• Home
  • 21 November 1987
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Desain
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 21 November 1987

    Godaan Buat Kesetiaan

    SEJARAH televisi kita membuka lembaran baru. Pekan lalu, Menteri Penerangan Harmoko telah menyalakan lampu hijau bagi Siaran Saluran Terbatas (SST) -- siaran yang hanya dapat ditangkap pemirsa setelah pesawat televisi mereka dilengkapi peralatan pengurai gambar decoder). Tapi program SST, yang sementara terbatas untuk khalayak Jakarta dan sekitarnya baru akan ditayangkan September tahun depan. Kehadiran SST masih memerlukan proses panjang. "Membuat SST bukan seperti membuat telur ceplok yang sekali jadi," kata' Menper Harmoko ketika menerima wartawan TEMPO Mohamad Cholid dan Suhardjo Hs untuk sebuah wawancara khusus mengenai SST. Petikannya: Apa latar belakang kelahiran SST? Sudah saatnya meninjau kembali program-program sarana televisi yang disajikan selama ini. Upaya pengembangan yang mungkin adalah menambah program siaran melalui saluran terbatas. Ini sesuai dengan strategi penerangan dan komunikasi kita. Perlunya sebuah siaran tambahan sebenarnya sudah muncul ketika siaran niaga di TVRI dihapuskan pada 1981. Pada 1984, penelaahan dan studi yang mengarah ke sana dimulai. Hasilnya adalah SST ini. Pelaksanaannya kami percayakan kepada swasta: Rajawali Citra Televisi Indonesia. Mereka nanti akan memiliki stasiun pemancar sendiri. Ketika saya menghadap Bapak Presiden, beliau menekankan agar isi siaran SST bersifat edukatif, informatif, dan menyajikan hiburan yang sehat. SST lebih dari semacam radio swasta, yang hanya berkewajiban menyiarkan warta berita. Pada dasarnya, SST adalah pendukung TVRI sebagai penyelenggara SSU (Siaran Saluran Umum). Karena itu, SST berada di bawah pengawasan dan pengendalian TVRI. Hal-hal teknisnya akan ditentukan dalam sebuah surat perjanjian kerja sama antara pelaksana SST dan TVRI. Pada SST akan ada siaran niaga. Karena itu, dengan pertimbangan supaya tidak menularkan gejala konsumerisme ke desa-desa, siarannya dibatasi hanya untuk Jakarta dan sekitarnya. Mengapa Rajawali yang ditunjuk sebagai pelaksana SST? Ada beberapa pertimbangan. Siaran televisi adalah sarana strategis, perlu ada pengamanan teknologinya. Dan kami menyadari pula bahwa investasi untuk SST tidak sedikit, puluhan milyar, maka kami pilih swasta yang kuat. Yang lebih penting, hanya Rajawali satu-satunya swasta yang secara resmi mengajukan permohonan menjadi penyelenggara SST kepada Departemen Penerangan. Jika nanti, setelah berjalan setahun, menurut evaluasi, SST hasilnya baik, ada kemungkinan akan dikembangkan ke kota-kota besar lainnya, seperti Medan, Semarang, dan Surabaya. Pihak swasta lain boleh ikut ambil bagian. Jadi, ini bukan monopoli. Bagaimana bentuk pengendalian dan pengawasan SST oleh TVRI? Misalnya, apakah sudah ada pembatasan persentase siaran niaga, hiburan, pendidikan, dan lain-lain? Semua itu masih dalam proses dan penggodokan tim teknis Departemen Penerangan. Mengenai iklan -- materinya terutama dikaitkan dengan gairah pengembangan usaha dan industri dalam negeri -- belum ditentukan berapa persentasenya. Yang jelas, jangan sampai perusahaan merugi, mengingat investasinya sangat besar. Tapi jangan sampai pula pemirsa merasa dijejali terlalu banyak siaran niaga. Mengenai penggunaan teknologi untuk SST, Departemen Penerangan tidak akan melakukan pembatasan. Boleh didatangkan dari mana saja. Ini demi kepentingan pemirsa. Hanya saja, kalau ada komponen yang bisa diambil dari LEN (Lembaga Elektroteknika Nasional), seperti yang dipakai TVRI sendiri, maka ada baiknya memanfaatkan hasil produksi dalam negeri itu. Bagaimana sikap dan persiapan TVRI sendiri dalam menghadapi kelahiran SST ini? TVRI akan terus dikembangkan. Selama ini juga sudah secara optimal diusahakan. Dengan adanya SST, ini merupakan kesempatan bagi TVRI untuk berkompetisi, meskipun kompetisi dalam satu jalur. Tentang persiapan khusus TVRI bahwa kehadiran SST harus diterima sebagai kenyataan. Tapi SSU tetap kita utamakan. Sebab, SST merupakan pendukung siaran umum. Sebaliknya, jika ada siaran SST yang bagus dan memang bisa disebarluaskan, akan kita siarkan pula melalui SSU. Membuat suatu program siaran biayanya tidak sedikit. Kecuali itu, bagi karyawan TVRI ini merupakan tantangan supaya tidak sembrono dan easy going lagi. Selama ini, masih ada oknum TVRI yang begitu. Misalnya memasang caption gambar meleset. Selain itu, sering pula terjadi gangguan teknis dari dalam, yang sebenarnya tidak perlu. Keteledoran itu berarti terletak pada faktor manusianya. Apakah tidak ada kekhawatiran sebagian karyawan TVRI akan pindah ke STT? Kalau ada karyawan mau pindah, silakan. Kami tidak melarang asalkan memenuhi aturan permainan yang baik. Nah, di sini ada ujian kesetiaan bagi mereka sebagai pegawai negeri dan kesetiaan terhadap profesi.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Diskusi ekonomi dan politik

Catatan Pinggir

Droogstoppel

Album

Bintang mahaputra utama kelas iii

Purnawira 16 Pati ABRI

Agama

Bank atau Koperasi Islam?

Agama pertama sesudah pemena

Buku

Pemikiran yang terlalu normatif

Konsensus untuk reaktualisasi

Rehal

Indonesiana

Pelajaran dari kustini

Dendam saechon

Genteng celaka

Seni Rupa

Masmundari, damar kurung terakhir masmundari, damar kurung terakhir

TEMPO|interaktif

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

Mayoritas Orang Indonesia Cari Info Soal Seks Via Online  

Seni & Hiburan

Da'i Bachtiar Kritik Soal Kontroversi Izin Konser Lady Gaga

Metro

Telepon Darurat Kebakaran 113 Sulit Dihubungi  

Bisnis

Bank Nagari Masuk Bursa Tahun Depan  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif