• Home
  • 03 Oktober 1987
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Desain
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 03 Oktober 1987

    Koneksi Berkeley dari Jepang

    JEPANG tampaknya masih serius ingin membantu ekonomi Indonesia. Pekan ini, Selasa malam, Direktur Jenderal Keizai Kikakucho (Badan Perencanaan Ekonomi Jepang) Tetsuo Kondo mendarat di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta. Sebuah kunjungan yang tak pernah dilakukan oleh para pendahulunya. Dia akan mengadakan serangkaian pembicaraan dengan Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri Ali Wardhana, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Ketua Bappenas Sumarlin, serta Menteri Keuangan Radius Prawiro. "Kunjungan yang amat penting," ujar seorang pejabat di Bappenas. Kondo adalah pejabat yang paling bertanggung jawab mengontrol kredit lunak pemerintah Jepang. Dan Indonesia adalah klien terbesar. Menurut laporan IGGI, selama 17 tahun terakhir sudah 885 milyar yen atau sekitar Rp 8,9 trilyun disisihkan pemerintah Jepang bagi Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 501 milyar yen sudah diberikan (disbursed) berupa pinjaman lunak dan setengah lunak. Seperti ikut prihatin menghadapi ekonomi Indonesia yang lagi sakit, lembaga di bawah Kondo itu kini tak lagi kelewat campur tangan dalam proyek yang disuntik oleh kreditnya. Untuk tahun ini saja, Keizai Kikakucho sudah menyerahkan 600 juta dolar AS kepada Indonesia. Hebatnya, 200 juta dolar di antaranya bebas digunakan oleh pemerintah RI, kendati untuk membiayai proyek yang tak ada hubungannya dengan Jepang atau untuk mengisi APBN. Proyek-proyek yang dibiayai Bank Dunia pun ikut selamat. Sebanyak 100 juta dolar lainnya khusus digunakan untuk menyediakan dana rupiah, yang sampai sekarang masih jadi persyaratan utama bank itu. "Tanpa dana itu sulit dibayangkan, betapa runyamnya nasib kredit yang sudah telanjur diterima dari Bank Dunia," ujar pejabat itu lagi. Sedangkan sisanya diberikan sebagai pinjaman baru dengan syarat seperti biasa: Untuk proyek yang melibatkan pemerintah atau swasta Jepang. Sementara itu, pemerintah Jepang juga sudah berjanji untuk menyiapkan lembaga khusus yang diberi nama Dana Industrialisasi ASEAN. Menurut janji Menteri MITI dan Menlu Jepang Tadashi Kuranari, lembaga itu akan dimodali 2 milyar dolar untuk membantu pembiayaan dan investasi langsung pada proyek-proyek swasta setempat. Masih banyak yang bisa dipetik dari rencana kunjungan pejabat penting dari Tokyo yang setingkat menteri tersebut. Berikut ini wawancara khusus Seiichi Okawa, Kepala Biro TEMPO di Tokyo, dengan Tetsuo Kondo dikantornya, Senin pekan ini. Latar belakang kunjungan Anda? Saya sering dikunjungi oleh orang-orang penting Indonesia. Antara lain Sumarlin, Radius Prawiro, dan Ali Wardhana. Karena itu, sudah sewajarnya kalau saya membalas kunjungan mereka. Selain itu, saya kebetulan juga belajar ekonomi dari Universitas Berkeley di AS, jadi kunjungan saya sekaligus juga untuk menghadiri acara kangen-kangenan sesama alumnus Berkeley di antara menteri perencanaan ekonomi dua negara. Tapi apa sebenarnya tujuan kunjungan. Ada lima masalah. Pertama, membahas masalah pengaturan kebijaksanaan ekonomi makro. Misalnya soal peranan Jepang dalam pembangunan di masa datang. Kedua, meninjau proyek-proyek yang didanai Jepang, untuk mempelajari dan memperbaiki konsep-konsep kerja sama di masa depan. Ketiga, mempelajari situasi ekonomi Indonesia saat ini lewat diskusi dengan para pengusaha. Keempat, saya akan bertemu dengan para pengusaha Jepang di Indonesla agar mengetahui kebutuhan apa saja yang diperlukan untuk meningkatkan hubungan ekonomi. Terakhir, saya akan membahas kerja sama ekonomi Jepang, ASEAN, dan Pasifik. Soal ekonomi Indonesia? Bagi Indonesia yang paling penting adalah bagaimana mempertahankan keseimbangan neraca perdagangannya. Tanpa inflasi, tentunya, agar pertumbuhan itu bisa stabil. Indonesia sangat terpukul oleh yendaka makin menguatnya nilai yen terhadap dolar, yang membuat cicilan utangnya adi makin berat. Jepang juga menyadari betapa beratnya beban cicilan yang harus dibayar Indonesia. Karena itu, Jepang sedang memikirkan hal-hal yang dapat meringankan beban itu. Tapi utang tetap harus dibayar. Dari segi perdagangan dan investasi sebenarnya yendaka malah mendorong ekspor Indonesia ke Jepang. Sebaliknya, para pengusaha Jepang jadi makin bergairah membuat usaha patungan di Indonesia. Tapi di ASEAN ada ketidakpuasan karena tertutupnya pasar Jepang. Kalau memang terbukti, Jepang harus lebih membuka pasarnya. Saya kira, kalau Jepang menutup pasarnya bagi ASEAN, akan rugi sendiri. Jepang malah harus membeli barang dari kawasan itu agar mereka lebih mudah mencicil utang. Ada suara-suara yang menginginkan Jepang memperluas jangkauan bantuan ekonominya. Jepang sudah melakukan makronisasi bantuan ekonominya. Lihat saja semula bantuan yang diberikan hanya terbatas pada pembangunan infrastruktur. Misalnya pembangunan jalan atau pembangkit listrik. Sekarang, itu meliputi penyediaan dana lokal dan perbaikan struktur ekonomi. Keizai Odyukai (Organisasi Pengusaha Jepang) pernah mengimbau agar pemerintah Jepang meningkatkan bantuan menengahnya lewat Bantuan Pembangunan Pemerintah (ODA) sebesar 10 milyar dolar. Sementara itu Kongres AS pekan silam mengusulkan bantuan itu ditingkatkan sampai 3 persen dari GNP sampai akhir 1992. Perlu diketahui, kini Jepang memiliki piutang 200 milyar dolar, terbesar di dunia. Tapi itu juga milik swasta. Sedangkan pemerintah Jepang sendiri mempunyai utang 150 trilyun yen kepada negara. Jadi, kemampuan pemerintah untuk meningkatkan bantuan ekonominya terbatas. Nah, karena itu, pemerintah mengarahkan agar dana sektor swasta bisa dijadikan bantuan ekonomi. Itulah tema besar kebijaksanaan ekonomi saat ini.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Nama foto

Surat Dari Redaksi

Muncul rubrik baru

Energi

Enak bagi pemakai rugi bagi ...

Album

Pelantikan

Pelantikan

Pelantikan

Buku

Kebebasan pada setumpuk penafsiran

Kebebasan pada setumpuk penafsiran

Lubuk danarto

DUS

Komandan gila-gilaan

Garong cara italia

Protes si bisu

Seni Rupa

Dunia fantasi nashar

Indonesiana

Pengantin kecoak

Pengantin tokek

Pengantin bola

Ilustrasi

Buku ajaib tuan fujiwara

TEMPO|interaktif

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

Mayoritas Orang Indonesia Cari Info Soal Seks Via Online  

Seni & Hiburan

Da'i Bachtiar Kritik Soal Kontroversi Izin Konser Lady Gaga

Metro

Telepon Darurat Kebakaran 113 Sulit Dihubungi  

Bisnis

Bank Nagari Masuk Bursa Tahun Depan  

Di Natale Incar Posisi Penyerang Tengah Italia  

Nasional

Siapa Pemilik Akun Twitter Triomacan2000?

2014, Pabrik Baru Honda Indonesia Rampung  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif