• Home
  • 11 Januari 1986
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 11 Januari 1986

    Diskusi dengan arsjad anwar

    SEKALI lagi, inilah kebiasaan kami. Setiap awal tahun, TEMPO menurunkan Laporan Utama mengenai RAPBN. Tradisi yang sudah kami mulai sejak awal Pelita III itu kami lakukan awal tahun ini. Kebetulan, kami harus mempersiapkannya beberapa hari sebelum Presiden Soeharto membacakan pidatonya di depan sidang pleno DPR Selasa pagi. Untuk tulisan Laporan Utama kali ini, bagi kami, memang terasa agak berat mempersiapkannya. Serangkaian wawancara mengenai perkiraan keadaan ekonomi 1986 dengan berbagai dunia usaha kami adakan sebelumnya. Bahkan, seperti tahun-tahun sebelumnya, sebuah tim kecil yang bertugas mempersiapkan Laporan Utama ini mengadakan dskusi mengenai keadaan ekonomi selama ini. Tahun ini, kami mengundang ekonom terkemuka, Prof. Dr. Arsjad Anwar. Hanya kebetulan, diskusi dengan pengajar dan peneliti dari FE UI itu kami adakan di Hotel Hyatt Aryaduta. Bukan apa-apa. Kebetulan sedang ada perbaikan instalasi listrik di kantor kami. Diskusi semacam itu sangat membantu tim Laporan Utama untuk segera menyerap isi RAPBN yang baru dibagikan Senin malam, dalam pertemuan sejumlah menteri ekuin dengan para pemimpin redaksi. Bila mesti bergerak setelah mendapatkan bahan yang baru bisa disiarkan sehabis Presiden menyampaikan pidato Selasa pagi, tentu saja kami akan terjepit waktu. Dengan bahan laporan yang kami kumpulkan sebelumnya,dan diskusi mengenai keadaan ekonomi tahun lalu dan perkiraannya tahun ini, tim kecil Laporan Utama TEMPO itu telah tertolong banyak. Paling tidak, dalam wawancara yang diadakan dalam waktu yang relatif mepet itu, wartawan kami sudah punya gambaran terang. Misalnya, ketika buku tebal berwarna biru muda, Nota Keuangan dan RAPBN 1986/1987 itu dibagikan di Deppen, kami dengan cepat bisa menangkapnya. Sejak Senin malam itu, kami langsung menghubungi berbagai pihak untuk memperkaya tulisan dengan wawancara. Tentu saja, kami terpaksa mengadakan kerja ekstra sampai Selasa sore, mengingat batas waktu turun ke percetakan memang sudah sempit sekali. Kami memaksakan RAPBN kali ini diturunkan dalam Laporan Utama karena ada beberapa hal yang menarik. Budget itu, untuk pertama kali sejak Orde Baru, turun 7% dibanding anggaran tahun sebelumnya. Masih ada angka 7 lagi, yaitu disampaikan dalam sidang pleno DPR tanggal 7 Januari yang bertepatan dengan hari Selasa Wage - menurut perhitungan Jawa, bernilai terkecil yaitu 7. Tapi ini mungkin cuma kebetulan. Kami di kantor yang buka dari Senin pagi sampai Selasa malam itu sengaja mengejar laporan sebanyak-banyaknya untuk sebuah laporan utama. Bahkan pidato Pak Harto Selasa pagi itu juga kami tunggu dengan berbagai komentar dari para ahli dan pengamat ekonomi. Untuk menguber keterbatasan waktu itu, Laporan Utama RAPBN kali ini ditulis secara keroyokan. Eddy Herwanto, penanggung jawab rubrik Ekonomi Bisnis, dan Wakil Pemimpin Redaksi Fikri Jufri - seperti tahun-tahun sebelumnya - menulis dua bagian Laporan Utama ini. Sedangkan Max Wangkar menyajikan tulisan mengenai pendapat dunia usaha menilai tahun sulit 1986/1987. Proses yang menegangkan dan pendek semacam itu memang menjadi bagian pekerjaan kami. Selain untuk mengejar kecepatan agar tidak ketinggalan, usaha semacam itu juga dimaksudkan untuk menyajikan suatu tulisan yang lengkap dan menarik buat pembaca. Inilah sebuah laporan utama mengenai RAPBN yang semakin ramping, yang dipersiapkan dalam waktu yang "ramping" pula.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Diskusi dengan arsjad anwar

Indonesiana

Diadili gara-gara masuk kantor polisi

"bimbo...guk...guk!..."

Divonis karena menodai sang saka

Buku

Saksi rezim demokrasi terpimpin

Mencari tuhan di baitil ka'bah

Rehal-zaim uchrowi

Unknown

Mencegah Perang Di Tahun Macan

Indikator

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

Mayoritas Orang Indonesia Cari Info Soal Seks Via Online

Seni & Hiburan

Da'i Bachtiar Kritik Soal Kontroversi Izin Konser Lady Gaga

Metro

Telepon Darurat Kebakaran 113 Sulit Dihubungi  

Bisnis

Bank Nagari Masuk Bursa Tahun Depan  

Di Natale Incar Posisi Penyerang Tengah Italia  

Nasional

Siapa Pemilik Akun Twitter Triomacan2000?  

2014, Pabrik Baru Honda Indonesia Rampung  

Peti Jenazah Warga Rusia Dikirim Malam Ini  

Teknologi

Unik, Spesies Katak Beracun Pedalaman Panama  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif