantik menjadi sarjana muda akhir Agustus itu. Ia tak lagi berani mengajukan penyesuaian golongan di PT Barata Indonesia, tempatnya bekerja sejak dua tahun lalu. Sebenarnya, pada 1983 pihak Kopertis sudah mengirimkan teguran kepada akademi tersebut. "Sejak dulu jurusan itu tak pernah disebut-sebut dalam surat-surat keputusan Menteri P & K sehubungan dengan akademi itu," tutur Chainur Arrasyid, ketua Kopertis Wilayah I. Yang selalu disebut hanyalah Jurusan Manajemen Kantor, yang sudah lama berpredikat "diakui". Maka, saran Kopertis, agar mahasiswa Akuntasi dipindahkan saja ke Manajemen Kantor, dan jangan menerima mahasiswa baru. Sebab, ada ketentuan dari Ditjen Pendidikan Tinggi, yang bisa membuka jurusan akuntasi hanyalah fakultas atau sekolah tinggi ekonomi. Atau, akuntasi berdiri sendiri sebagai akademi. Jelas, ASM tak punya hak membuka jurusan akuntasi. Itu sama saja dengan membuka jurusan gelap. Tapi teguran Kopertis tak digubris. Baru pada 1984 Jurusan Akuntasi tak menerima mahasiswa baru. Kini tinggal 45 mahasiswa angkatan 1983, yang kini duduk di tingkat III. T.M. Hanafiah, direktur ASM Harapan, tak dapat ditemui. Menurut sumber TEMPO yang tak bersedia disebutkan identitasnya semua ini terjadi karena Hanafiah salah menafsirkan surat keputusan Menteri P & K. Pada 1981, Menteri P & K - waktu itu Daoed Joesoef - memutuskan bahwa akademi ini berstatus "diakui". Tak disebutkan di situ "diakui" itu untuk jurusan apa. Karena itu, Hanafiah mengira bahwa status itu untuk dua jurusan: Manajeman Kantor dan Akuntasi. Tak tahunya, ada ketentuan, seperti sudah disebutkan, bahwa hanya fakultas ekonomi atau akademi akuntasi yang berdiri sendiri yang boleh memiliki jurusan tersebut. Kini, pemegang ijazah sarjana muda akuntasi akademi ini jadi repot. Ini berarti, ijazah mereka sama sekali diragukan. Bukan cuma status Jurusan Akuntasi ASM Harapan yang dipersoalkan, tapi adanya jurusan itu sendiri di akademi itu tidak sah. "Saya menunggu penyelesaian secara baik-baik dari pimpinan akademi itu," kata Chainur, ketua Kopertis itu. Bila mahasiswa yang sekarang ternyata bersedia pindah jurusan, masih timbul pertanyaan: Bagaimana nasib para sarjana muda lokal akuntasi akademi ini? Mereka toh tak mungkin kuliah lagi dari nol.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Laput terpanjang

Buku

Seratus tentang jawa

Rehal-farid gaban

Album

Meraih Gelar Doktor

Menerima Penghargaan

Mendapat Penghargaan

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Da'i Bachtiar Kritik Soal Kontroversi Izin Konser Lady Gaga

Metro

Telepon Darurat Kebakaran 113 Sulit Dihubungi

Bisnis

Bank Nagari Masuk Bursa Tahun Depan  

Di Natale Incar Posisi Penyerang Tengah Italia  

Nasional

Siapa Pemilik Akun Twitter Triomacan2000?  

2014, Pabrik Baru Honda Indonesia Rampung  

Peti Jenazah Warga Rusia Dikirim Malam Ini  

Teknologi

Unik, Spesies Katak Beracun Pedalaman Panama  

Olahraga

Markis/Hendra Kembali Tersungkur  

Nasional

Keluarga Jenguk Corby di Lapas Denpasar  

Nasional

Grasi SBY untuk Corby Dinilai Bukan Putusan Bijak

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif