• Home
  • 14 November 1987
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni Grafis
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 14 November 1987

    Tewasnya si Gembala Sapi

    SAIPIN bin Pulo, 49 tahun, dilarang Nyi Incen, istrinya. Jangan bertemu dengan Djodang. Tapi tak ketemu dengan si jawara itu, ia ditangkap hansip. Ia dibawa ke Balai Desa Jaya Sakti, Kecamatan Cabang Bungin, Bekasi, Jawa Barat. Di situ menunggu aparat desa dan delapan penduduk yang menuduh Saipin mencuri kerbau. "Sungguh, saya tak mencuri," ujar Saipin. Tapi, 19 Oktober itu, ia dibawa kc Polsek Muara Gembong. Saipin tak diizinkan pulang. Selang lusa, empat polisi ke rumah Nyi Incen. Dua masuk dan membuka lemari, lalu melongok ke kolong amben. Yang dicari: Saipin. "Dia lari dari tahanan," kata polisi itu. Lari? Ke mana? Padahal, hari itu sudah ada berita, "Saipin meninggal di kali." Sebelum magrib, 21 Oktober lalu, mayatnya ditemukan Haji Awang di Sungai Citarum. Darmin, anak kedua Saipin, menyaksikan mayat ayahnya terbungkus tikar di kantor polisi. Bagian kanan kepala hancur, matanya masuk ke dalam, lehernya terkuak Dinihari besok, mayat itu dibawa ke KSU Bekasi, lalu diotopsi di RSCM, Jakarta. Dalam perjalanan mengantar jenazah, Darmin ditegur polisi. "Bapak kamu sih bader (bandel), Min. Dilarang pulang, kok pulang," kata polisi. Jadi, kematian Saipin masih tanggung jawab polisi. Kapolres Bekasi, Letkol Jusuf Mofid, menyanggah. "Ia tak ditahan. Hanya dimintai keterangan," katanya. Tapi kenapa di hari kematiannya, Saipin dicari? LBH Jakarta, yang jadi kuasa keluarga Almarhum, sudah minta penjelasan pihak polisi. Sementara itu, Djodang, sehari setelah kematian Saipin, ditangkap di Tanjungpriok. Ia diperiksa di Polres Bekasi. Setelah sehari, ia dibebaskan. Kemudian, Peltu Manggis Wira akhir Oktober lalu dimutasikan ke Polres Bekasi. Ada kaitan dengan kematian Saipin? Menurut Letkol Yusuf Mofid, "Ia sedang dimintai keterangan." Saipin, si penggembala dan buruh tani. Selama 20 tahun, ia angon (menggembala) 62 ekor kerbau dan sapi milik 23 penduduk. "September lalu, Djodang minta delapan ekor miliknya. Belakangan ia minta lagi sembilan ekor, tapi bukan milik dia. Main paksa," tutur Kainan, yang melapor ke Jakarta, seperti ditirukan Abdul Fickar Hadjar, S.H., humas LBH. Kerbau jarahan itulah yang dituduh telah "dicuri" Saipin. Kainan, 20 hari sebelum kematian ayahnya, bersembunyi, entah di mana sekarang. Ia takut pada Djodang?

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Analisa swot sambil piknik

DUS

Digilas ka tak sembuh juga

Pembunuh pasien rumah sakit

Di mana mexico ?

Album

Pelantikan

Pelantikan

Meninggal Dunia

Agama

Seminar encer di jember

Kepercayaan

Perjalanan karuhun ditambah "z"

Catatan Pinggir

Belinsky

Tari

Wor k'bor di gedung kesenian

Indonesiana

Codot, codot codot, codot

Plok, pembalut itu

Ulah ikan pepuyuk

Buku

Berakhir dalam kesepian

Warisan atlas dunia

Rehal

Seni Rupa

Emosi purba popo

Keramik yang kontras

TEMPO|interaktif

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

Mayoritas Orang Indonesia Cari Info Soal Seks Via Online  

Seni & Hiburan

Da'i Bachtiar Kritik Soal Kontroversi Izin Konser Lady Gaga

Metro

Telepon Darurat Kebakaran 113 Sulit Dihubungi  

Bisnis

Bank Nagari Masuk Bursa Tahun Depan  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif