• Home
  • 07 Juni 1986
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 07 Juni 1986

    Komisi, Untuk Persaudaraan

    SEBUAH bom waktu dipasang Erwin Pardede, Sekjen Gapensi (Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia), di Departemen Pekerjaan Umum. Kalau meledak, banyak pejabat niscaya akan bergelimpangan dari kursinya. Sebab, bom yang dipasang itu berisi tuduhan keras: tentang komisi dalam jumlah besar kepada pimpinan proyek (pimpro)dan kepala kantor wilayah (kakanwil) PU Sumatera Utara. Biasa? Yang mengagetkan dari pernyataan Erwin di DPR, pekan lalu, itu adalah besarnya komisi: sampai 29% dari nilai proyek. Skenarionya kira-kira begini: Mula-mula kontraktor harus menyerahkan komisi 18% sebagai jaminan untuk memperoleh proyek - 16% kepada kakanwii dan sisanya kepada panitia tender. Lalu 11% lagi harus disetorkan kepada oknum-oknum yang menangani proyek bersangkutan. Setoran semacam itu sebenarnya dianggap sudah lumrah. Tapi kasus itu terpaksa dibeberkan, "Karena mereka minta komisi sampai keterlaluan," kata Erwin. Pendek kata, sejumlah pejabat di sana baru mau memberikan proyek kalau kontraktor bersangkutan berani memberikan komisi tinggi, pukul rata di atas 25%. Menurut Erwin, jika seorang kontraktor tidak berani memberi, jangan harap akan pernah menang tender. Yang dikhawatirkannya, kalau persentase komisi yang diminta begitu besar, maka tidak tertutup kemungkinan proyek akan menyimpang dari bestek. "Dan, artinya, kualitas bangunan hasil kerja kontraktor pun sulit dipertanggungjawabkan," tambahnya. Syukur, Menteri PU Sujono cepat menanggapinya, dengan memanggil sejumlah pejabat, termasuk Kakanwil PU Sum-Ut, untuk mengecek kebenaran dakwaan itu. Ketua Bappenas Dr. J.B. Sumarlin sendiri hanya memberi komentar pendek: kalau semua pernyataan itu benar, maka volume pembangunan jadi berkurang. Tidak jelas siapa yang memulai. Tapi, tentu terbuka kemungkinan, kontraktor juga turut aktif karena harus bersaing. "Dan mereka sendiri butuh pekerjaan," tambah Sumarlin. Peluang bermain memang terbuka mengingat jumlah kontraktor anggota Gapensi kini sekitar 35 ribu perusahaan - dan setlap tahun masih bertambah 30% - sementara volume dan nilai pekerjaan makin menciut. Akibatnya, seperti kata Erwin, "Orang terpaksa melakukan cara apa pun untuk mendapatkan proyek." Salah satu contohnya, Proyek Irigasi Simalungun. Proyek yang terdiri dari 34 paket itu, nyatanya, hanya dilaksanakan sekelompok pengusaha swasta dan tiga BUMN. Di Sum-Ut, tempat 5.500 anggota Gapensi mencari nasi, kabarnya sudah lumrah kalau harus menyisihkan dana 35% dari nilai proyek untuk pelbagai keperluan baik yang menyangkut proyek itu maupun tidak. Seorang kontraktor, yang jadi korban permainan komisi, biasanya hanya menggunakan separuh dari uangnya untuk membangun proyek bersangkutan. "Bisa juga cuma 45% atau 47,5% saja," kata Darma Indra, Direktur Firma Biro Hasrat Utama, Medan, yang menganggap kejadian itu sudah berlaku umum. Di Jawa Tengah kejadiannya malah cukup edan. Perang harga, menurut Imam Syafei, Sekretaris Umum Gapensi Ja-Teng, dianggapnya sudah menjurus pada ikhtiar menawar proyek dengan nilai tak logis. Sejumlah kontraktor kabarnya sampai berani mengajukan harga hanya 70% dari nilai Daftar Isian Proyek (DIP). Contohnya Proyek Irigasi Kali Sapi di Purwokerto lolos dengan harga Rp 177 juta, kendati DIP-nya Rp 230 juta. "Kalau 'nawarnya cuma 10% di bawah DIP, masih logis. Tapi kalau sebegitu, sudah gila," katanya. Proyek Irigasi Kedung Waru, dengan DIP Rp 316 juta, juga sudah diserahkan kepada kontraktor dengan harga hanya Rp 208 juta, atau kurang dari 66% dari yang tercantum di DIP. Jegal-jegalan memang jadi terbuka gara-gara anggaran untuk PU di sana pada 1986-1987 ini tinggal separuh tahun anggaran lalu yang mencapai Rp 70 milyar. Sementara itu, jumlah kontraktor menggelembung dari 3.000 ke 4.000 perusahaan. "Berapa pun harganya disikat, jadi wajar kalau ada penyimpangan dari bestek," tambah Imam kepada wartawan TEMPO Yusro M.S. Di Bandung, sebuah perusahaan, yang biasa mengerjakan elemen-elemen estetik sebuah proyek, menganggap lumrah menyetorkan komisi 20% dari DIP kepada pimpro. Tapi kalau berhubungan dengan instansi tertentu, jangan kaget, komisinya bisa sampai 40%. Tidak semua proyek diperoleh lewat tender. Sebagian didapat dengan berperanan sebagai subkontraktor. Sementara itu, sikap para kontraktor dalam menghadapi pimpro tampaknya serba salah. Tidak berbaik-baik, rezeki bisa amblas. Berbaik-baik, ongkosnya mahal. Dalam pilihan sulit seperti itu, kontraktor di Yogyakarta menganggap wajar pemberian komisi itu. "Mereka 'kan yang punya kuasa, dan kita punya keuntungan, jadi ya dibagi-bagilah," kata seorang kontraktor. "Hidup 'kan tidak untuk cari musuh, tapi cari saudara." Orang boleh tidak setuju dengan sikap itu. Juga terhadap cara-cara sejumlah kontraktor anggota Gapensi memperoleh kenaikan kualifikasi dengan membayar pada instansi penguji. Dengan makin tinggi kualifikasi kontraktor - yang terbagi dari jenjang paling rendah C (1,2,3), B (1,2), dan paling tinggi A - maka kemungkinan mereka memperoleh proyek besar yang bisa menghasilkan keuntungan. gemuk sekali tembak makin bertambah besar. Saingan di atas juga tidak banyak mengingat kontraknya bernilai Rp 500 juta ke atas. Tapi untuk yang golongan C dengan nilai kontrak Rp 20 juta- Rp 100 juta peminatnya banyak sekali. Karena peminat banyak, penyelewengan dan setoran komisi pun paling galak terjadi di lapisan proyek bawah ini. Permainan memang jadi makin seram kalau anggota Gapensi di daerah yang paling banter berkualifikasi B2, seperti disebut Erwin, berambisi menubruk proyek gajah. Remuk, 'kan? Eddy Herwanto Laporan Biro-Biro Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Keliru jabatan

Surat Dari Redaksi

Beredar lebih awal

Catatan Pinggir

O, anak

Album

Pelantikan pejabat depkeu

Dilantik kasad rudini

Meninggal dunia

Indonesiana

Mencuri untuk kawin

Berstiker "sukarelawan libya"

Seni Rupa

Patung lilin madame indonesia

Buku

Bu suci, guru primadona

Bu suci, guru primadona

TEMPO|interaktif

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

Mayoritas Orang Indonesia Cari Info Soal Seks Via Online  

Seni & Hiburan

Da'i Bachtiar Kritik Soal Kontroversi Izin Konser Lady Gaga

Metro

Telepon Darurat Kebakaran 113 Sulit Dihubungi  

Bisnis

Bank Nagari Masuk Bursa Tahun Depan  

Di Natale Incar Posisi Penyerang Tengah Italia  

Nasional

Siapa Pemilik Akun Twitter Triomacan2000?  

2014, Pabrik Baru Honda Indonesia Rampung  

Peti Jenazah Warga Rusia Dikirim Malam Ini  

Teknologi

Unik, Spesies Katak Beracun Pedalaman Panama  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif