Nasional

Kembali ke Tahun

Orang Jawa, dalam sejarahnya, mempunyai 2 versi penanggalan, yaitu versi tahun Saka & versi Sultan Agung. Keduanya punya dasar perhitungan yang berbeda. Kalender Jawa murni, perhitungannya rumit.
ALKISAH, pengembara Hindu itu pun datang ke Pulau Jawa, dan lahirlah, antara lain, kalender. Sejak tibanya Aji Saka itulah manusia Jawa punya penanggalan yang disebut "tahun Saka". Benarkah begitu ? Entahlah.

Yang jelas, kalender ini tak sama dengan kalender Jawa yang sekarang dipakai. Yang sekarang ini terpengaruh oleh kalender Islam, dan merupakan produk kerajaan Mataram di abad ke-17. Maka, bisa diduga bahwa keinginan kembali ke kalender pra-Islam itu seperti yang akhir-akhir ini terdengar, mencerminkan keinginan untuk memperoleh apa yang "murni Jawa" -- atau, kalau tidak, apa yang bukan kreasi Mataram.

Orang Jawa, dalam sejarahnya, memang punya dua versi penanggalan, yaitu versi tahun Saka dan versi Sultan Agung. Keduanya punya dasar perhitungan yang berbeda.

Menurut Karkono Partokusumo, ahli Javanologi terkemuka di Yogyakarta, tahun Saka itu dimulai sejak 15 Maret tahun 78 Masehi. Dan, seperti halnya sistem tahun Masehi, perhitungannya didasarkan atas pengulangan waktu edar bumi mengelilingi matahari atau solar.

Dalam legenda Jawa, tahun Saka dimulai dengan mendaratnya pengembara Aji Saka di Jawa. Tapi ada pula yang mengatakan, titik awalnya adalah pelantikan raja Salivahana (Aji Saka) di India. Hingga kini, kalender itu masih digunakan oleh penganut agama Hindu di Bali.

Adapun yang sekarang disebut "tahun Jawa" adalah versi Sultan Agung, raja terbesar Mataram, yang memberlakukannya sejak 8 Juli 1633 Masehi. Ia mendasarkan perhitungannya pada waktu edar bulan mengelilingi bumi (lunar), seperti dalam penanggalan Islam. Perbedaan satu tahun sistem solar dan satu tahun sistem lunar biasanya berkisar sekitar 11 hari setiap tahunnya.

Perubahan kalender Jawa oleh Sultan Agung itu dilakukan pada 1555 tahun Saka. Sang Raja mengumumkannya lewat sebuah dekrit tepat pada saat tahun baru Islam, 1 Muharam 1403 Hijriah. Dalam kalender Jawa, hari itu lebih dikenal sebagai 1 Suro tahun Alip 1555. Alasannya, menurut Karkono, "Sultan Agung melakukan itu untuk memusatkan kekuasaan agama dan politik pada dirinya."

Dengan tujuan itu pula Sultan Agung tak hendak melepaskan unsur lama. Kalendernya ternyata tak 100% mengikuti sistem kalender Hijriah. Menurut Karkono, baginda ingin agar perayaan Grebe Mulud pada tahun Dal harus jatuh pada hari Senin Pon, yang dianggapnya sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad.

Senin Pon? Orang Jawa mengenal 5 hari pasaran dalam seminggu -- Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Itu sebetulnya tak dikenal dalam kalender Islam. Tapi, seperti banyak unsur luar yang masuk ke Jawa, banyak hal jadi berbaur dengan warna setempat. Salah satunya adalah kepercayaan tentanK hari pasaran itu. Walhasil, nama bulan dan jumlah hari setiap bulan pada sistem kalender Sultan Agung ini pun tak sepenuhnya sama dengan sistem Hijriah.

Karena itu, kalau ada pihak yang ingin kembali ke kalender Jawa murni, perhitungannya sangat rumit. Apalagi selain sistem tahun Saka, masih ada sistem penanggalan Jawa lain, seperti Pranatamangsa yang kendati juga menggunakan sistem solar memiliki 12 bulan yang berbeda dengan Saka. "Saya sendiri tak tahu bagaimana cara menghitungnya," kata Karkono.

Bagaimanapun caranya, menyusun sebuah kalender berarti menghitung dan mengatur waktu kehidupan. Tak mengherankan bila menetapkan berlakunya sebuah kalender sering merupakan langkah pertama raja-raja yang berkuasa, baik di Jawa, di Cina, maupun di kekaisaran Romawi. Sebuah kalender mau tak mau akan menyangkut gerak di alam semesta dan dalam pertumbuhan manusia. Dengan kata lain, di sana ada soal kekuasaan, ada soal misteri.

Apakah itu gerangan yang menyebabkan kalender jadi soal, di abad ke-17 dan di abad ke-20 ini, jawabnya hanya siapa tahu.

Bambang Harymurti (Jakarta)
POKOK & TOKOH

Kelahiran anaknya

Lenny marlina melahirkan anak laki-laki. ia merasa kesepian sebelum mengandung anaknya. selama hamil ia rajin salat sunah & salat dhuha. ia dianjurkan berpuasa oleh guru mengajinya, tapi ia tak sanggup.

KOLOM

Slamet iman santoso

Tahun akademik 52/53 diresmikan jurusan psikologi fkui, sesuai saran prof. slamet dalam pidatonya dengan tema "the right man in the right place". motto psikologi yang dikembangkan beliau : lambat tapi pasti.

CATATAN PINGGIR

Abunawas

Abunawas, pujangga yang lahir abad ke-8 di Ahvad dan meninggal di Baghdad pada awal abad ke-9. Abunawas membuka jalan baru dengan sajak-sajak yang mabuk anggur, Khamriyyat & dianggap modern yang ramah pada hidup.

TempoInteraktif

Sepakbola
Christian Abbiati Waspadai Semangat Torino
-----------------
Olahraga_lain
David Haye Siap Tantang Vitali Klitschko
-----------------
Luarnegeri
PBB Serukan Penghapusan Hukuman Mati
-----------------
Kesehatan
Di Jerman, Sepeda Statis Bisa Menyebabkan Kanker
-----------------
F1_moto_gp
Rossi: Saya Bisa Jadi Pembalap Formula Satu yang Bagus
-----------------
Musik
Placebo Akan Konser di Biara Angkor Wat
-----------------
Sepakbola
Diego Milito Abaikan Real Madrid
-----------------
Sepakbola
Gallas Kecam Temperamen Pemain Muda Arsenal
-----------------
Sains
Operasi Cangkok Batang Tenggorokan Sukses
-----------------
Hukum
Yusril Tinggalkan Gedung Bundar
-----------------